Jatuh Cintanya Sang Juara Qori.

Jatuh Cintanya Sang Juara Qori.
Bab 55. Saling memikirkan.


__ADS_3

Setelah membuat Zia semakin bertambah jengkel Alifa pun terasa lepas dari beban pikiran nya. Ia sudah tak begitu lagi memikirkan masalah khitbah dari sang putra kyai.


Alifa menetralkan pikiran nya supaya tak begitu terbebani tentang perasaan Gus Al.


Sampai malam, Gus Al pun tak pernah memanggil dirinya untuk ke ndalem sekedar membahas mengenai masalah yang terjadi antara keduanya pagi tadi.


Padahal, Alifa sebenarnya sangat berharap jika dirinya bisa berbincang kembali dengan Gus Al untuk membahas kepastian tentang mau atau tidak nya Gus Al menunggu dirinya kuliah dahulu. Jika mau alifa sudah memutuskan untuk mengabdi di pesantren darul Huda sambil menunggu Gus Al selesai dengan pendidikan nya di Al Azhar. Jika Gus Al tidak bisa menunggu dan memilih orang lain, tentu Alifa akan neruskan kuliah di luar kota.


'Entahlah biar semua mengalir dengan sendirinya saja.' Gumam Alifa diatas pembaringan nya.


"Apa nya yang mengalir dengan sendirinya, fa?" tanya Zia heran karena sejak tadi Alifa hanya diam merenung di atas tempat tidur nya. Tapi dengan tiba-tiba Alifa berbicara sendiri seperti lagi galau hatinya.


"Ach gak kok siapa yang bilang begitu." ucap Alifa santai dan berusaha setenang mungkin supaya Zia tidak tau jika dirinya memikirkan tentang perasaan Gus Al.


"Yaelah fa, masih aja ngeles sejak tadi kamu kayak yang ngelamunnn gitu. Kayak lagi mikirin sesuatu gitu."


"Jangan seperti paranormal yang sok tau hati orang, Zia. Mending tidur sekarang. Jangan berisik kasihan yang lainnya pada tidur." ucap Alifa sambil berbisik. Karena takut jika suaranya dan Zia mengganggu teman lainnya yang sudah tidur duluan.


"Ya makanya, kamu jujur donk jangan di pendam sendiri. Dari tadi juga ku perhatikan kamu kayak mikirkan seseorang gitu."


"Apa jangan-jangan kamu lagi jatuh cinta, fa." ucap Zia dengan asal.

__ADS_1


"pletak..! Alifa pun mengeplak lengan Zia dengan buku catatan yang di pegang nya.


"Aduhh..! Ini kenapa sich dari tadi hobi banget mukul orang kaya preman aja." gerutu Zia dengan kesal.


"Makanya punya mulut itu di kondisi kan dengan baik jangan asal jeplak aja kalau ngomong. Wudhu sana kumur-kumur yang bersih biar kalau bicara juga yang bersih-bersih., ini enggak, malah ngmong jatuh cinta, jatuh cinta segala."


"Sabar atuh.., kalau gak kenapa emosi jiwa." ucap Zia dengan suara lirih sambil menertawakan Alifa yang kesal dengan ucapan nya.


"Tau ach mending tidur." ucap Alifa sambil memiringkan tubuhnya membelakangi Zia dan menutup tubuhnya dengan selimut hingga di atas leher


Zia hanya tertawa lirih karena takut mengganggu teman lainnya melihat kelakuan Alifa.


***


Entah kenapa malam ini aku sulit sekali memejamkan mata. pikiran ku sangat kalut, gak nyaman dan seperti ada hal yang membuat diriku gelisah.


Menjadi putra seorang kyai sebuah pondok pesantren tak membuat diriku bisa diterima oleh seorang wanita dengan mudah. Aku sadar, usia ku masih sangat muda untuk menikah. tapi aku hanya ingin menghalalkan seorang wanita Sholehah tanpa pacaran terlebih dulu seperti kebanyakan anak muda zaman sekarang.


