
"Ini tak bisa di biarkan, ustadzah Arin. Kita harus segera menyelesaikan masalah ini sesegera mungkin. Kita banyak di rugikan di sini. Ayunda tertuduh, dia diancam. Ini tidak bisa dibiarkan."
"Iya saya setuju, kita akan bicarakan dengan ustadzah yang bertanggung jawab di asrama tempat Maya mukim."
Setelah sekian waktu berunding dengan baik, akhirnya di sepakati bahwa besok pagi masalah ini akan di bicarakan dengan ustadzah asrama satu. Semua harus selesai dengan baik. Karena banyak pihak yang di rugikan oleh ulah satu orang.
"Kalau begitu saya dan lainnya permisi kembali ke asrama kami dulu ustadzah, besok kita ketemu lagi untuk menyelesaikan masalah ini. Ayunda juga besok pagi jangan lupa untuk menemani dan bisa menyelesaikan masalah ini dengan santri asrama satu secepatnya. Saya permisi dulu assalamualaikum."
"Waalaikumussalam." jawab ustadzah dan semua santri yang berada di aula."
"Terimakasih ustadzah Arin." ucap Ayunda sambil berdiri dan menyalami mereka dengan sopan.
**
Drama malam ini belum selesai. sesampainya di asrama, Sofi segera menuju kamar nya. belum juga masuk, ia sudah di hadang oleh Zia cs. Mereka menanyakan tentang pertemuan Sofi, ustadzah Arin dan ustadzah mala ke asrama depan yang membahas tentang orang yang menitipkan bingkisan itu.
"Haddehh...!" ucap Sofi sambil menepuk jidatnya karena ulah Alifa, Zia, dan teman sekamarnya.
Tubuh Sofi luruh ke lantai kamar asrama nya karena capek menghadapi drama malam ini.
"Tawarin minum kek atau apa gitu. Ini duduk juga belum tapi sudah di brondong pertanyaan yang macem-macem." ucap Sofi sambil mengatur nafas dan memejamkan matanya.
Alifa, Zia dan semua tertawa melihat tingkah temannya itu yang kelihatan betul sangat capek.
"Yaudah ini.., nona cantik silahkan di minum dulu baru bercerita ke kita ya." ucap Zia sambil memberikan sebuah teh kotak milik Alifa yang tergeletak di atas meja samping tempat tidurnya.
__ADS_1
Spontan Sofi langsung menyambar kotak teh yang di kasihkan Zia dan langsung meminumnya sampai habis.
"Teh kotak ku..!" jerit Alifa.
"Udah jangan ribut, cuma teh kotak juga. Nanti bisa minta ganti sama yang minum." ucap Zia santuy.
Zia mengedip-ngedipkan mata melihat Sofi yang tampak kesal dengan dirinya. Ia terus menggoda Sofi yang terlihat seperti ingin memakannya hidup-hidup.
"Pletak.." Sofi menyentil kening Zia lirih.
"Kondisikan itu mata, ketap-ketip kayak jelangkung hidup aja." sungut Sofi kesal.
"Auw.. sakit tau." pekik Zia yang spontan mengusap-usap keningnya.
Alifa dan teman lainnya hanya tertawa menyaksikan ulah Sofi dan Zia. Keduanya terlihat lucu dan menghibur. Meski wajah Sofi terlihat masih kesal tapi kelihatannya suasana hati Sofi sudah sedikit membaik.
"Sofi.., sekarang kamu bisa cerita donk." ucap Alifa.
Sofi terlihat menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya. Ia mulai bercerita mengenai bingkisan itu.
"Anak itu bernama Ayunda. Ternyata dia di suruh dan di ancam oleh Maya."
"Kunyuk lagi...??" teriak Zia begitu kencang.
Spontan Alifa memukul lengan Zia yang teriak tak terkendali dan masih mengatai Maya kunyuk.
__ADS_1
"Istighfar Zia...! bahasa mu itu Lo bikin syetan yang mendengar senang. Karena merasa ada temannya.. Istighfar atuh." ucap Alifa.
"Ya maaf.., habisnya ku..eh Maya tak henti-hentinya membuat ulah. Kan kesal juga kita fa..!"
"Ya tau, tap---!"
"Mau diterusin gak sich..! ribut-ribut sendiri tinggal tidur nich..!'' ucap Sofi memotong ucapan Alifa.
"Eeh.. Jangan donk! Kan kamu belum selesai cerita, main tidur aja. Lanjutkan, Sofi."
Akhirnya Sofi menceritakan semuanya tanpa terkecuali. Ia menceritakan tentang seorang yang mengancam Ayunda. Ia juga menceritakan bagaimana awalnya Ayunda yang mengelak dan mengatakan jika semua itu fitnah.
"Trus.., gimana ceritanya Ayunda tiba-tiba mengatakan jika semua itu suruhan Maya?" tanya Alifa.
"Ustadzah Arin bilang akan membahas masalah ini dengan ummi. Mungkin Ayunda berpikir dua kali untuk tetap menutupi kejahatannya si Maya."
Alifa dan Zia saling beradu pandang. Mereka tentu tak habis pikir dengan ulah Maya. Mereka heran sampai kapan Maya akan terus mencari musuh di pondok pesantren sini.
Sofi masih terus menceritakan tentang besok pagi sesuai rencana mereka akan berbicara dengan ustadzah asrama satu tempat di mana Maya mukim.
"Kamu juga besok ikut ke sana, Sofi?" tanya Alifa.
"Entahlah...!" jawabnya sambil mengangkat kedua bahunya.
______
__ADS_1