
"Buat apa hp nya dek?"
"Maaf Gus, gak jadi saja."
Gus Al terlihat bingung dengan sikap Alifa. Ia pun beranjak dari duduknya dan berjalan menuju kamar nya. Alifa hanya memandang kepergian laki-laki tampan yang sudah menghipnotis ribuan santri darul Huda dengan pesona nya itu.
Tak berapa lama Gus Al kembali ke samping Alifa dengan memegang ponselnya.
"Ini..!" ucap Gus Al sambil memberikan hp nya pada Alifa.
"Kan saya sudah bilang gak jadi gus."
"Sudah kamu pakai dulu. Tadi kamu mau apa? Ini kamu pakai dek..!"
Alifa jadi bingung, ia merasa gak enak sudah lancang meminjam hp milik Gus Al ini.
"Gak Gus, terimakasih. Saya tadi mau telpon ayah saya tapi gak jadi. Mungkin beliau jam segini tentu sangat sibuk."
"Jangan alasan, ini kamu ambil dan kamu pakai telpon ayah kamu dulu."
Mau tak mau Alifa pun mengambil hp dari tangan Gus Al. Ia bingung harus berbuat apa. Ia menatap wajah teduh di samping nya itu. Alifa pun spontan membuang muka ke arah lain untuk menghindari tatapan Gus Al yang juga memperhatikan nya itu.
Kemudian ia kembali melihat ke arah hp yang baru diterimanya. Berulang kali Alifa berusaha membuka hp tersebut. tapi ternyata harus memakai sandi untuk membuka nya. Alifa kembali melihat ke arah Gus Al yang sedang tersenyum.
"Sini pakai sidik jari ku bentar."
Setelah jari Gus Al menempel di belakang hp yang di pegang Alifa, hp tersebut akhirnya bisa menyala. Dan terlihat jelas wallpaper layar depan hp tersebut.
'Sungguh begitu indah ciptaan Tuhan.' batin Alifa berkecamuk sambil memperhatikan wallpaper layar depan hp tersebut tanpa bersuara.
"Kenapa diam dek, terpesona dengan saya ya..?" ucap Gus Al sambil terkekeh.
Alifa mendengus kesal dengan candaan receh putra tunggal kyai Abdullah tersebut.
"Gus, ini hp nya. Saya telpon nanti saja "
"Ya kamu pegang saja lah kalau telpon nya nanti. Kamu bawa ke asrama juga gak papa. Gak bakal ada yang berani menghukum."
Alifa tak menanggapi kata-kata Gus Al yang menurutnya sangat menyebalkan itu. 'Bagaimana bisa ia bilang suruh bawa hp nya ke asrama. mau di taruh di mana ini muka jika ketahuan Zia dan Sofi jika dirinya membawa hp punya putra tunggal kyai Abdullah ke asrama. Mau bikin heboh asrama atau gimana ini orang.' batin Alifa.
Alifa menghela nafas pelan kemudian ia berbicara dengan lirih ke arah Gus Al.
"Maaf Gus Al.., saya harus kembali ke asrama dulu. Saya sudah di sini terlalu lama. Dan ini hp nya saya kembalikan. saya telpon ayah nanti di ruang telpon saja."
"Apa kamu lupa dek, tadi ummi bilang apa."
"Tapi saya tidak bisa lama-lama di sini Gus apalagi hanya....!"
Belum selesai Alifa berucap terdengar suara ummi dan kyai yang baru datang dari dalam.
__ADS_1
"Bagaimana, sudah selesai?"
"Apanya yang selesai, ummi?" tanya Gus Al cepat.
"Dari tadi kalian berdua ngapain."
"Ya bicara biasa aja, ummi." Jawab Gus Al cepat.
"Lalu keputusan apa yang kalian ambil."
Gus Al dan Alifa saling beradu pandang. Mereka berdua bingung harus merespon bagaimana dari ucapan ummi khasanah tersebut.
"Alifa.., bagaimana keputusan kamu dengan keinginan putra ummi?"
Alifa hanya diam membisu tanpa bersuara sedikitpun. Ia lelah berada di sini. Ummi khasanah menanyakan hal yang sangat ruwet menurut nya.
"Alifa..!" Alifa terkejut dengan panggilan ummi yang kedua kali.
"Maaf ummi."
"Semua jangan di jadikan beban nak. Jawab menurut hati kamu."
"Saya bingung ummi."
"Bingung karena hal apa?"
"Tapi dek..!"
"Al.., dengarkan pendapat Alifa dulu."
Gus Al langsung terdiam dengan teguran orang yang sudah melahirkan nya itu.
