Jejak Iko

Jejak Iko
12. kembali


__ADS_3

 kriiiiiing....


 suara alarm di samping tempat idur Iko berbunyi sangat keras. Iko segera terbangun karenanya.


"aduh....brisik sekali sih!"


Iko bangun dan mengusap-usap matanya yang masih terasa buram. ia menjulurkan tangannya mematikan bunyi alarm tadi.


"sudah pagi ya?"


Iko menatap sekeliling. ia menyipitkan matanya memastikan apa yang sedang ia lihat.


"loh, bukannya tadi gue tidur di rumahnya Koeda? gue balik?"


Iko meraba tubuhnya dan tempat tidurnya. ia masih belum yakin kalau dirinya benar-benar ada di kamarnya. Iko melihat bahwa dirinya kembali memakai baju tidurnya. jajanan yang kemarin ia bawa juga berserakan di lantai. ia segera melihat jam dinding dan memastikan hari apa sekarang.


"apa? udah jam setengah tujuh?"


Iko segera pergi mandi dan bersiap-siap berangkat sekolah.


"pagi mah."


Iko melihat Intan sedang menyiapkan sarapan.


"kamu ini. sejak kemarin gak keluar-keluar dari kamar. sebenarnya kamu ini beneran tidur atau gimana? mamah panggil-panggil kok gak di jawab."


Iko hanya diam. ia juga merasa heran dengan kejadian tadi. apakah itu cuma mimpi, atau nyata. 'gue bingung. sebenarnya kejadian tadi itu asli atau tidak sih? masa gue tidur seharian full tanpa makan dan minum. gak mungkin! tapi gue rasa itu beneran deh.' batin Iko.


"lah, mama dari tadi ngomong sama kamu gak di dengerin?"


Iko tersadar dari lamunannya. ia menatap Intan serius. ia hendak menceritakan kejadian kemarin.

__ADS_1


"mah, sebenarnya Tadi..."


belum sempat cerita, Iko teringat kejadian waktu di tempat sampah. waktu itu Intan tak mempercayai ceritanya. apa lagi sekarang. Intan juga pasti tak percaya.


"kenapa?"


Iko menggelengkan kepalanya. ia segera menikmati sarapannya.


"makan yang banyak, sayang."


Iko menganggukkan kepalanya.


setelah selesai sarapan, Iko segera berangkat sekolah tanpa berpamitan. ia sudah menebak kalau ia berpamitan, pasti akan di peluk atau di cium pipinya lagi. Iko hanya berteriak pamit setelah berada di depan pintu.


"mah...Iko berangkat..."


Iko segera berlari. ia tak peduli apa respon Intan. di jalan, lagi-lagi ia bertemu dengan Albi.


Albi segera. berjalan di sisi Iko. ia tersenyum lebar. Iko selalu merasa heran setiap melihat sahabatnya itu. setiap hari Albi selalu terlihat bahagia dan seperti hidup tanpa memiliki beban. Iko kadang merasa iri padanya.


"happy banget sih, lo!"


"ya donk. setiap hari kita itu harus bahagia coy. biar hidup ini gak berbeban."


Iko mengalihkan pandangannya. ia sudah muak dengan kata-kata itu.


"lo kira gampang apa pura-pura bahagia. sedangkan nyatanya gak ada yang bisa buat gue bahagia."


Albi tersenyum.


"gue tau."

__ADS_1


"hah?"


Iko tak mengerti dengan ucapan Albi. kadang ia tak bisa menebak bagaimana Albi sebenarnya. karna sikapnya sering tiba-tiba berubah.


"ayo. keburu telat."


Albi berlari mendahului Iko. karna tak mau kalah, Iko segera menyusulnya. mereka berlarian di sepanjang jalan hingga gerbang sekolah sudah ada di depan mata mereka.


"ahirnya. gue nyampe duluan."


Albi tersenyum penuh kemenangan.


"lo curang. mau tanding gak bilang-bilang."


"suruh siapa dari tadi lo meratapi nasib terus?"


"siapa yang meratapi nasib?"


triiiiiiing....


bel masuk tiba-tiba bunyi di tengah perdebatan mereka.


"kalian cepat masuk!"


satpam berjalan mendekati mereka yang sedang berdiri di tengah-tengah gerbang.


"iya, pak. maaf."


mereka berdua segera masuk kelas dan mengikuti pelajaran.


bersambung...

__ADS_1


__ADS_2