
"Apa Gus Al marah?"
Gus Al hanya terdiam sambil menyimpan kembali kotak kecil yang berisi sebuah cincin yang akan di kasihkan ke Alifa. Tapi ternyata Alifa menolak secara halus dengan menyuruh ummi yang menyimpan nya.
"Gus..!"
"Ya."
"Kenapa Gus Al marah?"
"Tidak ada hak saya untuk marah dek. Yaudah jangan di bahas lagi. Kamu bisa kembali ke asrama. Dan selamat belajar ya." ucap Gus Al tegas.
"Maaf Gus."
Gus Al tidak menjawab lagi ucapan Alifa. Ia enggan berucap karena memang hatinya sedikit kecewa dengan keras kepala nya orang yang sudah menguasai hatinya itu.
Merasa tak ada tanggapan dari Gus Al. Alifa pun beranjak dan berjalan menuju pintu.
"Saya permisi dulu Gus. Assalamualaikum."
"Waalaikumussalam."
Setelah Alifa meninggalkan ndalem, Gus Al pun menutup pintu dan merebahkan tubuhnya di sofa ruang tamu kediaman Abi nya. Sungguh pikiran nya sangat kacau karena Alifa selalu menolak apa yang selalu dia utarakan.
**
Sementara itu Alifa terus berjalan menuju kamar asrama nya. dengan langkah cepat Alifa terus berjalan hingga tak menyadari jika dirinya menabrak seseorang.
Bugh..!
"Aduh..!" jerit seseorang yang jatuh karena ditabrak oleh Alifa.
Alifa langsung kaget mendengar suara seseorang yang sudah sangat ia hafal.
"Maaf ustadzah, saya gak sengaja."ucap Alifa sambil membantu ustadzah Nia yang terjatuh karena tak sengaja Alifa menabrak nya.
Setelah ustadzah Nia berdiri dan membersihkan telapak tangan nya yang sedikit kotor, ustadzah Nia pun tak kalah kagetnya dengan Alifa.
"Ustadzah Nia, maaf saya benar-benar tidak sengaja." ucap Alifa sambil membungkukkan badannya.
"Alifaaaaa, kamu..!" ustazah Nia pun terlihat bingung karena orang yang menabrak nya sampai jatuh ternyata santri paling populer di darul Huda.
"Maaf ustadzah."
"Kamu kenapa ada di sini, Alifa..?" tanya ustadzah Nia bingung kenapa Alifa berada di jalan yang bukan menuju asrama.
Yang ustadzah Nia tau tadi Alifa di panggil ke ndalem oleh pemilik pondok pesantren. Tapi itu beberapa jam yang lalu. Sekarang justru ustadzah Nia bertemu dengan Alifa tak jauh dari kediaman keluarga kyai Abdullah dan bukan jalan untuk kembali ke asrama nya.
__ADS_1
"Alifa..!" panggil ustadzah Nia ulang.
"Maaf ustadzah." jawab Alifa lirih sambil menunduk.
"Kamu dari mana?" tanya ustadzah Nia heran dengan sikap Alifa yang agak lain dari biasanya.
"Saya dari ndalem, ustadzah."
"Dari tadi?" tanya ustadzah Nia heran.
"Iya."
Ustadzah Nia mengerutkan keningnya dengan jawaban singkat Alifa yang menurut ustadzah Nia ini bukan sifat Alifa yang sesungguhnya.
"Alifa kamu kenapa?"
"Saya tidak apa-apa ustadzah, saya permisi dulu ustadzah Nia." ucap Alifa sambil berusaha untuk berlalu dari hadapan ustadzah nya itu.
"Tunggu..!" ucap ustadzah Nia sambil mencekal lengan Alifa.
"Alifa, kamu ikut ustadzah ke ruangan ustadzah sebentar."
"Sa-saya harus kembali ke asrama ustadzah."
"Saya akan telpon ke ustadzah Arin, supaya kamu dapat izin dan tidak di cari nya. Saya akan bilang kamu ada bersama saya."
"Sekarang ayo ikut."
"Baik ustadzah."
'Ya Allah rumit banget semua ini ' batin Alifa sambil berusaha untuk bersikap biasa di hadapan ustadzah Nia.
"Silahkan masuk, Alifa..!"
