
Hari berlalu begitu cepat. Tak terasa Alifa sudah memasuki ujian akhir kepondokan. Ia mengikuti ujian dengan fokus. baik itu ujian tulis maupun ujian praktek. Alifa ingin lulus dari pesantren darul Huda dengan nilai sempurna. Baik nilai akademik maupun nilai pondok. Meski hati nya sedikit terusik dengan masalah dirinya dan Gus Al yang tak ada penyelesaian.
Masalah diri nya dengan Gus Al kemarin sebenarnya belum selesai, tak ada pembicaraan ulang atau komitmen antara kedua nya. Gus Al pun sudah kembali ke Kairo tanpa bicara terlebih dahulu pada Alifa mengenai masalah khitbah kemarin. Entah gimana lagi kelanjutan dari itu, tak ada pembicaraan ulang antara kedua nya.
Alifa pun jadi dilema untuk mengambil langkah. Karena waktu itu Alifa pernah berbicara dengan Gus Al, jika Gus Al siap menunggu, Alifa akan mengabdi di pondok sambil kuliah. Tapi sampai Gus Al berangkat pun tak ada jawaban pasti. Iya atau tidak. Itu sangat membuat Alifa bingung harus bagaimana menyikapi kondisi ini.
Alifa menjalani ujian dengan harapan bisa lulus dengan nilai yang memuaskan. Bagaimana pun juga Alifa hanya ingin ayahnya bangga dengan diri nya.
"Kamu gak ambil makan, fa?" tanya Sofi yang tiba-tiba muncul di dekat nya.
"Iya nanti saja lah. Kamu ambil sana gih.., nanti kelaparan lagi." ledek Alifa sambil tertawa lirih.
"Yee ngaco kalau ngomong. suka asal dech." ucap Sofi sambil mendorong lengan Alifa.
Alifa semakin tertarik untuk menggoda Sofi. Entah kenapa sejak diri nya ada masalah dengan Gus Al. Alifa akan sangat puas jika sudah menggoda temannya sampai teman nya merasa kesal.
"Kan emang kamu suka kelaparan, gimana sich kamu Sofi."
Sofi hanya mencebik menanggapi ucapan Alifa yang menyebalkan. Tapi emang benar sich apa yang di ucapkan Alifa, jika diri nya kadang merasa kelaparan jika telat makan. Sofi senyum-senyum sendiri mengingat jika apa yang dikatakan Alifa ada benar nya.
"Nah kan, kesampet demit dapur. Jadi senyum-senyum sendiri ga jelas begitu." ucap Alifa menepuk jidat melihat tingkah teman sekamarnya itu.
"Biarin.'' jawab Sofi sambil mencebik.
Alifa pun tertawa dan puas melihat teman nya itu nampak kesal.
__ADS_1
"Fa, kenapa sich dari tadi suka banget bikin orang kesal.'' protes Sofi dengan memelas.
Alifa masih tertawa mendengar Sofi berbicara dengan memelas seperti itu.
"Okey-okey. Maaf cantik." jawab Alifa dengan masih tertawa.
"Alifa....!" Sofi sedikit berteriak memanggil Alifa.
"Kenapa atuh teriak, orang juga di dekat nya begini." ucap Alifa sambil menggosok telinga nya yang sedikit berdengung mendengar teriakan Sofi yang tepat di dekat telinga nya.
"Lagian orang akan mengira kamu kelaparan nanti kalau teriak kayak gitu." Alifa terlihat kesal dengan ulah teman sekamarnya itu.
Sofi hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan Alifa yang sedang kesal. Dirinya sendiri suka banget bikin orang kesal. giliran di bikin kesal sendiri gak mau.
"Fa, kamu beneran serius mau ngabdi di sini ?" tanya Sofi yang masih belum percaya jika teman nya ini akan tetap tinggal di pesantren darul Huda setelah lulus kuliah. Padahal setau Sofi, Alifa sejak kecil tinggal di pesantren darul Huda. Apa mungkin Alifa tak ingin kuliah di universitas kota lain.
