
Ustadzah Nia sungguh terkejut dengan ucapan santri nya itu. Pengakuan Alifa benar-benar membuat dirinya tak percaya. Apa yang di sampaikan Alifa sungguh membuat dirinya berada diantara ambang batas kepercayaan.
"Apa kamu serius Alifa?" tanya ustadzah Nia tak percaya.
"Apa saya harus bohong dengan masalah sebesar ini, ustadzah."
"Tapi..., kenapa dengan tiba-tiba Gus Al ingin mengkhitbah kamu?"
"Saya sendiri juga tak mengerti maksud Gus Al itu bagaimana. Rumit ustadzah."
"Rumit?? Maksudnya gimana?"
Akhirnya mengalir lah cerita di mana Alifa di panggil ke ndalem dan niat Gus Al untuk mengkhitbah dirinya. Alifa juga menceritakan bagaimana dengan dirinya yang sebenarnya masih ingin kuliah serta permintaan Gus Al yang meminta dirinya ikut ke Kairo dan kuliah disana bersama Gus Al.
Alifa pun menceritakan tentang permintaan Gus Al untuk menerima cincin sebagai bentuk tanda keseriusan dirinya. Dan Alifa pun menceritakan bagaimana sikap Gus Al yang berubah cuek dan ketus setelah Alifa menolak memakai cincin bermata yang di kasih Gus Al.
Semua Alifa cerita kan ke ustadzah Nia tanpa ada yang di kurangi maupun di tambah. Alifa juga menceritakan tentang ummi dan kyai yang memberikan kebebasan untuk Alifa dan Gus Al menyelesaikan masalah ini berdua.
"Tapi saya bingung ustadzah."
"Bingung kenapa?"
"Sikap Gus Al tadi terlihat marah dan kesal pada saya, ustadzah. Bahkan Gus Al tak menyahut ketika saya pamit pulang ke asrama. Gus Al tak mencegah saya seperti sebelum nya. Saya takut Gus Al marah pada saya ustadzah."
Ustadzah Nia terkekeh mendengar ucapan Alifa yang memikirkan tentang perasaan putra tunggal kyai Abdullah tersebut.
"Kenapa ustadzah Nia malah menertawakan saya?'' tanya Alifa bingung melihat tingkah ustadzah Nia yang menertawakan dirinya dengan spontan.
__ADS_1
"Kamu lucu Alifa. Ternyata kamu juga punya rasa pada Gus Al. Kenapa kamu tidak langsung terima aja khitbah dari Gus Al." ustadzah Nia masih terkekeh dengan reaksi Alifa.
Alifa mendelik dan nampak kesal dengan ucapan ustadzah nya itu. Bagaimana bisa ustadzah Nia bilang suruh terima khitbah dari putra mahkota darul Huda tersebut sedangkan usia nya saja masih belum genap 17 tahun.
"Jangan cemberut nanti cantik nya hilang. Ustadzah hanya becanda."
Ustadzah Nia pun terlihat membenarkan duduknya dekat Alifa.
"Sekarang ustadzah ingin tanya sama Alifa. Alifa punya rasa tidak dengan Gus Al..?"
"Saya gak tau ustadzah, ini semua bagi saya sangat mengejutkan. Tapi saya lihat jika apa yang Gus Al mau itu terlihat sungguh-sungguh. Saya bingung harus bagaimana. Gus Al mendesak saya sedang di lubuk hati saya, saya masih ingin sekolah. Ingin kuliah, kumpul dengan teman-teman, Berorganisasi, belajar dan masih ingin banyak belajar ustadzah. Jangankan memikirkan untuk menikah, memikirkan dekat dengan laki-laki pun saya belum. Saya harus gimana ustadzah..?"
"Sabar.., jangan sampai semua ini membebani hatimu. Sebentar lagi kamu akan ujian akhir. Jangan sampai hal ini menganggu kamu. Percaya lah semua pasti ada jalan keluarnya."
Sekarang ustadzah Nia tanya, apa yang kamu lihat dari sosok seorang Gus Al."
Ustadzah Nia tersenyum dengan reaksi Alifa tersebut.
"Maksudnya ustadzah, apa kamu punya sedikit rasa pada Gus Al. Sekarang coba kamu jujur, apa kamu tertarik dengan Gus Al. kesan apa pertama kali jika kamu melihat seorang Gus Al?"
