
Sudah beberapa hari Iko tidak masuk ke sekolah. Albi dan Ajib menjadi hawatir. apa lagi persahabatan mereka tak lengkap kalau Iko tidak ada.
"gue bosen. temenan sama lo doang garing sumpah!"
Albi dan Ajib sedang duduk di kantin. walau suasana kantin sangat ramai, mereka tetap merasa bosan.
"lagian suruh siapa kamu temenan sama aku?"
Ajib menyandarkan tubuhnya di dinding. kebetulan mereka duduk di pojok kantin.
"huh. Iko kapan sih kesininya?"
"aku juga heran. kemarin tante bilang Iko cuma gak enak badan. tapi kok aku gak percaya yah."
Ajib tampak berfikir.
"gimana kalau kita dateng aja kerumah Iko."
Ajib kembali semangat. ia menganggukkan kepalanya menyetujui usulan Albi. apalagi, Ajib gak tau dimana rumah Iko.
"ok. sepulang sekolah kita langsung kesana."
setelah jam pelajaran berahir, mereka segera pergi kerumah Iko.
tok tok tok..... tok tok tok...
Albi mengetuk pintu rumah Iko perlahan. tak ada jawaban.
"kok kaya gak ada orang yah."
__ADS_1
Ajib menganggukkan kepalanya.
"coba sekali lagi aja."
kini giliran Ajib yang mengetuk pintu.
"Iko.... tante... permisi.."
tetap tak ada jawaban. ahirnya mereka putus asa dan hendak pergi. namun, ketika hendak meninggalkan rumah Iko, Intan datang.
"loh, kalian berdua kok ada di sini?"
Albi dan Ajib terkejut melihat kedatangan Intan. tapi mereka juga merasa lega karna kedatangan mereka tak sia- sia.
"eh, tante... kami kesini mau ketemu Iko tante.."
Ajib yang diam hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.
Intan hanya diam. ia terlihat sangat lelah. bahkan matanya seperti baru selesai menangis.
"tante kenapa?"
karna penasaran, Albi bertanya pada Intan. Ajib pun segera menyadari hal itu.
"Iko gak ada di rumah. sekarang Iko lagi di rawat di rumah sakit."
Intan kembali meneteskan air matanya. Albi dan Ajib menjadi bingung. mereka terkejut dengan apa yang di ucapkan Intan barusan.
"Iko di rumah sakit? emangnya Iko sakit apa tante?"
Albi menyenggol pinggang Ajib. ia menyuruh Ajib diam karna Intan sedang menangis. Albi mengajak Intan duduk terlebih dahulu.
"tante bisa cerita pelan- pelan sama kita."
__ADS_1
Intan mengusap air matanya. ia menarik nafas agar merasa lega.
"dari kemarin Iko tak sadarkan diri. karna tante hawatir, tante bawa Iko kerumah sakit. tante cuma gak mau kalau Iko sama seperti papanya dulu."
Albi dan Ajib terdiam. mereka juga bisa merasakan apa yang Intan rasakan. pasti berat karna anak satu satunya sedang tak sadar di rumah sakit.
"papanya Iko itu dulu juga tak sadarkan diri seperti Iko sekarang. dokter bilang ini penyakit aneh. tak ada kerusakan apapun pada tubuhnya. tapi tak sadarkan diri seperti mayat. ahirnya, papanya Iko di anggap meninggal setelah sebulan tak bangun."
Albi dan Ajib tak tau kalau selama ini Intan begitu menderita. mereka jadi ikut menangis mendengar cerita Intan.
"kita boleh menjenguk Iko tante?"
Intan menganggukkan kepalanya.
"lalu, tante kenapa pulang?"
"tante ingin mengambil baju milik Iko."
"kalau gitu, kita bantu yah!"
Intan mengangguk. ia tersenyum karna Iko masih memiliki teman yang begitu peduli padanya.
"makasih ya.."
Albi dan Ajib menganggukkan kepalanya. mereka segera masuk kedalam rumah dan membereskan pakaian milik Iko. setelah selesai, mereka pergi bersama Intan ke rumah sakit.
"Iko..."
Albi segera memeluk tubuh Iko yang sedang berbaring lemah di atas ranjang. sedangkan Ajib hanya diam sambil meneteskan air matanya.
"Ko, bangun dong... ini gue. lo lupa yah sama gue. lo gak kangen apa?..."
bersambung...
__ADS_1