
"Dasar sinting." Umpat Sofi penuh emosi.
"Elo yang sinting..!" balas Maya tak kalah nyaring.
"Sebenarnya hati kamu terbuat dari apa sich..! Kok ada orang seperti kamu di pondok sini. Tobat kagak.. Tambah nyolot iya. Heran..!" ucap Sofi sambil menggelengkan kepalanya."
Maya terlihat marah dengan ucapan Sofi yang menurutnya keterlaluan. Ia mendekat dan ingin meraih jilbab panjang yang Sofi pakai. Beruntung Sofi bisa menghindar dari tangan Maya yang siap menarik kerudungnya itu.
"Ini di pondok pesantren, jaga adab dan etika kamu. Sedikit sopan jika ingin di hargai orang. jangan hobi bikin huru-hara aja tapi tak mau di salahkan. Kalau mau jadi jagoan sana di pasar, jangan di sini." ucap Sofi sengit.
Ustadzah Arin berusaha mengontrol emosi Sofi. Ia menenangkan Sofi supaya tidak terpengaruh dan terpancing dengan segala kata-kata Maya.
"Elo dan elo, tunggu pembalasanku." ucap Maya sambil menunjuk ke arah Sofi dan Ayunda tepat di depan wajahnya.
Terlihat wajah para ustadzah pun nampak bingung dengan sikap dan perilaku Maya yang tak ada kapok-kapoknya. Ustadzah Nabila hanya bisa menarik nafas berat menghadapi santri asrama nya itu.
"Maya.., sekarang apa mau kamu?" tanya ustadzah Nabila dengan kalem.
Maya terlihat diam dan malas menanggapi ucapan ustadzah Nabila yang bagi dia tidak penting.
Ia tersebut sinis menanggapi kata-kata ustadzah pengasuhnya itu. Ia juga muak melihat Sofi dan Ayunda yang tidak bisa dipercaya dan mengadu pada pengasuhnya.
'Maya.., sekarang apa mau kamu?" ustadzah Nabila mengulangi pertanyaannya yang tak di respon sedikit pun oleh Maya.
''Buang-buang waktu saja." umpatnya lirih. Sambil berdiri dan akan meninggalkan ruang pengasuh asramanya itu.
"Mayaaa...!" teriak ustadzah Nabila dengan suara lantang.
__ADS_1
"Duduk kembali di tempat kamu..!" suara ustadzah Nabila menggema di seluruh ruangan.
Semua yang berada di ruang itu pun terkejut mendengar lengkingan suara seorang ustadzah Nabila yang terkenal paling kalem di antara ustadzah yang lainnya. Tak terkecuali Maya, ia tak percaya mendengar teriakan ustadzah Nabila. Nyalinya nya pun menjadi ciut. Maya akhirnya memilih diam, duduk di tempatnya semula.
Begitu juga dengan ustadzah Arin dan ustadzah lainnya. 'tak di sangka jika sudah emosi, ustadzah Nabila bisa menyeramkan begitu.' semua membatin karena sangat kaget .
Semua nampak terdiam tak ada yang berani berbicara. Terlihat wajah ustadzah Nabila yang menatap Maya dengan tatapan yang sulit diartikan. ustadzah Nabila terlihat menarik nafas dalam-dalam dan membuangnya pelan seakan melepas beban yang berat.
Ustadzah Arin dan ustadzah lainnya pun terdiam melihat drama pagi ini. Semua diluar kuasanya. Tak terbayang sebelum nya bahwa Maya bisa bertindak anarkis meski di hadapan para ustadzah-ustadzah yang mengajar di pondok darul Huda.
"Maya..!" ustadzah Nabila memanggil Maya dengan nada suara yang agak melemah.
Maya masih diam sambil menunduk.
"Maya.., kamu masih bisa dengar suara saya kan..?"
"Sekarang lihat dan tatap saya." ucap ustadzah Nabila dengan tegas.
Maya pun langsung mendongak dan menatap ustadzah Nabila yang sedang menatap wajah nya dengan tatapan yang mengerikan.
"Saya tanya, apa benar kamu yang sudah menyuruh santri dari asrama lain yang bernama Ayunda untuk memberikan bingkisan kepada Alifa?''
"Jawab dengan jujur.., iya atau tidak?" ucap ustadzah Nabila tegas.
"Saya....!"
"Jawab iya atau tidak.''
__ADS_1
Belum selesai Maya berbicara, ustadzah Nabila sudah memotong ucapan nya dengan menekan pertanyaan nya.
"Iya ustadzah." jawab Maya cepat karena takut dengan aura wajah ustadzah Nabila yang menatap Maya dengan tatapan membunuh.
Mendengar jawaban Maya yang spontan membuat ustadzah Nabila menarik nafas berat.
"Kenapa kamu bertindak seperti itu, Maya? Memang nya Alifa punya salah apa sama kamu. Sehingga kamu sangat ingin membuat Alifa celaka. Seharusnya kamu memberi dia ucapan atas torehan prestasi luar biasanya bukan malah membuat ulah dengan cara mengirim bingkisan yang isinya di luar nalar seperti itu. Kenapa, Maya? Kenapa kamu berbuat seolah kamu ini bukan seorang santri?"
"Kamu tau, jika tindakan kamu itu sangat membahayakan orang lain jika orang tersebut punya alergi..?"
"Maafkan saya ustadzah."
Semua yang berada di ruang pengasuh hanya diam membisu tanpa ada yang bersuara. Hanya ustadzah Nabila saja yang bersuara untuk menyadarkan santrinya itu dari tingkah anarkis dan meresahkan santri lainnya.
"Maya.., apa menurut kamu tindakan kamu itu sangat benar."
"Tidak ustadzah." jawab Maya cepat. Ia sadar memang perbuatannya yang mengirim bingkisan berisi ulat bulu untuk Alifa sangat membahayakan orang lain. Bahkan ia sadar jika mengancam Ayunda dengan mengguyur ulat bulu ke badannya jika tidak mau membantu mengasihkan bingkisan itu untuk Alifa adalah tindakan yang sudah menyalahi aturan pondok pesantren. Maya sekarang sadar setelah ustadzah Nabila berteriak keras. Seorang ustadzah yang biasa berkata lembut dan kalem akan jengkel juga bila terus-terusan menghadapi santri asramanya selalu berulah urakan.
Maya terlihat menitikkan airmata nya. Iya menyesal selama ini ia sangat keterlaluan selama berada di pondok pesantren. Ia selalu berbuat huru-hara dan selalu mencari musuh di dalam pondok.
Ustadzah Arin dan ustadzah Nabila saling beradu pandang melihat Maya yang menangis lirih. Ia gak menyangka dengan sedikit teriakan dari ustadzah Nabila bisa menyadarkan Maya dari kesalahannya.
"Sa-saya minta maaf ustadzah. saya salah." ucap Maya terbata.
Ustadzah Nabila dengan suara lantang dan tegas akhirnya mengintrogasi Maya dengan tatapan mata yang tak lepas dari wajah Maya. Sehingga sedikit pun Maya tak berani menatap mata ustadzah Nabila yang menghujam itu.
Berkali-kali terlihat ustadzah Nabila menghembuskan nafasnya kasar. seakan melepas beban yang berat yang harus di selesaikan.
__ADS_1
__________