"Tak ada orang yang tidak tertarik dengan pesona seorang putra kyai seperti Gus Al, ustadzah. Dia baik, sopan seorang santri Al Azhar Kairo, seorang hafidz. Tentu saja jika di tanya saya tertarik atau tidak tentu saja saya jawab tertarik. Tapi menikah belum terpikirkan oleh saya. banyak angan dan mimpi saya yang harus saya raih. Kalau menikah aduh ustadzah.., saya benar-benar belum memikirkan nya. Andai Gus Al itu bisa mengerti saya sedikit saja pasti semua semua tidak seperti ini."
"Gus Al harus mengerti kamu?? Emang nya kamu ingin seperti apa sayang?"
"Saya ingin Gus Al mengerti saya sedikit saja ustadzah bahwa saya masih ingin kuliah. Umur saya juga belum cukup untuk menikah. Saya sudah bilang ke Gus Al, jika Gus Al serius dan mau menunggu saya selesai kuliah saya sudah janji jika saya akan mengabdi di pesantren sini. Itu artinya saya akan tetep di sini untuk mengabdi sekaligus kuliah ustadzah, tentu kalau saya berada di sini Gus Al tak perlu khawatir kalau saya ingkar janji. Ummi dan kyai pasti bisa memantau saya juga. Tapi ..''
"Tapi kenapa, kenapa gak kamu lanjutkan cerita nya."
__ADS_1
"Tapi Gus Al meminta saya memakai cincin yang Gus Al kasih kan. Saya menolak ustadzah."
Ustadzah Nia masih setia mendengar kan cerita santri unggulan darul Huda tersebut dengan seksama. Sesekali ustadzah Nia mengusap punggung Alifa untuk menenangkan hati Alifa yang mata nya mulai berkaca-kaca ketika bercerita.
"Kenapa kamu menolak, jika Gus Al mau menunggu mu dan kamu juga benar-benar serius dengan permintaan Gus Al yang ingin mengkhitbah kamu, kenapa kamu mesti menolak hanya memakai cincin itu."
Alifa terlihat menghapus airmata nya yang sedikit menetes di pipi nya.
"Saya menolak memakai cincin itu bukan berarti saya menolak niat baik Gus Al yang ingin mengkhitbah saya, ustadzah. Saya sudah bilang ke Gus Al, saya pasti tak nyaman memakai cincin itu di asrama. Saya sudah bilang juga supaya ummi saja untuk sementara yang menyimpan cincin tersebut. Tapi sepertinya Gus Al marah dengan cara saya, ustadzah. Gus Al kelihatan banget jika kesal dengan saya. Gus Al pun berubah tadi sikap nya ke saya, ustadzah."
Alifa kembali menghapus airmata nya dengan ujung jari nya.
"Ustadzah Nia.., saya harus bagaimana mengatasi semua ini?''
Ustadzah Nia terus memegang tangan dan mengusap punggung Alifa supaya Alifa bisa sedikit tenang dan nyaman. Ustadzah Nia paham bagaimana perasaan Alifa saat ini. Di saat dirinya lagi mempersiapkan diri untuk masih di universitas yang di inginkan serta usia yang masih sangat muda untuk menikah justru ada seorang putra kyai yang ingin mengkhitbah dirinya secepatnya. tentu itu sangat membuat Alifa terguncang dan sedikit bingung. Untuk seorang santri seperti Alifa, jangankan dekat dengan lawan jenis punya teman laki-laki pun mungkin Alifa tidak. Karena sedari usia 4 tahun Alifa sudah hidup di balik penjara suci darul Huda.
"Sekarang kamu tenangkan dirimu dulu ya, Alifa, dekatkan diri ke Allah semoga ada jalan yang terbaik yang Allah kasih kepada mu. Yakinlah tak ada masalah yang dihadapi manusia tanpa penyelesaian. Mungkin saat ini pun Gus Al sama seperti mu. sangat terguncang dan pikiran nya tak tenang. Maksud Gus Al dengan menginginkan kamu untuk memakai cincin yang Gus Al kasih itu benar, tapi maksud kamu menolak memakai dengan alasan tak nyaman dan masih tinggal di asrama itu juga benar."
"Saya rasa kamu harus menyepakati hal itu dengan Gus Al sendiri. Bicaralah dengan Gus Al tentang itu. Mungkin nanti Gus Al akan mengerti."
"Saya sebenarnya juga ingin ketemu Gus Al lagi untuk menyelesaikan masalah ini, ustadzah. Pikiran saya tak nyaman jika saya belum bicara dengan nya."
"Ustadzah Nia, apa ustadzah bisa membantu saya?"
"Saya harus membantu apa Alifa?"
_________
__ADS_1