
Setelah selesai menelpon ayah nya, Alifa pun kembali ke kamar asrama untuk bersiap-siap sholat dhuhur di masjid pesantren. Sudah menjadi kewajiban rutin yang wajib di patuhi semua santriwati yang tidak berhalangan untuk mengikuti berjamaah lima waktu di masjid.
Ada sedikit tausiyah dari ustadzah pengasuh di setiap selesai jamaah. Terkadang ummi khasanah ataupun kyai Abdullah sendiri yang memberikan tausiyah.
Kehidupan damai yang Alifa rasakan semenjak dia tinggal di pesantren begitu sangat dia syukuri. Meski dulu diawal kehadiran dia di pesantren ini sangat membuat dia merasa terbuang dari keluarga dan membenci ayah dan kakaknya, tapi tidak untuk saat ini. Saat ini Alifa begitu mensyukuri kehidupan nya. Hidup penuh kedamaian dan penuh barokah yang selalu membawa ketenangan hati yang hakiki. Walau banyak hal yang harus di korbankan, tetapi Alifa tidak menyesali nya. Sebagai contoh, Alifa harus kehilangan masa kecil yang kata orang masa di mana penuh kasih sayang dari keluarga. Bermain sepuas hati, di manja semua orang, Tapi masa kecil alifa justru sebalik nya.
Alifa kecil di tuntut belajar dan terus belajar. Di kala teman nya sudah istirahat, Alifa harus mengikuti kelas Tahfiz yang hanya ada beberapa anak. Ilmu hafalan Al-Qur'an sudah menjadi menu wajib bagi Alifa tiap hari. Tak heran, kalau sekarang Alifa udah terbiasa dengan kehidupan yang penuh kedisiplinan itu.
*********
Di pondok pesantren tak pernah mengenal penggunaan ponsel.Tak ada istilah santriwati membawa ponsel, itu sangat di haramkan selama mereka menuntut ilmu di pondok pesantren ini. bisa di bayangkan betapa ketatnya aturan sebuah pondok.
"Assalamu'alaikum Alifa..!"
__ADS_1
"Eeh... Waalaikumusalam ustadzah!" jawab Alifa yang kaget karena tiba-tiba ada ustadzah yang duduk di samping nya. Alifa langsung salim ke ustadzah dengan takzim sambil menggeser dirinya untuk memberi tempat ke ustadzah Mia.
"Kenapa masih duduk sendirian di masjid? Apa kamu tidak makan siang Alifa?"
"Nanti saja ustadzah, Biasanya kalau selepas sholat begini masih ramai untuk mengambil makan."
"Alifa, saya dengar kamu ditunjuk kyai untuk mengikuti ajang musabaqoh ?"
" Benar ustadzah..! Sebenarnya saya sendiri masih belum punya kepercayaan diri untuk mengikuti ajang tersebut. mimbar musabaqoh masih jauh dari angan saya ustadzah. saya masih nervous untuk mengikuti perlombaan bergengsi tersebut."
"Jangan dibikin semua itu beban, kamu di pilih karena kamu punya kemampuan Alifa. kamu anak yang cerdas, tunjukkan kalau kamu mampu. Belajarlah dan terus tingkatkan kualitas suara kamu ya. Terus berlatih..!"
"Baik ustadzah, akan saya coba semoga Allah memudahkan jalan saya."
__ADS_1
"Teruskan perjuanganmu menaklukkan mimbar itu nak..! Kamu anak yang punya potensi besar, Jangan pesimis ya..! Lalui semua dengan baik, insyaAllah hasil akan mengikuti."
Alifa mendapat banyak wejangan dari ustadzah Mia. Beliau begitu perhatian pada Alifa. karena ustadzah Mia merupakan saksi bagaimana awal mula perjuangan Alifa hidup di pondok pesantren.
"insyaAllah, saya akan berusaha keras ustadzah. Mohon doa dan bimbingan nya."
******
Siang itu di lalui Alifa dengan semangat baru. Semangat untuk meraih cita-cita terbaik. Banyak dukungan Alifa dapat dari orang-orang tersayang nya. Selain ayah dan kakaknya, Alifa selalu mendapatkan dukungan dari kyai, ustadz dan ustadzah yang selalu mensupport Alifa. Banyak teman-teman yang selalu mendukung langkah Alifa.
Menjadi gadis seperti Alifa tak mudah. Semua perlu perjuangan dan pengorbanan.
Berjuang meraih cita-cita besar sangat lah menguras waktu tenaga dan pikiran. Banyak duri-duri tajam yang menghalangi langkah menuju sukses.Tapi Alifa yakin semua itu mampu di lewati dengan baik. Dengan usaha dan doa serta ridho orang tua dan guru tentunya.
__ADS_1
_____________
Jangan lupa coment dan like serta tinggalkan jejak untuk perjuangan Alifa ya sobat.