Jatuh Cintanya Sang Juara Qori.

Jatuh Cintanya Sang Juara Qori.
Bab 44. Bayangan masa depan.


__ADS_3

Beberapa hari setelah drama di asrama yang ditempati oleh Maya berlalu, Maya pun menepati janjinya untuk meminta maaf pada Alifa.


Malam itu setelah sholat magrib, ia di dampingi ustadzah Nabila datang ke asrama asuhan ustadzah Arin tersebut.


Mereka datang dengan niat meminta maaf pada Alifa dan santri yang pernah di sakiti oleh Maya.


Setelah sampai di asrama ustadzah Arin, mereka di sambut dengan baik. Bahkan Maya langsung di pertemukan dengan Alifa.


"Alifa, aku minta maaf pada kamu atas ulah aku yang dulu ya. Maaf juga atas ulah aku yang sekarang. Maafkan semua kesalahanku padamu, Alifa!" ucap Maya penuh harap.


Alifa tersenyum dan meraih tubuh Maya untuk di peluknya. Alifa sudah mendengar drama yang terjadi di asrama ustadzah Nabila. Sofi sudah menceritakan semuanya.


Awalnya Alifa pun tak percaya mendengar cerita tentang Maya dari Sofi. Tapi memang kesungguhan Maya untuk berubah sudah mulai terlihat di depan matanya.


Jika dulu Maya sangat anti dan najis untuk meminta maaf tapi, Alifa bisa membuktikan sendiri jika Maya benar-benar berubah sekarang.


"Aku sudah memaafkan semua kesalahanmu jauh sebelum kamu meminta maaf, Maya. Aku bahagia kamu mau berusaha berubah menjadi lebih baik. Terimakasih..!" ucap Alifa santai.


Kedua santri darul Huda yang dulunya tak pernah akur itupun saling berpelukan. Alifa begitu senang akhirnya Maya mau mengakui semua perbuatannya.

__ADS_1


"Aku juga minta maaf jika berbuat salah padamu ya..! Mungkin aku pernah membalas mendorong tubuh kamu dengan sangat kuat waktu itu sehingga membuat kamu emosi. Maaf ya, Maya..!''


Mereka kembali berpelukan. Alifa tersenyum, ia begitu bahagia. Setidaknya Maya sudah memulai mau berubah. Ia bersyukur teman pondoknya itu mengakui semua perbuatannya dan berjanji untuk tidak mengulangi lagi perbuatannya.


'Semoga kamu benar-benar Istiqomah dengan janji kamu, Maya..!' batin Alifa sambil menitikkan airmata di pelukan Maya


|


|


****


Alifa sekarang sudah duduk di kelas 12 madrasah Aliyah. Sebentar lagi ia akan menempuh ujian Nasional dan ujian kepondokan.


Tiga belas tahun Alifa menjadi santri darul Huda. Banyak hal yang Alifa pelajari di pondok sini. Dulu ia belum lancar dalam membaca Al Qur'an. Tapi sekarang, Alifa bisa menjadi seorang qori muda kebanggaan darul Huda. Alifa sering mengikuti serangkaian lomba dan ajang bergengsi MTQ setingkat provinsi dan nasional. Bahkan tak jarang ia memenangi kompetisi-kompetisi tersebut.


"Hey bocah.., melamun aja." ucap Zia yang tiba-tiba datang dan menepuk pundak Alifa dengan keras.


"Ya Allah Zia.., pelan-pelan bisa kan. kalau ngagetin bilang-bilang dulu napa." ucap Alifa kesal karena Zia selalu hobi bikin kaget orang.

__ADS_1


Zia tertawa lirih mendengar ucapan Alifa yang penuh kekesalan itu.


"Ya lagian kamu dari tadi melamun mulu fa, sampe lalat aja takut mau mendekat. Emang melamin apa sich, Alifa sayang ku..!"


Alifa hanya diam membisu sambil duduk menatap ke depan.


"Zia, Kita hampir lulus dari pondok darul Huda ya..! Kita beberapa bulan lagi akan pisah. Mungkin kita akan mencari kesuksesan kita masing-masing di tempat yang berbeda juga. Kamu gimana rencananya Zia, akan meneruskan kuliah kemana..?"


Zia spontan juga diam membayangkan bagaimana mereka akan berpisah.


"Jadi dari tadi kamu memikirkan itu fa..? sampe-sampe melamun dan tidak tau aku datang.." tanya Zia serius.


"Aku berpikir kita akan pisah dan sulit ketemu lagi. Tentu kita akan di sibukkan dengan kuliah dan sebagainya."


"Masa depan jangan di bayangkan, Fa..! Tapi di jalani saja lah seperti aliran sungai. Yang penting kita waspada dan hati-hati supaya tidak terbawa arus."


"Iya sic kamu benar, Zia. Tapi tentu kita akan berpisah dan gak tau lagi kapan ketemu."


Zia mulai baper dengan semua ucapan Alifa. Ia ikut membayangkan bagaimana masa depan nya setelah selesai mondok di pesantren darul Huda.

__ADS_1


______


__ADS_2