
"He anak udik..!" Ucap Maya ketika melihat Alifa berjalan sendirian menuju kelas.
Alifa sebenarnya sadar kalau ucapan Maya di tujukan untuk dirinya. tapi dia berusaha cuek seakan tak pernah ada Maya. Bagi Alifa ucapan Maya hanya menghambat langkah nya saja.
"Ternyata kamu budek ya Alifa..!" Sentak Maya sambil mendorong badan Alifa.
"Astaghfirullahaladzim Maya..! bisa gak sopan sedikit..!" Alifa teriak karena kaget dan badannya terhuyung ke depan karena dorongan yang kuat dari Maya, untung dia tidak terjatuh.
"Gue dari tadi dah manggil loe tapi loe budek gak menanggapi gue. jadi jangan salahin gue itu salah loe yang abai dengan panggilan gua."
" Heem.., kapan ya kamu manggil aku..May? Apa kamu tadi menyebut nama aku..? atau kamu belum kenal dan tau nama ku. kenalkan namaku Alifa Rizky Aulia. Teman-teman biasa memanggil ku Alifa." ucap Alifa santai sambil mengulurkan tangan ke arah Maya.
Alifa tersenyum ke arah Maya sambil masih mengulurkan tangan. Bagi Alifa menanggapi kata-kata Maya yang agak rusuh tidak perlu pake emosi. cukup di tanggapi santai dan tersenyum.
"Halah..banyak bacot kamu anak udik.minggir..!" Sentak Maya menghempas tangan Alifa yang terulur ke arah nya.
"Kenapa aku harus minggir? Ini jalan bukan jalan kamu dan ini jalan arah ke kelas. dengar ya Maya, coba kamu hargai diri kamu sendiri dengan berucap sedikit sopan supaya orang lain menghargai kamu juga."
"Ini di pesantren Maya, bukan di jalanan jadi jaga sopan santun dalam berucap dan bersikap ya...! hilang kan kata elo gue. ganti kata yang lebih enak. supaya hidup kamu tidak berat. Kalau kamu begini terus-terusan suka nya marah-marah dan mengganggu orang lain tidak mau menghargai gimana orang lain mau menghargai kamu. sedang kamu sendiri tak pernah mau menghargai dirimu sendiri."
"Seharusnya aku memanggilmu kakak padamu May, karena usiamu di atasku beberapa tahun meski kelas kita sama kamu tetap kakak aku tapi berhubung kamu tak bisa dihargai sebagai orang yang lebih tua, jadi yaa... beginilah..! Terpaksa aku manggil kamu Maya tanpa embel-embel kak karena kita teman seangkatan."
Dengan penuh kelembutan Alifa panjang lebar bicara di depan Maya. Sebelum dirinya menuju ke kelas untuk mengikuti jam pelajaran seperti hari-hari biasanya.
meski sebenarnya enggan bagi Alifa berurusan dengan Maya, tapi mau gimana lagi dia selalu muncul dan membuat rusuh suasana.
Huuuft.. 'entah sampai kapan Maya bisa bersikap baik pada diriku dan yang lainnya tapi aneh nya kalau di depan pengasuh dia selalu diam tak banyak tingkah entah takut di hukum atau sebab lain. yang jelas Maya selalu bersikap semena-mena terhadap teman nya. Bahkan hal itu menimbulkan ketidak sukaan dan sering di jauhi teman. banyak orang enggan dekat-dekat dengan Maya. bukan tanpa sebab, mereka tidak mau ribut dengan yang namanya Maya.' batin Alifa.
__ADS_1
******
Lagi-lagi, si anak udik Alifa selalu bisa membantah ucapakan ku dengan alibi nya sendiri. Apa tadi kata nya.. aku harus hilangkan kata loe gue di sini. Dasar udik kampungan Alifa itu. Gak tau bahasa tren apa ya.
'Tapi di pikir-pikir emang benar yang di ucapkan bocah udik itu, kalau aku perhatikan di sini kebanyakan orang selalu berbicara dengan lembut santun terlebih di sini disiplin nya gila banget. apa apa serba terkondisikan dengan bagus.' ucap Maya bermonolog sendiri.
'eh kenapa aku jadi baper dengan ucapan bocah udik itu sich..!' umpat Maya dalam hati dengan dongkol sambil menghentak-hentakan kaki karena lagi kesal dengan ucapan Alifa yang selalu memojokkan dirinya.
