Jatuh Cintanya Sang Juara Qori.

Jatuh Cintanya Sang Juara Qori.
Bab 36. Sulitnya Jujur.


__ADS_3

"Fitnah..??"


"Fitnah apa...? jelas-jelas kamu yang memberikan bingkisan itu ke aku. Kamu bilang itu untuk Alifa dan dari teman asrama sini. Apa kamu amnesia, sekarang bilang itu fitnah. kamu udah pikun? Belum kan?" Sofi mencecar santri yang kemarin menitipkan bingkisan itu.


"Kamu bisa boong sama aku, tapi kamu gak bisa boonk sama Allah. Karena Allah melihat apa yang kamu lakukan. Sekarang aku tanya sekali lagi sama kamu, fitnah apa yang kamu maksud?" Sofi begitu emosi mendengar jawaban orang yang menitipkan bingkisan tadi jika itu fitnah katanya.


Santri yang itu hanya diam membisu tanpa bersuara. Ia menunduk seakan enggan menatap Sofi yang terus menerus menghujani dengan tatapan yang menusuk hatinya itu.


"Ustadzah.., klu boleh tau siapa nama santri ini."tanya Sofi pada ustadzah asrama yang di datangi ini.


"Nama nya Ayunda kak." jawab salah satu santri yang duduk di barisan depan.


Sofi menoleh ke suara yang menjawab pertanyaan nya tersebut. Kemudian Sofi mengangguk mengerti.


"Sekarang tolong kamu jawab Ayunda, apa maksud kamu dengan menitipkan bingkisan itu ke aku tadi.salah apa Alifa sama kamu, sehingga kamu bisa berbuat seperti itu?" tanya Sofi dengan penuh emosi.

__ADS_1


Semua santri hanya diam mendengar emosi Sofi yang tak terkendali sambil bertanya dalam hati apa benar Ayunda telah berbuat seperti itu.


"Jawab Ayunda.., Kenapa kamu hanya diam seperti itu. Mana keberanian kamu seperti kemarin?" Sofi terus berucap dengan sedikit lantang.


Ayunda masih terus menunduk tak berani menatap ke arah Sofi. Ia menjadi bimbang dengan keadaan yang ada. Apa ia harus jujur mengatakan yang sebenarnya atau menutupi semua itu dari Sofi.


Ayunda terus menunduk tak berani menatap wajah Sofi yang siap menerkam siapa saja yang ia mau. Sungguh Ayunda terus menunduk dengan pikiran yang berkecamuk tak karuan. Hatinya sungguh menyesal telah melakukan tindakan yang dilakukan dengan suruhan seseorang yang sangat membenci Alifa.


Kedua ustadzah yang menemani Sofi pun mulai geram dengan tingkah salah satu santri di pesantren darul Huda ini karena sungguh ulah dia sangat merugikan siapapun yang bersangkutan.


"Baik.., kalau tidak ada yang mengaku tidak apa-apa. Ustadzah.., saya tidak tahu bagaimana lagi menangani masalah ini. karena di sini tidak ada yang mengaku sama sekali. Jadi terpaksa masalah ini akan saya bahas dengan ummi khasanah. Maaf.., saya hanya ingin hal seperti ini tidak terulang kembali dan pelaku nya bisa jera. Tapi ternyata Sulit sekali meminta pelaku untuk jujur mengatakan hal yang seharusnya tidak perlu di tutupi lagi."


"Masalah ini memang masalah sepele, tapi akibatnya fatal jika orang yang terkena ulat bulu mempunyai riwayat alergi dan sebagainya. Jangan kan orang yang punya alergi, orang yang tidak punya alergi pun bisa gatal sekujur tubuhnya jika terkena ulat bulu."


Ustadzah Arin berbicara panjang lebar tentang masalah ini karena geram sudah sekian lama Sofi mencerca salah satu santri yang di maksud Sofi sudah menitipkan bingkisan untuk Alifa, tapi ternyata tak ada hasil sama sekali.

__ADS_1


"Ustadzah mala, Sofi mati kita kembali ke asrama kita dan kita bahas ini besok dengan ummi khasanah." ucap ustadzah Arin.


"Tapi ustadzah Arin.., apa tidak sebaiknya kita selesaikan sama-sama antar individu saja tidak perlu melibatkan ummi khasanah dulu." Jawab ustadzah asrama yang mereka datangi.


"Maaf ustadzah.., mau sampai kapan. Dari tadi Sofi sudah berusaha untuk bertanya pada santri yang tadi menitipkan bingkisan pada Sofi. Tapi sama sekali tidak ada hasil. Tak mungkin Sofi tidak mengenali wajah orang yang tadi menitipkan bingkisan itu."


"Tapi ustadzah Arin, tidak harus ke ummi masalah ini kan..?"


"lalu saya harus gimana lagi ustadzah?" jawab ustadzah Arin.


"saya gak punya banyak waktu ustadzah, karena santri di asrama saya juga sudah menunggu saya untuk mengaji. Saya bersama ustadzah mala dan santri saya permisi dulu."


Ustadzah Arin pun melangkah meninggalkan aula asrama dengan di ikuti Sofi dan ustadzah mala. Setelah sekian lama menunggu ternyata tidak ada yang mengaku juga.


Mereka berjalan hendak keluar dari ruang aula tersebut. Tiba-tiba terdengar suara seseorang yang menghalangi kepergian mereka.

__ADS_1


"Tunggu..!!"


_________


__ADS_2