
"Jangan ngomong begitu fa.., pasti kita akan ketemu lagi nanti. Meskipun kita semua berasal dari daerah yang berbeda-beda InsyaAllah kita pasti bertemu lagi."
Zia mulai terbawa suasana oleh ucapan Alifa yang membahas tentang mereka yang sebentar lagi lulus. Tentu hal itu membuat Zia juga berpikir bahwa nanti akan sulit bertemu lagi dengan Alifa, Sofi dan temannya yang lain.
Selain mereka berasal dari daerah yang berbeda, tentu kesibukan kuliah akan menjadi pertimbangan utama sulitnya bertemu. Alifa berencana meneruskan kuliah di universitas kedokteran sesuai keinginan ayahnya. Meskipun Alifa sendiri enggan berkecimpung di dunia medis. sedangkan Zia sendiri akan kuliah di jurusan tarbiyah. Tapi entahlah itu masih sebatas keinginan semata.
"Kita sudah tidur bersama dalam satu kamar selama enam tahun Zia. kita sama-sama di kamar ini dalam suka dan dukanya sebagai santri. Perpisahan kita tentu akan membekas di hati kita, karena banyak momen yang sudah kita lewati bersama-sama. Aku hampir 13 tahun berada di pondok pesantren sini, Zia. Tentu berat kalau harus meninggalkan pesantren ini. Darul Huda ibarat sebuah rumah buat ku. Sedih banget aku, Zia."
Alifa panjang lebar mengungkapkan perasaan galau nya pada Zia.
"Kenapa kamu gak ngabdi di sini aja fa.., tentu ummi khasanah dan kyai Abdullah sangat senang jika kamu mengabdi di pondok sini. Kamu bisa kuliah dari sini."
"Entahlah aku juga bingung, ayah menginginkan aku kuliah di ibukota. Tapi aku kurang yakin kalau aku bakal betah di sana. Entahlah lihat nanti setelah lulus aja gimana."
Obrolan dua sahabat itu masih berlanjut. Banyak yang mereka bicarakan. Sampai-sampai mereka tak menyadari kehadiran Sofi yang dari tadi mendengarkan obrolan Alifa dan Zia di belakang mereka.
__ADS_1
"Sofii...!" ucap Zia dan Alifa bersamaan.
"Kamu sudah lama di sini? " tanya Zia heran.
"Udah dari 2 jam yang lalu."
Spontan Zia memukul lengan Sofi karena gemas dengan jawaban Sofi yang menyebalkan.
"Aduuuhh....!!" pekik Sofi sambil mengusap-usap lengannya yang kena pukulan Zia.
"Habisnya di tanya serius bukan jawab bener-bener malah ngeselin begitu.'' jawab Zia sambil mencebik.
Alifa hanya tersenyum menanggapi tingkah kedua temannya tersebut yang beberapa bulan lagi akan berpisah.
Saat mereka asyik berdebat tiba-tiba terdengar candaan dari beberapa santri yang membahas Gus Al.
__ADS_1
Alifa sebenarnya tak begitu menanggapi obrolan beberapa santri tersebut. Tapi makin kesini obrolan mereka semakin ramai saja.
Sofi, Alifa dan Zia pun saling beradu pandang mendengar ucapan demi ucapan santri yan sedang ghibah'in putra kyai Abdullah yang baru datang dari Kairo Mesir.
Gus Al yang baru beberapa hari pulang ke kediaman kedua orang tuanya, yaitu kyai Abdullah dan ummi khasanah begitu menarik perhatian santri-santri yang ada di darul Huda.
Mereka selalu membicarakan tentang Gus Al yang menurut mereka sangat tampan dan gagah.
"Ada-ada saja mereka, seperti tak pernah lihat laki-laki tampan dan ganteng aja." ucap Sofi kesal karena risih mendengar santri yang berkerumun dan membahas Gus Al yang baru pulang dari studi di al Azhar tersebut.
" La memang mereka tidak pernah melihat cowok ganteng. Kan kita berada di penjara suci sejak dulu dan di sini emang perempuan semua. gimana sich..!" Jawab Alifa cepat.
Mereka bertiga pun saling beradu pandang dan kemudian tertawa bersama mendengar ucapan Alifa yang sedikit konyol.
"Dasar Alifa resek..!" ucap Zia sambil tertawa.
__ADS_1
_________