Ustadzah Nia langsung menyuruh Alifa masuk kedalam ruangan nya begitu mereka sampai di asrama asuhan ustadzah Nia.
"Baik ustadzah."
Alifa pun masuk dan duduk di atas karpet yang terhampar di ruangan tersebut.
"Alifa.., kamu baik-baik saja?" tanya ustadzah Nia penuh selidik.
"InsyaAllah saya baik-baik saja, ustadzah."
"Kamu kenapa tidak fokus berjalan tadi. Apa ada masalah?"
"Maaf ustadzah, saya tidak sengaja tadi."
__ADS_1
Ustadzah Nia menarik nafas panjang dan membuangnya pelan-pelan mendengar jawaban Alifa yang ambigu.
"Saya tau kamu tidak sengaja tadi, tapi tentu ada sebab sehingga kamu bisa tidak sengaja dan tidak fokus dengan jalan kamu."
"Alifa, kamu kenapa sebenarnya? Apa ada masalah di ndalem tadi sehingga setelah kamu keluar dari kediaman kyai kamu terlihat seperti ini. Apa ada masalah Alifa?"
Alifa hanya menunduk menatap lantai ruangan ustadzah Nia. Ia bingung harus menjawab apa dengan pertanyaan ustadzah Nia ini. Kalau Alifa jujur mengatakan bahwa dirinya di minta menikah dengan Gus Al tentu saja itu akan bocor ke orang lain. Alifa gak ingin mengumbar masalah nya itu. Tapi, jika dirinya diam saja tanpa ada yang di ajak bicara tentu itu sangat membuat dirinya tak nyaman. Alifa bingung harus berbuat apa.
"Alifa..!" panggil ustadzah Nia lirih setelah melihat Alifa hanya diam membisu tanpa bersuara sedikitpun.
"Alifa, kamu baik-baik saja kan?"
Alifa tersentak mendengar panggilan ustadzah Nia yang mengagetkan dirinya.
"Kamu melamun? Sebenarnya ada apa Alifa, cerita sama ustadzah siapa tau ustadzah bisa membantu kamu."
Alifa pun berusaha semaksimal mungkin untuk menahan diri untuk tidak menangis di hadapan ustadzah Nia. Sungguh masalah ini membuat dirinya rapuh. setelah beberapa saat mengontrol diri nya, Alifa pun mulai berbicara dengan ustadzah Nia.
"Ustadzah..!"
"Ya sayang..! Cerita lah jika kamu sudah siap untuk cerita. Jangan pendam semua masalah sendirian jika kamu tidak ingin membebani hatimu sendiri." ucap ustadzah Nia berusaha membuat Alifa nyaman.
"Maaf ustadzah, saya bingung harus berbuat apa. Sungguh pikiran saya sudah tidak mampu untuk berpikir."
"Apa sebenarnya yang terjadi? tadi ketika kita bicara di masjid kamu terlihat biasa saja tapi setelah keluar dari kediaman kyai kamu berubah drastis seperti ini. Ada apa nak?"
"Ustadzah, jika ustadzah di suruh memilih kuliah dan menikah ustadzah pilih yang mana..?" tanya Alifa sambil memejamkan matanya supaya tidak terjatuh airmata yang sejak tadi di tahan nya.
"Tentu ustadzah akan memilih kuliah sebelum menikah. Memang nya ada apa kamu bertanya seperti itu pada ustadzah nak "
"Saya bingung ustadzah, saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan. Saya tidak tahu bagaimana lagi untuk menyelesaikan semua masalah saya ini."
Ustadzah Nia memberikan air minum kemasan pada Alifa.
"Minum lah biar kamu tenang. Lalu cerita lah ada masalah apa sebenarnya."
Alifa pun menerima air minum yang diberikan oleh ustadzah Nia dan segera meminumnya sampai habis setengah.
"Terimakasih ustadzah Nia." ucap Alifa sambil meletakkan botol minum tersebut.
"Kamu sudah tenang?"
Alifa mengangguk menanggapi ucapan ustadzah Nia tersebut.
"Jika sudah tenang, cerita lah pelan-pelan ada masalah apa sebenarnya."
"Gus Al ingin mengkhitbah saya ustadzah." ucap Alifa lirih.
__ADS_1
"Apaaa..!" pekik ustadzah Nia saking terkejutnya.
_______