Jatuh Cintanya Sang Juara Qori.

Jatuh Cintanya Sang Juara Qori.
Bab 37. Ketakutan Ayunda.


__ADS_3

"Tunggu..! Tolong jangan pergi dulu."


Spontan ustadzah Arin, ustadzah mala dan Sofi menghentikan langkah mendengar ucapan dari seseorang yang berada di sana.


"Tolong jangan membawa masalah ini pada ummi khasanah, ustadzah." ucap santri yang bernama Ayunda tadi.


"Kita tetap akan membawa dan membahas mengenai bingkisan itu pada ummi. Karena saya gak mau hal seperti ini menimpa santri yang lainnya." jawab ustadzah Arin dengan santai.


"Apalagi, siapa yang mengirim bingkisan itu tidak jelas. Dan orang yang menitipkan bingkisan itu ke Sofi tidak mau mengaku."


Semua santri dan ustadzah pengasuh asrama hanya diam seperti bingung dengan keanehan sikap Ayunda.


Awalnya semua santri dan ustadzah pengasuh asrama percaya ketika Ayunda membantah semua tuduhan salah satu santri asuhan ustadzah Arin tersebut. tak mungkin Ayunda yang melakukan tindakan memalukan itu pada Alifa. Apalagi semua tahu, jika Alifa baru memenangkan kompetisi MTQ tingkat provinsi. Dan tentu itu menjadi daya tarik tersendiri bagi Alifa yang memang bukan menjadi rahasia lagi jika Alifa adalah santri kebanggaan darul Huda dengan berbagai kejuaraan yang diraih dalam bermacam perlombaan.


Tapi, melihat tingkah laku dan keanehan yang Ayunda tunjukkan semua jadi ragu. Ayunda dengan terang-terangan memohon pada ustadzah Arin untuk tidak membawa masalah ini pada ummi khasanah. Ayunda seakan takut jika masalah ini sampai di telinga pemilik pondok pesantren.


"Tolong jangan pergi dulu ustadzah Arin, saya bisa jelaskan semuanya." ucap Ayunda sambil menundukkan kepalanya.


"Baik, saya tunggu." jawab ustadzah Arin singkat.


"Ayunda..!!"


Ayunda terus menunduk dan diam seakan enggan untuk membicarakan masalah ini di hadapan semua teman-teman asramanya.

__ADS_1


ia tak menghiraukan panggilan ustadzah pengasuh asrama nya barusan.


"Ayunda..!!" ustadzah pengasuh asrama nya memanggil ulang namanya tapi Ayunda tetap tertunduk.


"Tolong bicaralah nak, ceritakan semua yang sudah terjadi pada kita biar semua cepat selesai dan tidak menimbulkan fitnah."


"Ayunda.., apa kamu mendengar ucapan saya?" tanya ustadzahnya pelan.


Ayunda pun tetap menunduk membayangkan betapa dirinya sekarang tak punya nyali di hadapan semua teman-teman dan ustadzah pengasuh asrama nya.


Ustadzah Arin menghela nafasnya pelan melihat tingkah Ayunda yang terus menerus diam dan menunduk.


Sofi pun maju mendekat ke arah Ayunda. Ia duduk di dekat Ayunda yang masih terus menunduk dan enggan berucap. Ia meraih pundak Ayunda dengan pelan.


Seketika Ayunda mendongak dan memeluk erat tubuh Sofi. Semua santri nampak bingung dengan sikap Ayunda itu.


Ustadzah Arin dan yang lainnya hanya tersenyum samar dan menunggu apa yang terjadi berikutnya. Mereka juga tak mengerti maksud Ayunda seperti itu. Semua ustadzah saling pandang dan mengangguk tanda mengerti jika Ayunda perlu waktu untuk mengumpulkan keberanian nya berkata dengan jujur tentang bingkisan yang dia bawa dan di titipkan pada Sofi.


"Maaf.., Maafkan aku Sofi." ucap Ayunda sambil memeluk erat tubuh Sofi.


Sofi hanya diam, ia bingung harus merespon bagaimana pelukan Ayunda tersebut.


"Aku hanya disuruh oleh seseorang untuk memberikan bingkisan itu pada Alifa."

__ADS_1


Sofi melepas pelukan dari Ayunda. Ia kaget dengan ucapan Ayunda barusan.


"Seseorang..? Siapa..?" tanya Sofi cepat.


"Kata kan yang sebenarnya Ayunda, tolong bicaralah jujur." ucap ustadzah pengasuhnya.


"Maafkan saya ustadzah. Maafkan saya." Ayunda mulai menangis lirih.


"Saya hanya di suruh santri lain ustadzah. Saya di ancam. Saya takut ustadzah."ucap Ayunda lirih sambil mengusap air mata yang mulai luruh.


"Siapa yang menyuruh kamu nak..?"


"Siapa yang berani mengancam kamu. Tolong bicaralah."


Ayunda masih menangis tersedu-sedu. Sofi yang berada di dekatnya pun bingung harus berbuat apa. Ia mengelus punggung Ayunda supaya Ayunda bisa sedikit tenang.


Setelah sekian menit membiarkan Ayunda menangis. Ustadzah Arin pun mendekat ke tempat Sofi dan Ayunda duduk.


"Kamu jangan menangis, kamu jangan takut dengan ancaman santri lainnya. Karena semua yang berada di sini di atur oleh aturan-aturan pondok yang harus di patuhi. Jika melanggar tentu ada sangsi bagi pelaku nya. Jangan takut jika kamu tidak bersalah. Katakan siapa yang mengancam kamu, Ayunda."


"Saya di suruh......!"


______

__ADS_1


__ADS_2