Di dalam kelas pun saat belajar si udik itu selalu bisa bikin kesal, gimana tidak ustadzah yang mengajar selalu memberi semangat untuk bocah kampung itu yang kata nya akan di kirim untuk ikut lomba. Tidak hanya itu, teman-teman pun terlalu lebay, mereka antusias memberi semangat ke si udik supaya menang lomba.
" Dasar menyebalkan. hanya lomba begitu saja di kasih ucapan sedemikian dan tu lihat si udik senyam senyum gak jelas. dasar kampungan ." Maya masih sewot ngedumel tidak jelas di meja nya sendiri.
" Maya..kenapa muka mu seperti di tekuk gitu, kenapa terlihat kesal gitu may..?" sapa teman di sebelah bangkunya.
"Gak apa-apa gak usah tanya kayak kurang kerjaan kamu ngurusin urusan orang..noh urus tu temen udik yang senyam senyum kayak orang gila tu." jawab Maya sambil mengarahkan pandangan nya ke arah di mana Alifa berada.
"Lah emang kenapa dengan Alifa, wajarlah dia tersenyum karena teman-teman ngasih semangat ke dia yang sebentar lagi akan bertanding."
"Memangnya kamu bisa seperti Alifa may...?ini ajang Musabaqoh looh..! bukan ajang main-main. gak semua orang bisa. Kalau pun bisa belum tentu mereka mampu seperti Alifa. Lagian kenapa sich kamu kayak yang iri gitu dengan Alifa."
"Aku iri dengan si udik...? hellloooooo..!! Dia bukan level gua tau. Jaga ucapan kamu." sentak Maya dengan keras.
Teman-teman nya hanya menggeleng heran dengan sikap Maya yang tak pernah mau di salahkan.
_______
Tak terasa waktu untuk Alifa mengikuti ajang Musabaqoh Tilawatil Qur'an pun tinggal satu hari. Besok pagi Alifa harus bertanding di mimbar MTQ. Segala persiapan telah Alifa lakukan.
__ADS_1
dari berlatih hingga larut serta persiapan-persiapan lainnya untuk bisa tampil maksimal esok hari.
Tak lupa Alifa sowan ke kyai selepas sholat magrib untuk meminta doa restu ke pemilik pondok pesantren.
"Assalamu'alaikum kyai...ummi !"
"Waalaikumusalam warahmatullahi wabarokatu...!" Jawab ke-dua nya secara bersamaan.
"Silahkan duduk nak."
" Terimakasih ummi."
setelah Salim dan mencium punggung tangan ummi khasanah dan kyai pemilik pondok pesantren, Alifa pun duduk di hadapan mereka.
"Maaf kyai, ummi, kalau saya mengganggu waktu istirahat kyai dan ummi. Kedatangan saya ke sini saya sekali lagi minta doa restu dari kyai dan ummi untuk kelancaran saya besok pagi. Semoga dengan doa restu kyai dan ummi semakin memudahkan langkah saya".
Kyai Abdullah dan ummi khasanah saling pandang kemudian tersenyum mendengar ucapan santri terbaik di pondok nya itu.
"Berjuang lah nak..! wujudkan cita-cita mulia mu. Kami berdua yakin kamu mampu mencapai hasil terbaik. Teruslah berusaha semampu kamu. jangan lupa berdoa semoga Allah SWT memudahkan jalan mu meraih hasil yang membanggakan keluarga besar pondok pesantren." ucap kyai Abdullah memberi wejangan dan semangat supaya Alifa yakin dengan dirinya sendiri.
"Benar yang di katakan Abi nak, Berjuang lah semampu kamu. Allah pasti memudahkan segala jalan serta menyertai setiap langkah mu karena ummi yakin anak sholehah seperti kamu pasti bisa menjadi yang terbaik di antara mereka-mereka yang baik."
Setelah beberapa saat mendengar wejangan dari kyai dan ummi di ndalem Alifa pun pamit undur diri dan kembali ke asrama di mana kamar yang dia tempati selama ini berada.
"semoga aku bisa ya Allah..! supaya aku bisa membanggakan kyai, ummi, ayah dan semuanya. semoga bisa jadi yang terbaik ya Allah." batin Alifa berdoa untuk kemudahan nya esok hari.
________________
__ADS_1
Tolong dukungan like dan vote nya supaya Alifa tidak nervous ya sobat..!! Hehe..
semoga mimpi indah. Supaya besok bisa lihat Alifa tampil di mimbar musabaqoh ya.