Alifa Rizky Aulia, dia satu-satunya santri Abi yang mampu membuat diriku seperti orang gila karena sering nya memikirkan dia. Alifa menjadi santri di pondok pesantren Abi sejak dirinya berusia 4 tahun. Alifa terlihat cerdas karena dirinya menjadi santri bimbingan Abi dalam bidang musabaqoh. Alifa pun menjadi penghafal Al-Qur'an meski yang ku tau dirinya belum selesai menghafal.


Waktu itu diriku baru pulang dari negeri Mesir karena liburan. Tak sengaja aku tanya ke Abi dan ummi siapa santri yang akan mengikuti ajang musabaqoh itu. Abi pun menjelaskan jika nama nya Alifa dan masih duduk di bangku madrasah Tsanawiyah. Abi pun menceritakan jika Alifa hampir 10 tahun mukim di pondok abi. Mulai saat itu, aku benar-benar mengagumi sosok Alifa. diam-diam aku mulai menyukai dia sebagai suka nya laki-laki ke perempuan. Di negeri Mesir pun bayang-bayang pesona Alifa tak bisa lepas dari hatiku. Semakin aku ingin menghapus dia dari hati semakin kuat juga hati ini ingin bersama nya. Apalagi terakhir yang ku dengar dari ummi jika Alifa baru saja menjadi juara di ajang musabaqoh tingkat provinsi. Dan melenggang di ajang nasional. Keren bukan..., Sungguh pikiran ini semakin jauh mengaguminya.

__ADS_1


Hingga suatu hari saat aku pulang ke Indonesia aku beranikan diriku bicara ke Abi dan ummi jika aku ingin mengkhitbah Alifa.


Tentu Abi dan ummi sangat terkejut dengan keinginan ku yang tiba-tiba tersebut. Wejangan demi wejangan aku dengar dari kedua orang tua ku tersebut. Bagaimana mungkin Alifa yang masih duduk di kelas akhir madrasah Aliyah mau menerima diriku. Kata ummi waktu itu. Tapi mau bagaimana lagi aku pun memberi alasan jika tak ingin pacaran seperti anak muda zaman sekarang. Beruntung kedua orang tua ku mengerti dan paham dengan apa yang aku sampaikan. Sehingga beliau menyetujui rencana ku dengan catatan aku tak boleh memaksa Alifa jika dirinya belum siap untuk menikah.


Abi dan ummi pun memanggil Alifa secara khusus di ndalem. Dan di situlah ku utarakan niat baik ku yang ingin mengkhitbah dan menikah dengan nya. Tapi siapa sangka Alifa menangis di hadapan Abi dan ummi mendengar niat baik ku. sakit hati ini melihat orang yang ku impikan menangis di hadapan nya. Sejahat itukah diriku hingga membuat wanita yang ku impikan menangis sampai segitunya.


Alifa pun mengungkap kan keinginan nya untuk kuliah. Dan aku pun sudah meminta doa kuliah di Mesir dengan ku. Tentu tak sulit bagi santri penuh prestasi seperti Alifa masuk ke Al Azhar. tapi Alifa menolak.


Aku pun sadar jika yang ku cintai adalah santri yang belum genap 17 tahun. Tapi apa salah jika diri ini meminta nya memakai cincin bermata biru yang ku beli dari Kairo sebagai simbol bahwa kamu memang benar-benar ingin mengikat janji untuk saling menunggu.


Lagi-lagi Alifa menolak nya. Dengan alasan tak nyaman memakai cincin itu selama dirinya masih di asrama. Alasan macam apa ini. Siapa juga yang melarang santri memakai cincin.


Penolakan Alifa sungguh membuat hati ku hancur. Aku sudah tak mampu berkata apa pun. Aku kecewa, aku sedih, aku terluka karena Alifa benar-benar membuat diriku seperti orang linglung.


Entahlah aku pun tak habis pikir. beginikah rasanya mencintai seseorang yang spesial. Yang sangat sulit untuk di gapai. Hingga untuk tidur pun rasanya tak nyaman.


Ingin rasanya datang ke asrama yang di tempati Alifa dan mengungkapkan betapa tersiksanya perasaan ini.


Ya Allah beginikah rasanya jatuh cinta?


Akankah Alifa juga mempunyai rasa yang sama dengan ku?

__ADS_1


_________


__ADS_2