
Pagi ini Iko datang ke sekolah tanpa semangat. ia merasa kesepian karna biasanya Albi selalu menyapanya dan berangkat bersama. Iko merasa seperti hidup sendiri setelah keluar dari rumah. di kelas, Iko melihat bangku milik Albi kosong. mungkin dia belum datang.
"sepi hidup gue gak ada lo!"
Iko menggerutu tak karuan. setelah selesai menggerutu, Albi datang dan segera duduk di bangkunya. agar tak melihat Albi yang selalu menunjukkan expresi kesalnya, Iko memalingkan pandangannya ke jendela.
"ko..."
Albi tiba-tiba memangginya. entah karna kesalahan apa lagi Iko di panggil oleh Albi. 'jangan-jangan dia mau marah lagi nih sama gue. duh please deh gue salah apa lagi sih?' batin Iko. perasaannya sudah tak karuan. firasatnya menjadi buruk. Iko perlahan menengok ke arah Albi.
"ya?"
"gue mau minta maaf sama lo. gak seharusnya gue marah. mungkin gue nya aja kali yang terlalu sensitif. gue ..."
Albi bingung harus berkata apa lagi untuk menjelaskan semuanya ke Iko. Albi menundukkan kepalanya.
"lo serius minta maaf sama gue?"
Albi menganggukkan kepalanya. melihat itu, Iko tersenyum senang.
"gue juga minta maaf karna udah buat lo kesal selama ini. kita teman lagi kan?"
Albi menganggukkan kepalanya. belum selesai ngobrol, tiba-tiba guru datang. terpaksa mereka ahiri dulu obrolannya.
setelah jam istirahat mulai, Albi mengajak Iko ke kantin. setelah sampai disana ternyata sudah ada Ajib yang duduk di pojok. tidak! dia bukan duduk, lebih tepatnya dia tidur.
"kerjain lagi yuk!"
__ADS_1
Albi mengangkat satu alisnya. ia sudah memiliki niat busuk untuk membangunkan Ajib.
mereka berjalan perlahan agar Ajib tidak bangun dulu.
"satu...dua..tiga..."
Albi menggebrog meja dengan keras bersamaan dengan Iko yang sedang pura-pura minta maaf pada guru.
"maaf pak. maaf. saya tidak akan tidur di kantin lagi. maaf, pak!"
karna kaget, Ajib bangun dan mengikuti Iko yang sedang minta maaf.
"iya pak. saya juga minta maaf, pak."
seketika Albi dan Iko tertawa terbahak-bahak karena melihat tingkah ajib. ia nenangkup kan kedua tangannya di depan Albi yang tadi memukul meja. mungkin Ajib berfikir kalau ada guru yang sedang marah di sana.
Iko dan Albi tak henti-hentinya tertawa sampai mereka terduduk lemas. sedangkan Ajib, hanya melotot marah.
"kalian ngerjain aku lagi?!"
teriak Ajib. sepertinya kali ini dia benar-benar marah.
"wees. santai dong, jib. ini kan cuma bercanda."
Ajib segera duduk lagi dan tak mempedulikan mereka.
"sorry deh. jangan marah dong... kan jelek kalau kamu marah gitu."
__ADS_1
Albi bertingkah seperti orang yang sedang membujuk pacarnya yang sedang ngambek.
"iya, beb. jangan gitu dong."
Iko pun ikut membuat suasana semakin panas. sebenarnya mereka merasa geli sendiri.
"gila, ih. kaya aku pacar kalian aja!"
"haha... siapa juga yang mau jadi pacar lo!"
Iko tak bisa menahan tawanya. melihat Albi dan Iko bersama, Ajib jadi merasa heran.
"kalian udah baikan?"
Iko tersenyum. ia merangkul bahu Albi dengan gagah.
"iya lah. kita ini kan best sejak dulu. forever pula. ya gak?"
Albi mengangguk mengiyakan.
"heleh. forever apaan. masalah kecil aja ampe gak temenan berminggu-minggu."
"jangan salah, men. itu tuh cuma hilaf doang."
Ajib memasang wajah meremehkan. sedangkan Iko dan Albi hanya tertawa melihat Ajib.
bersambung...
__ADS_1