Jatuh Cintanya Sang Juara Qori.

Jatuh Cintanya Sang Juara Qori.
Bab 40. Maya Mengelak.


__ADS_3

Pagi hari di hari Jumat, Kebetulan sekolah libur seperti hari-hari Jumat biasanya. Setelah mengambil jatah sarapan nya, Sofi pun menemui ustadzah Arin untuk bersilaturahmi ke asrama satu sekaligus mencari tau kebenaran tentang bingkisan yang diberikan oleh Ayunda.


"Kamu sudah siap, Sofi?" tanya ustadzah Arin.


"InsyaAllah saya sudah siap ustadzah."


"Ya udah kita bisa berangkat sekarang."


Mereka berdua pun berangkat menuju asrama yang ditempati oleh Ayunda dan kemudian bersama-sama menuju asrama satu yang ditempati oleh Maya.


Sesampainya di asrama satu, santri dan ustadzah itu langsung menuju ke ruang pengasuh asrama. Disana mereka di sambut oleh ustadzah yang bernama ustadzah Nabila dan rekan-rekannya.


Setelah menceritakan tentang maksud kedatangan nya ke asrama tersebut, ustadzah Arin pun meminta bantuan pada ustadzah pengasuh asrama yang ditempati oleh Maya untuk membantu menyelesaikan masalah ini dengan memanggil Maya secepatnya untuk di minta keterangan.


"Astaghfirullah.., kapan anak itu berhenti mencari masalah. Ya Allah, saya gak tau lagi harus bagaimana mengatasi ulah Maya. Berulang kali ia selalu berbuat ulah dengan sesama santri. Astaghfirullah..!" ucap ustadzah Nabila sambil mengelus dada.


"Coba kita manggil saja Maya kesini untuk kita tanya, ustadzah Nabila!"

__ADS_1


"Itu lebih baik dari pada kita berpraduga yang menimbulkan fitnah. Kita dengar apa sebenarnya maunya Maya. Kalau pun tidak mengaku, Ayunda adalah orang yang bisa memberikan kemudahan supaya Maya mengakui perbuatannya."


Ustadzah Nabila pun berunding dengan ustadzah pengasuh asramanya untuk memanggil Maya secepatnya. Mereka pun mengangguk setuju dan akan segera memanggil Maya untuk ke ruang pengasuh.


"Baik, bisa kita tunggu. Biar teman saya yang memanggil Maya kemari."


Salah satu ustadzah pengasuh di asrama satu pun keluar dari ruangan dan berjalan menuju salah satu kamar santri untuk mencari Maya.


Setelah sekian menit menunggu, akhirnya Maya pun datang dengan ustadzahnya yang tadi memanggil.


___


"Itu tidak benar, bukan aku pelaku nya." teriak Maya yang dari tadi tidak mau mengaku.


"Untuk apa aku harus menyuruh dia." ucap Maya sambil menunjuk ke arah Ayunda.


"Kamu yang boonk Maya.., ada saksi nya jika kamu tak mau mengaku bahwa kamu adalah orang yang mengancam aku dan ingin meminta supaya aku bisa memberikan bingkisan itu pada Alifa. apa kamu lupa jika kamu yang bilang bahwa kamu akan mencari ulat bulu itu lebih banyak dan ingin mengguyur aku dengan binatang yang paling aku takuti itu." Ayunda berkata dengan suara santai dan tenang.

__ADS_1


"Baiklah Maya, jika kamu tetap tidak mau mengaku jika kamu pelaku utama masalah bingkisan itu tidak apa-apa. Tapi aku punya saksi atas tindakan kamu ini."


Maya kesal dengan Ayunda yang ternyata diam-diam berani melawan nya itu. Ia berpikir bahwa Ayunda adalah santri yang bisa ia tekan dan ia manfaatkan. Ia berpikir Ayunda akan tutup mulut ketika di minta memberikan bingkisan itu pada Alifa. Ternyata dugaan Maya salah, justru Ayunda sendiri yang malah membongkar bahwa dirinya yang menyuruh.


'Sial, benar-benar sial. Awas kau ayunda.' batin maya.


Maya tak terima disalahkan. Karena bagaimana pun juga Maya tak pernah merasa salah. Ia kesal dengan Alifa yang selalu berani melawan nya. sekarang ia bertambah kesal pada Ayunda karena ia berani membongkar rahasia ini.


Mata Maya terus menatap wajah Ayunda dengan tatapan mata yang membunuh. Ia tak terima dengan semua ini. Ia ingin membuat perhitungan dengan Ayunda setelah ini.


"Bagaimana Maya?" ucap ustadzah Nabila mengagetkan dirinya yang sejak tadi melamun dengan penuh kebencian.


"Jika kamu terus-terusan berbuat onar seperti ini. Saya tidak segan-segan memanggil orang tua kamu untuk...!'' belum selesai ustadzah Nabila berbicara, dengan cepat Maya sudah memotong ucapan ustadzah nya


"Silahkan..!" ucapnya tegas dan tanpa takut sedikit pun.


______

__ADS_1


__ADS_2