
"Mau kah ustadzah Nia menemani saya ketemu Gus Al lagi? Saya tidak tenang jika belum bicara soal ini pada Gus Al dan menyelesaikan semua masalah kami biar kita sama-sama enak dan tak terbebani, ustadzah."
Alifa menunduk karena hatinya benar-benar bingung dan galau. Alifa tak tau lagi harus bagaimana menyikapi kondisi ini.
"Apa kamu gak salah, Alifa? Bagaimana mungkin ustadzah bisa ikut campur dalam masalah kamu ini. apa nanti kata kyai dan ummi..?"
"Lalu saya harus gimana ustadzah?"
Ustadzah Nia juga tak mengerti apa yang harus ia lakukan untuk membantu santri nya itu dalam menyelesaikan semua masalah nya dengan putra tunggal kyai Abdullah.
Sebenarnya, menurut ustadzah Nia masalah ini cukup simpel bagi nya. tapi yang jadi rumit, keduanya sama-sama keras dan mempunyai kemauan berbeda satu sama lain yang sama-sama ingin di ikuti.
Andai salah satu diantara keduanya ada yang sedikit memahami dan mengerti pasti masalah ini tak serumit dan membuat hati tak nyaman.
Jika saja Alifa mau memakai cincin yang Gus Al kasih atau Gus Al mau mengerti dengan kehendak Alifa. Masalah akan selesai dan mereka sama-sama tenang dan nyaman untuk saling menunggu sampai keduanya selesai dalam pendidikan nya masing-masing yang saat ini sedang di tempuh nya.
"Sekarang kamu istirahat ya, Alifa. Bersikap lah biasa dan jangan jadikan semua ini beban. Jangan berubah sikap jika tak ingin teman dan ustadzah pengasuh asrama mu curiga. Mereka tak akan mengetahui masalah ini jika sikap kamu biasa saja."
"Kamu mengerti maksud ustadzah kan?"
Alifa mengangguk dengan pasrah.
"Saya mengerti ustadzah. doakan Alifa ya, ustadzah."
"Tentu, tentu doa ustadzah Nia selalu yang terbaik untuk kamu. percayalah..! Jika Gus Al itu jodoh kamu mau serumit apapun masalah yang dihadapi pasti kalian akan bersatu."
__ADS_1
"Tetap lah fokus dengan ujian akhir kamu ya..!"
"Jangan sampai masalah ini mengganggu pikiran kamu. Sebenarnya ustadzah pun tak rela jika kamu menikah dengan cepat seperti ini. Kamu anak yang cerdas dan penuh prestasi. Sayang jika harus menikah secepat ini."
"Iya ustadzah, saya pun begitu. Tapi ini putra kyai yang mengkhitbah saya. Bener-bener membingungkan ya ustadzah.' ucap Alifa pasrah.
Ustadzah Nia hanya tersenyum menanggapi ucapan putus asa santri terbaik darul Huda tersebut.
Jangankan Alifa yang masih berusia cukup muda, dirinya yang cukup dewasa saja kaget dengan khitbah yang tiba-tiba ini. Kasihan dengan Alifa itu pasti. Karena siapa orang yang ingin menikah muda..? Apalagi Alifa tipe orang yang sangat berkomitmen.
"Jangan bingung ya .! Sekarang mending Alifa pulang ke asrama saja. Biarkan semua mengalir semestinya saja. jika Gus Al meminta mu datang ke ndalem, datang lah. Dan selesaikan sama-sama. bicara yang tenang biar kamu maupun Gus Al sama-sama enak dan nyaman."
"Tapi, jika Gus Al tak meminta mu datang ke ndalem, ikuti saja alurnya seperti apa. Yang penting Alifa sudah mengutamakan mau nya gimana."
Alifa sedikit merasa tenang setelah curhat ke ustadzah Nia. Hatinya sedikit nyaman.
Ia akan mengikuti apa yang ustadzah Nia katakan. Biarlah semuanya mengalir semestinya saja. Benar apa yang ustadzah Nia katakan jika dirinya berjodoh dengan Gus Al tentu mereka akan bersatu.
"Terimakasih banyak. Terimakasih atas nasehat ustadzah."
Ustadzah Nia hanya tersenyum. Karena jika di lihat, Alifa sudah sedikit membaik. Tidak seperti tadi waktu baru keluar dari kediaman kyai dan menabrak dirinya.
"Sekarang kamu kembali ke asrama biar ustadzah antar ya. Tapi ingat, bersikap lah seperti biasa. biar ustadzah Arin dan lainnya serta teman kamu tidak menaruh curiga."
"Iya ustadzah, saya mengerti." jawab Alifa sambil tersenyum.
__ADS_1
Akhirnya, Alifa pun kembali ke asrama dengan di antar oleh ustadzah Nia dengan menggunakan motor matic nya. Alifa menuruti ucapan ustadzah Nia kalau dia harus bersikap seperti biasa biar rekan asrama nya serta ustadzah pengasuh asrama tidak curiga dengan apa yang terjadi.
Biarkan Semua berjalan semestinya serta sewajarnya.
Alifa memasuki asrama dengan sikap biasa seperti tidak terjadi apa-apa. Di dalam hati sebenarnya Alifa juga masih sangat memikirkan tentang perasaan Gus Al. Marah kah dia? Kesel kah? Atau mungkin sudah tidak mau dengan nya. Tapi Alifa menutupi semua itu dengan sikap biasa.
"Alifaaaaa.., kamu dari mana aja sich, Fa..? dari tadi aku mencari mu." ucap Zia sambil memeluk Alifa erat seperti orang yang sudah setahun lebih tak bertemu.
"Lepas.., apaan sich geli tau." Alifa mendorong tubuh Zia supaya tidak terlalu erat memeluk nya.
Zia pun memukul lengan Alifa lirih karena jengkel dengan Alifa.
"Aduhh...! Ganas banget sich, Zia. Main pukul-pukul kayak pegulat aja kamu nie." ucap Alifa sambil mengelus lengan nya yang di pukul oleh Zia.
"Biarin, sebel dech.'' Zia memonyongkan bibirnya kesal dengan Alifa.
Alifa spontan tertawa melihat reaksi teman sekamarnya itu yang terlalu lebay menurut nya.
"Kamu makin lucu, anak manja." ucap Alifa masih dengan tertawa nya.
Zia nampak mencebikan bibir nya ke arah Alifa.
Alifa semakin kencang tertawa dengan reaksi lucu temannya tersebut. Alifa senang bisa mengerjain dan membuat kesal Zia. Sungguh ini hiburan tersendiri bagi Alifa. karena dengan membuat Zia semakin bertambah kesal sangat mengobati hati Alifa yang sedang galau luar dalam.
__________
__ADS_1