
"Ustadzah yakin, jika kamu anak yang baik dan benar-benar ingin membuat orang tua kamu bangga. Ayo Maya, semangat lah untuk mendapatkan hasil terbaik dari diri kamu sendiri." dengan sisa-sisa airmata nya ustadzah Nabila begitu tulus menasehati Maya dengan tatapan penuh harap.
"Iya ustadzah, saya menyesal. Maafkan saya ustadzah.
Ustadzah Nabila menyentuh pundak Maya dengan kedua tangannya.
"Sekarang bangunlah..! Minta maaf lah pada semua ustadzah di sini. Minta maaf juga pada santri yang pernah kamu dholimi, terutama pada Sofi dan Ayunda, orang yang yang kamu ancam dan kamu rugikan. Maya, besok pagi kamu datang ke asramanya ustadzah Arin, kamu minta maaf ke Alifa. Lakukan semua itu dengan sungguh-sungguh dan berjanjilah untuk tidak mengulangi perbuatanmu lagi."
"Iya ustadzah Nabila, saya janji akan minta maaf pada Alifa dan semua nya. Saya janji akan nurut sama ustadzah. Saya janji ustadzah..!"
Sambil menghapus airmata yang masih menetes di pipinya, Maya pun bangun dari duduk nya dan mendekati ustadzah Arin dan ustadzah pengasuh lainnya.
Dengan tulus dan sungguh-sungguh, Maya meminta maaf atas semua yang ia lakukan selama ini. Ia pun mencium tangan satu persatu ustadzah yang ada diruangan tersebut.
__ADS_1
Maya pun mendekat ke arah Sofi dan Ayunda. Ia Meminta maaf ke mereka dengan cara yang baik dan tak disangka oleh mereka, Maya memeluk mereka bergantian. Mereka bingung harus berbuat apa. Jika dulu Maya sangat anti bersalaman dan dekat dengan mereka, tapi sekarang Maya sudah banyak berubah.
"Aku juga minta maaf padamu, Maya!"
"Maaf, kalau aku terpaksa jujur pada ustadzah tentang masalah bingkisan ini. Aku....!"
"Tidak apa-apa Ayunda, justru aku yang harus minta maaf pada kamu atas ulah aku yang sangat keterlaluan." ucap Maya memotong ucapan Ayunda yang belum selesai.
Sofi hanya mengangguk menanggapi kata-kata Maya yang masih membuat dirinya bingung. jujur pikiran Sofi sangat bleng dengan satu persatu yang terjadi pagi ini. Iya masih bingung untuk mencerna setiap adegan demi adegan yang di lihatnya di sini.
Sofi tau, jika sikap Maya hari ini benar-benar menjadi cerminan diri bahwa senakal-nakalnya anak pasti akan menemukan hidayah dari Allah cepat atau lambat.
Dulu Maya begitu bebal untuk di nasehati siapapun. Bahkan ia sangat kebal dengan segala macam hukuman dari ustadzah-ustadzah yang berada di darul Huda. Semua hukuman Maya terima jika ia berbuat onar dan menggangu santri lainnya, tapi ternyata semua hukuman tak membuat Maya kapok dan jera.
__ADS_1
Justru hari ini, Maya menangis menyadari semua kesalahannya hanya dengan bentakan dari ustadzah Nabila. Bentakan seorang ustadzah yang biasa bersikap lembut dan kalem jika mengahadapi santri-santrinya yang sedikit bandel justru mampu menyadarkan orang yang keras kepala seperti Maya.
"Ayunda, Sofi apa boleh aku berteman dengan kamu?" tiba-tiba Maya meminta untuk menjadi teman mereka.
"Tak ada yang melarang seseorang untuk berteman, Maya. Aku senang jika kamu mau berteman dengan kita."
"Terimakasih Ayunda. Terimakasih banyak bisa menerima ku menjadi teman kamu."
"Sofi, boleh kah aku berteman juga dengan kamu. Maafkan semua kesalahanku, Sofi."
"Iya, InsyaAllah." jawab Sofi yang masih bimbang dengan perubahan yang begitu cepat ini.
______
__ADS_1