"Gak apa-apa, fa. Hanya ingin tau siapa saja yang akan ngabdi di pesantren sini."
"Emang nya kamu ga bosen gitu fa, dari kecil tetap di darul Huda sini. Apalagi kamu juga jarang pulang..!"
Alifa tersenyum menanggapi ucapan dari teman satu kamar nya itu. Memang sich Alifa jarang sekali pulang. Alifa pulang jika libur semester, kadang Alifa juga lebih memilih berada di pondok pesantren ketika libur semester. Alifa pulang setiap hari raya idul Fitri saja.
Mau pulang Alifa juga malas. dulu ketika masih kecil, semua kakak nya juga menuntut ilmu di pesantren, Ayahnya bekerja di luar kota, mama nya sudah meninggal ketika Alifa masih balita. Makanya Alifa lebih nyaman berada d pesantren kalau libur semester. Yang penting bagi Alifa, ayah' nya sering menelpon atau menjenguk di pondok pesantren.
"Atau mungkin kamu ada yang di tunggu, fa. Maka nya kamu lebih betah berlama-lama di pondok pesantren sini."
__ADS_1
"iyaa, emang ada yang di tunggu kok." jawab Alifa santuy.
"Haa.., serius kamu, fa." ucap Sofi kaget mendengar ucapan Alifa barusan.
"Emang nunggu siapa, fa. Ustadz Yusuf kah atau.....?"
"Atau mungkin nunggu hati Sofi terbuka supaya mau ngabdi juga di pesantren?" jawab Alifa cepat sebelum Sofi menyelesaikan ucapan nya.
Sofi mendelik tajam dengan ucapan Alifa yang memotong ucapan nya dengan kata-kata nya yang asal.
Alifa tertawa melihat reaksi teman nya itu. Bener-bener membuat teman nya kesal bisa membuat hati Alifa melupakan Gus Al.
_____
#Sofi.
Akhir-akhir ini entah kenapa teman sekamarnya itu senang sekali membuat teman lainnya kesal.
Alifa kadang bertingkah agak aneh. Kadang ia mendapati Alifa yang terdiam sendiri ketika mau tidur. Kadang Alifa juga sering absen dari jamaah di masjid.
Alifa terlihat berubah setelah di panggil untuk menghadap kyai dan ummi di ndalem. Alifa waktu itu meninggalkan asrama dalam waktu yang cukup lama. Entah ada apa, semua teman nya tak ada yang tau. Bahkan ketika ustadzah Arin bertanya.., Alifa menjawab hanya di panggil untuk mempersiapkan diri untuk ujian secara betul-betul. Sangat gak masuk akal bukan. Apa mungkin seorang kyai memanggil santri nya hanya untuk bilang suruh betul-betul mempersiapkan diri untuk menghadapi ujian akhir. Aneh saja teman nya itu. Jawaban yang sangat mengada-ngada menurut Sofi.
Tapi sejak itu Alifa sering kali tidak fokus. Dan yang anehnya lagi, dulu ketika awal masuk di kelas 12. Alifa terlihat semangat jika di tanya ustadzah Arin maupun temannya tentang kelanjutan pendidikan nya nanti.
Alifa selalu mengatakan ingin kuliah di ibukota. Alifa juga pernah bercerita jika orang tua nya menyuruh Alifa kuliah di fakultas kedokteran. Itu mengapa Alifa punya keinginan kuliah di ibukota setelah lulus dari pondok pesantren darul Huda.
__ADS_1
Tapi sekarang, Sofi di buat terkejut dengan kata teman-teman nya yang bilang jika Alifa akan ngabdi di pondok sambil kuliah di kota sini. Tentu awal nya Sofi tak percaya, Aan tetapi barusan Sofi mendengar sendiri ucapan dari teman nya itu bahwa kemungkinan besar dirinya akan tetap tinggal di pesantren darul Huda untuk mengabdikan diri pada pondok dan kuliah di kota sini.
'Membingungkan bukan? Sebenarnya ada apa dengan Alifa? kenapa tiba-tiba ia ingin ngabdi di pondok?' batin Sofi.