"Maaf ummi..,kyai.., jujur saya terkejut dengan semua ini. Semua tak terbayang oleh Saya sebelum nya. Saya akui, saya memang kagum dengan Gus Al. Beliau baik, sopan, sederhana dan tentu laki-laki sholeh seperti beliau bisa membimbing kita kaum wanita untuk menjadi orang yang lebih taat pada Allah dan Rasul-Nya. tapi bukan berarti saya harus menerima kenyataan ini saat ini juga ummi. Saya tidak menolak Gus Al, saya juga tidak menerima untuk saat ini. Semua perlu di bicarakan dengan orang tua tentunya. apa jadinya jika saya memutuskan hal sebesar ini tanpa bicara dengan orang tua terlebih dahulu, apalagi usia saya masih sangat dini untuk berumah tangga."
"Gus, ini hp nya."
Gus Al terdiam dengan raut wajah yang di tekuk. Entah apa yang membuat Gus Al seperti itu.
"Kamu pegang dulu saja dek."
Ummi khasanah dan kyai Abdullah saling beradu pandang melihat kelakuan putra tunggal nya itu yang terlalu berharap banyak pada Alifa.
"Al.., kamu sudah dengar sendiri jawaban Alifa kan. Sekarang bagaimana dengan kamu..?"
Ummi khasanah dan kyai Abdullah melihat ke arah sang putra yang terlihat gusar dan bingung.
"Al...?"
Gus Al hanya diam menyandar di sandaran sofa yang dia duduki. Ia tak bergeming sedikitpun dengan panggilan ummi khasanah.
__ADS_1
"Maaf ummi.., kyai.., apa saya sudah bisa kembali ke asrama?"
"Jangan dulu dek." dengan spontan Gus Al berucap untuk menghalangi Alifa yang ingin pergi dari ndalem.
"Ummi.., Abi.., tolong izinkan Al bicara dengan Alifa di depan sana."
"Apalagi yang akan kamu bicarakan Al.., Alifa sudah memberi jawaban. Kalau kamu bener-bener serius kamu bisa menunggu Alifa sampai dia lulus kuliah. Kamu dengar sendiri kan apa yang Alifa inginkan. Kamu jangan egois, Al..!"
"Itu terlalu lama, ummi."
Ummi khasanah dan kyai Abdullah saling beradu pandang dan menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku putra tunggalnya itu yang begitu sangat ingin mengkhitbah Alifa.
"Baiklah Al.., Abi izinkan kamu bicara dengan Alifa di depan situ. Tapi ingat..! jangan macam-macam dengan anak orang. Abi dan ummi mu ke dalam dulu. Ingat Al.., jangan macam-macam."
"huft.., mau macam-macam gimana, satu macam aja gak kelar-kelar." dengus Gus Al dengan kesal mendengar ucapan Abi nya.
Ummi khasanah dan kyai Abdullah hanya menggeleng mendengar jawaban putra tunggal nya. Kemudian mereka berdua berjalan meninggalkan tempat dimana Alifa dan Gus Al berada.
"Maaf Gus, saya permisi dulu mau ke asrama. Banyak hal yang harus saya kerjakan. saya takut teman-teman dan ustadzah mencari karena saya sudah lama meninggalkan asrama."
"Jangan pergi dulu dek."
"Kenapa lagi Gus, tolong jangan begini."
"Kita pindah ke depan situ saja dek."
Gus Al pun beranjak dari duduknya dan berjalan menuju ruang depan. Alifa hanya bisa menarik nafas dalam-dalam dan mengikuti langkah idola santri darul Huda tersebut.
Mereka berdua pindah ke ruang depan yang biasa kyai dan ummi pakai menemui Alifa ketika Alifa sowan di ndalem sini.
Alifa hanya pasrah dengan keadaan ini. Ia sadar sekarang ia berhadapan dengan siapa. Tentu ia mau tak mau harus mengikuti langkah Gus Al.
"Kita duduk di sini dek." ucap Gus Al sambil mendudukkan dirinya di karpet yang berada di dekat sofa ruang depan.
"Gus.., saya harus kembali ke asrama, saya gak bisa lama-lama di sini." ucap Alifa protes dan masih enggan untuk ikut duduk di karpet merah yang terlihat sangat tebal itu. Alifa pun masih berdiri dan menatap kesal ke putra tunggal kyai Abdullah itu.
"Sebentar saja, aku hanya ingin mengasihkan sesuatu padamu dek."
"Apa Gus..!"
"Bisa gak sich jangan Gus Gus terus manggil nya." dengus Gus Al kesal.
"Panggil Al atau mas kan lebih enak sich.''
"Jangan bahas itu lagi Gus, gak penting. Sekarang apa yang akan Gus Al kasihkan ke saya?"
"Makanya duduk sini napa sich, jangan berdiri terus dari tadi."
______
__ADS_1