
Hari ini hari terakhir Alifa mengikuti ujian akhir pondok. Sebentar lagi dirinya akan lulus dari pondok pesantren darul Huda.
Alifa tentu sangat senang karena perjuangan dan perjalanan nya dari kecil hingga lulus dari madrasah Aliyah pondok pesantren darul Huda tidak lah mudah.
Alifa mengenang bagaimana suka duka nya selama ini menjalani hidup di lingkungan pesantren darul Huda. Bagaimana awal ia berada di sini, bagaimana ia yang memulai hidup baru di pesantren, bagaimana setiap malam ia tak bisa tidur karena ingat ayah dan kakak nya. Bagaimana setiap malam ia belajar untuk menghafal Al-Qur'an dan menjadi seorang qori terkenal.
Tak terasa Alifa meneteskan airmata mengenang perjuangan nya selama ini. Kadang saat teman nya sudah tidur Alifa masih harus menghafal Al-Qur'an. Sungguh 13 tahun berada di pesantren darul Huda membuat Alifa seperti inilah rumah nya selama ini. Alifa juga ingat bagaimana dulu diri nya selalu diam-diam menangis karena merasa berat hidup di lingkungan pesantren yang penuh kedisiplinan yang tinggi.
Sebentar lagi diri nya akan lulus dari pesantren. Tentu sebentar lagi pula Alifa akan meninggalkan penjara suci yang menjadi saksi bagaimana perjuangan Alifa kecil hingga remaja.
Airmata Alifa terus menetes mengingat semua itu. Mengingat waktu yang tidak sebentar yang ia habiskan di darul Huda, suka duka dalam lingkungan pesantren. didikan kyai Abdullah, ummi khasanah, ustadz serta ustadzah darul huda sangat merubah Alifa yang tidak tau apa-apa menjadi yang serba bisa apa-apa.
"Hey.., kamu kenapa menangis sendirian di sini?" tanya ustadzah Arin yang heran melihat Alifa duduk di bangku depan asrama sambil memeluk sebuah kitab dan menitikkan air mata.
Alifa terkejut dengan kedatangan ustadzah pengasuh asrama nya. Alifa dengan cepat menghapus sisa air mata nya yang masih menetes.
"Kamu kenapa, Alifa?" tanya ustadzah Arin mengulang pertanyaan nya sambil duduk di samping Alifa.
"Ustadzah Arin? saya tidak apa-apa ustadzah."
__ADS_1
"Tidak apa-apa tapi kamu menangis sendirian di sini?'' ucap ustadzah Arin mengernyitkan keningnya.
"Saya hanya teringat jika sebentar lagi saya akan lulus, ustadzah. Saya hanya terkenang dulu awal saya di sini saja. Suka duka selama belajar di pondok. Tak terasa waktu berjalan begitu cepat ya ustadzah. Sudah 13 tahun saya jadi santri darul Huda."
Ustadzah Arin tersenyum dengan ucapan Alifa. 'Tak kira ada apa ini bocah menangis sendirian di sini ternyata hanya itu toh.' batin ustadzah Arin.
"Memang itulah perjalanan dan perjuangan seorang santri, Alifa. Lalu setelah ini apa rencana kamu..?"
"Saya mau kuliah, ustadzah."
"Di mana? ambil jurusan apa?"
"Memang nya belum ada rencana gitu. Kenapa kamu gak ikut seleksi snmptn kemarin? Padahal juga ada beasiswa bagi santri berprestasi dan hafidz dari Al Azhar juga. Kenapa gak ambil kemarin."
"Ayah menginginkan saya kuliah di tanah air saja ustadzah. Ayah juga menginginkan saya ambil jurusan kedokteran."
"Wahh.., bagus juga itu. Kenapa gak mengikuti saran orang tua saja kalau emang orang tua yang menginginkan...?"
"Ustadzah Arin, universitas L itu kedokteran nya apa bagus?"
__ADS_1
Ustadzah Arin menatap wajah teduh santri nya itu. Apa yang di tanya kan Alifa barusan sangat membuat nya kaget. Bagaimana bisa Alifa ingin kuliah di kota sini yang jurusan kedokteran masih kalah dengan universitas ternama lainnya di kota-kota besar.
Alifa tergolong anak orang berada, jika untuk biaya kuliah kedokteran di ibukota atau kota besar lain nya pasti orang tua nya lebih dari mampu. Tapi aneh, kenapa ia lebih memilih kuliah di kota ini.
"Kamu serius ingin kuliah di kota sini? Kenapa gak ambil kedokteran di ibukota saja?"
"Sa-saya mungkin akan ngabdi di sini dan kuliah di universitas L ustadzah."
"Kamu serius?"
"Iya ustadzah."
"Kenapa tiba-tiba kamu ingin ngabdi di sini. Bukan kah dulu kamu ingin sekali bisa kuliah di ibukota..?" tanya ustadzah Arin heran.
"sa-saya harus nunggu Gus Al, ustadzah."
"Ups.." Alifa langsung menutup mulutnya rapat. Ia sadar sudah keceplosan bicara.
"Apaaaa...?" teriak ustadzah Arin kaget.
__ADS_1
_________