Jatuh Cintanya Sang Juara Qori.

Jatuh Cintanya Sang Juara Qori.
Bab 38. Kebenaran terungkap.


__ADS_3

Semua yang berada di sana nampak terdiam dan menunggu apa yang akan Ayunda ucap kan.


"Saya...saya di suruh santri dari asrama satu ustadzah." ucap Ayunda sambil menundukkan kepalanya.


"Saya di ancam. Saya tidak bisa apa-apa ustadzah. Saya terpaksa, saya takut jika saya menolak saya yang akan di guyur dengan ulah bulu itu. Saya punya alergi dengan binatang itu. Itu sebabnya saya lebih memilih mengasihkan bingkisan itu ke Alifa daripada saya yang terkena ulat bulu dan gak tau gimana tubuh saya karena saya emang alergi berat dengan binatang itu. Saya berpikir jika saya mengasihkan bingkisan itu setidaknya Alifa hanya terkejut saja dan tidak sampai terkena, karena ulat bulu itu berada di kotak. Tapi jika saya menolak saya yang akan di guyur dengan binatang itu."


"Maafkan saya, saya terpaksa. Saya hanya menyelamatkan diri saya dari efek alergi itu. Saya bisa lama jika alergi. bahkan saya pernah masuk rumah sakit waktu dulu terkena ulat bulu. Saya hanya menghindari itu ustadzah. Makanya saya lebih memilih mengasihkan bingkisan itu ke Alifa dan menitipkan lewat Sofi. Sekali lagi maafkan saya."


Ayunda terus menunduk dan enggan untuk menatap wajah Sofi dan ustadzah nya. Ia panjang lebar bicara dengan sedikit tenang tentang kebenaran dari bingkisan itu.


Semua yang mendengar penjelasan Ayunda merasa trenyuh dan kasihan. Ternyata Ayunda di tekan oleh seseorang yang sangat membenci Alifa. Ayunda hanya menyelamatkan diri dari alergi yang di deritanya. Semua santri teman satu asrama nya pun merasa kasihan dengan Ayunda. Ternyata Ayunda di tekan untuk melakukan hal konyol seperti itu.


Ustadzah Arin, ustadzah mala dan semua ustadzah pengasuh asrama yang Ayunda tempati nampak diam mendengarkan setiap cerita dan ucapan Ayunda dengan seksama.


Ia tau, sebenarnya Ayunda termasuk santri yang baik dan tidak neko-neko. Ayunda tergolong santri yang rajin dan ulet. Hanya karena dirinya di tekan sesama santri, ia berani berbuat tidak baik yang bisa merugikan orang lain.

__ADS_1


"Kamu tidak perlu takut nak, sekarang kamu katakan siapa nama santri tersebut?"


"Tidak perlu takut untuk jujur, Ayunda. Bicaralah..!''


"Maafkan saya ustadzah."


"Saya memang salah, maafkan saya.''


"Maya ustadzah, Maya yang sudah menyuruh saya untuk memberikan bingkisan itu pada Alifa. Maya juga yang mengancam saya." ucap Ayunda mulai berani menatap wajah ustadzah nya.


"Saya yakin dan berani bersumpah ustadzah."


"Haddehh.., ulah perusuh ternyata." ucap Sofi kesal.


"Perusuh..?? siapa perusuh??" tanya ustadzah Arin bingung dengan apa yang Sofi ucap kan.

__ADS_1


"Siapa lagi kalau bukan di kunyuk Maya. ops." Sofi seketika menutup mulutnya setelah selesai mengucapkan kata itu. Ia tau kata-katanya sangat tidak sopan.


"Maaf ustadzah, tak sengaja saya berkata begitu. Habisnya saya kesal, tak henti-hentinya ia berbuat jahat dan menggangu Alifa dan menggunakan orang lain untuk menutupi kejahatannya.


Ustadzah Arin hanya menggeleng mendengar dan melihat kelakuan santri nya itu.


"Sofi, maksud kamu dengan bilang kalau Maya tak henti-hentinya membuat jahat e Alifa tu apa?"


Akhirnya mau tak mau Sofi pun menceritakan tentang Maya yang selalu berulah. Sofi menceritakan juga tentang Alifa yang di dorong Maya sebelum berangkat kompetisi. Sofi menceritakan semuanya tanpa terkecuali.


Ustadzah Arin, ustadzah mala dan semua yang mendengar cerita Sofi hanya menggelengkan kepalanya. Mereka heran dan tak abis pikir bagaimana bisa santri pondok pesantren bisa berbuat seperti itu pada santri lainnya.


Meskipun mereka tau jika Maya memang santri baru yang unik dan aneh serta terkenal urakan. Tapi tak menyangka saja gimana ceritanya dia sampai bisa mendapat banyak ulat-ulat bulu.


'Aneh.., sangat aneh.' batin ustadzah Arin.

__ADS_1


_____


__ADS_2