
"Semangat dan fokus ya..!" ucap ustadzah Nia sambil menepuk pundak Alifa pelan.
Alifa tersenyum dan mengangguk. Meski hati nya sedikit tegang, tapi ia berusaha menguatkan diri supaya tidak begitu kelihatan nervous. Alifa menenangkan diri dengan bersholawat dalam hati. Siapa orang yang tidak gugup jika di hadapkan dengan ribuan pasang mata yang menyaksikan kita tampil secara live. Tentu semua akan berada di posisi seperti Alifa.
"Hai kak, kamu kelihatan tenang dan santai ya. Apa rahasianya sich?" tanya seseorang yang berada di belakang Alifa.
Alifa tersentak kaget dengan pertanyaan orang di belakang nya. Gimana orang ini bisa bilang dirinya tenang dan santai padahal dari tadi ia sangat gelisah dan pikiran nya tak tenang menjelang tampil.
"Masa sich.., padahal aku nervous banget Lo ini." jawab Alifa.
"Aku gugup sekali kak, coba pegang tangan ku ini." orang di belakang nya itu pun menempelkan telapak tangan nya ke tangan Alifa. Memang terasa dingin banget.
"Tangan kamu dingin sekali."
"Iya kak, aku gugup sekali dan takut gak fokus. Ini sampe tangan ku dingin banget."
Alifa tersenyum.
"Jangan panggil aku kak, panggil saja Alifa. Mungkin usia kita sebaya. Jadi panggil nama saja biar lebih enak." Alifa berkata sambil tersenyum.
"Baik ka...eh Alifa. Perkenalkan nama ku Zahra." senang berkenalan dengan mu Alifa.
"Kamu bisa setenang ini ya, Alifa! Aku dari tadi gak bisa tenang. gelisah, takut dan deg-degan ini." ucap Zahra.
__ADS_1
"Sebenarnya juga gugup tapi ya berusaha tenang saja aku lah." jawab Alifa.
Akhirnya Alifa dan Zahra pun berbincang untuk menghilangkan rasa gugupnya. Mereka berdua membicarakan banyak hal. Terutama tentang pengalaman-pengalaman mereka ketika mengikuti setiap event perlombaan.
Alifa jadi teringat dengan putri, waktu itu ia kenal dengan putri ketika menunggu waktu akan tampil juga seperti sekarang kenal dengan Zahra. 'Rasa gugup yang membawa berkah pertemanan ini judulnya.' batin Alifa senang.
**
Selesai Alifa dan kelima orang peserta cabang tilawah anak-anak tampil di final. Kini mereka beristirahat sambil menunggu malam tiba. Karena nanti malam adalah malam puncak penutupan MTQ sekaligus pengumuman juara di setiap cabang dan kategori.
Alifa beristirahat dengan memejamkan mata sebentar supaya fisik nya menjadi fres dan kembali semangat untuk menanti pengumuman juara nanti malam. 'Semua butuh kesehatan yang baik.' batin Alifa sambil memejamkan mata nya. Tak menunggu lama Alifa pun tertidur dengan nyenyak dan damai.
___
kini saatnya tiba, saat akan di umumkan semua pemenang dalam lomba MTQ tingkat provinsi dari semua cabang dan kategori.
Malam ini para peserta mengikuti serangkaian acara penutupan MTQ tingkat provinsi dengan meriah.
Sembilan hari mereka saling beradu dan bertanding serta bersaing dalam satu ajang. Akhirnya sebelum acara benar-benar resmi di tutup, maka satu persatu di sebutkan nama-nama yang menjadi juara dan berhak untuk mendapatkan medali dan tiket untuk melaju di event nasional.
"Ustadzah..!"
"Tenang, jangan pesimis. Segala hal bisa terjadi. Yakinlah..! Oke..?" ustadzah Nia terus memberi support pada Alifa yang masih mendengarkan sambutan dari dewan hakim di sela-sela pengumuman pemenang.
__ADS_1
"Cabang tilawah kategori anak-anak peserta dari kota M atas nama...." terdengar juara ketiga sudah di sebutkan dari atas mimbar.
Alifa semakin menunduk membayangkan nasib diri nya di sini. Ia sadar peserta yang ada di sini semua bagus-bagus dan tampil dengan suara yang memukau. Ia pun sadar dirinya belum maksimal untuk bisa di bilang baik.
"Juara kedua, peserta dari kota P dengan total nilai 1432 atas nama Alifa Rizky Aulia...."
Alifa mendongak saking terkejutnya karena baru saja namanya di sebutkan dari mimbar kebanggaan pecinta Al Qur'an itu.
spontan Alifa menatap ustadzah Nia tanpa suara. Ia begitu tidak percaya dengan apa yang di dengar nya.
"Ustadzah..,sa.."
Belum selesai Alifa berkata ustadzah Nia sudah memeluk dirinya erat. Ustadzah Nia terisak bahagia atas prestasi santri nya itu.
"Terimakasih sayang.., terimakasih sudah berjuang maksimal. Kamu juara dua kamu hebat,Alifa. Sungguh ustadzah bangga mempunyai santri seperti kamu."
"Ustadzah.., saya gagal saya minta maaf belum bisa menjadi juara sejati." ucap Alifa santai menangis.
"hey.. siapa yang bilang kamu gagal. Kamu juara dua itu sangat membanggakan. Sungguh luar biasa bagi pondok pesantren darul Huda sayang. Terimakasih ya..!"
Alifa pun mendekap erat ustadzah Nia. Alifa menangis dalam pelukan sang ustadzah. Alifa takut mengecewakan kyai. Sungguh dia takut..karena hanya bisa menjadi juara dua, bukan juara satu.
_________
__ADS_1
Selamat malam semua.
Terimakasih sudah membaca jangan lupa like coment dan vote nya ya.