
'Kyai sungguh membuatku bingung saja. Dari dulu juga dah tau kali kalau Gus Al itu putranya.' batin Alifa.
Alifa pun menoleh ke arah ummi khasanah. Mereka beradu pandang sesaat. Dan Alifa tersenyum canggung dengan situasi seperti sekarang.
"Abi.., kenapa gak langsung ngomong saja ke Alifa sich." bisik ummi khasanah ke kyai Abdullah. Dan itu masih terdengar jelas di telinga Alifa.
Alifa hanya diam menunduk karena bingung harus berbuat apa. Ia bingung sebenarnya dirinya di panggil ke ndalem ada apa. Dari tadi kyai dan ummi tidak ada yang berbicara padanya.
"Alifa..," panggil ummi khasanah mengagetkan nya.
"Kalau boleh ummi tau, ayah kamu sekarang berada dimana..?"
"Ayah bekerja di Surabaya, ummi." jawab Alifa singkat.
"Kamu punya saudara?"
__ADS_1
"Iya."
"Begini nak, kamu sengaja saya panggil ke sini karena ada yang ingin di sampaikan oleh putra tunggal kita."
"Al bicaralah..!" ucap kyai Abdullah.
"Al..!" panggil kyai Abdullah pada putra tunggal nya yang dari tadi hanya diam menyimak pembicaraan ayahanda nya.
"Iya, Abi..! Al mengerti."
" Dek Alifa, Maaf sebelumnya jika saya lancang. Maaf jika saya terlalu terlihat bodoh menyampaikan ini padamu. Tapi memang harus saya sampaikan di depan kedua orangtua saya."
"Alifa Rizky Aulia, saya Kayla Arsyad Al-Banjari ingin mengkhitbahmu. Apakah kamu bersedia ?" ucap Gus Al dengan singkat dan jelas.
Bagai di sambar petir di siang bolong. Alifa begitu terkejut mendengar ucapan Gus yang merupakan putra mahkota darul Huda tersebut. Alifa sangat kaget mendengar Gus Al ingin mengkhitbah dirinya. Sungguh hal yang tak pernah Alifa sangka sebelumnya.
__ADS_1
Ucapan Gus Al bagai batu yang menghantam dirinya. Bagaimana tidak, Alifa masih duduk di bangku madrasah Aliyah pondok pesantren darul Huda, ia pun masih di kelas akhir. Belum selesai mengikuti serangkaian kegiatan belajar bahkan ujian akhir pondok maupun ujian akhir nasional belum Alifa jalani. Tapi hari ini tiba-tiba tanpa pemberitahuan sebelumnya seorang putra kyai yang paling di agungkan dan di hormati selama ini ingin mengkhitbah dirinya. Sungguh Alifa tersentak mendengar semua itu. Alifa pun mengangkat wajahnya menatap semua orang yang berada di ruang keluarga ndalem tersebut satu persatu. Tatapan mata Alifa pun berhenti ketika wajah teduh nan tampan putra tunggal kyai nya tersebut juga menatapnya lekat.
Alifa berusaha menguasai dirinya sebaik mungkin, Sebelum ia menjawab semua ini.
"Gus Al..,maaf kenapa tiba-tiba Gus ingin mengkhitbah saya."
"Apa saya harus punya alasan untuk mengkhitbah kamu. dek."
"Tentu Gus.., tentu semua harus jelas apa maksud dan tujuan Gus punya niat seperti itu pada saya. Saya masih kecil, Bahkan saya belum cukup umur untuk menikah, saya pun belum lulus sekolah. Masa depan saya masih panjang Gus, banyak cita-cita yang belum saya capai. saya masih ingin kuliah. Masih ingin belajar banyak. Masih ingin...., banyak keinginan-keinginan saya yang belum terwujud Gus." jawab Alifa panjang lebar.
"Kyai.., ummi." Alifa pun berusaha semaksimal mungkin untuk menahan airmata nya supaya tidak sampai menetes.
"Kyai, ummi.. Suatu kehormatan bagi saya yang hanya santri biasa bisa di khitbah oleh Gus Al yang merupakan putra mahkota di pondok sini. Tapi kyai, ummi.., saya masih kecil Bahkan usia saya masih 17 tahun itupun belum genap. saya....!" Alifa pun tak kuat lagi menahan airmata nya. Ia sungguh gak menyangka bahwa putra kyai tempat dirinya mondok selama 13 tahun terakhir punya niat mengkhitbah dirinya. Tapi apakah ini wajar, sedang dirinya masih sekolah.
'Ya Allah..' batin Alifa tak kuasa menahan pelik nya semua ini.
__ADS_1
_____