
"sumpah. ini makanan enak banget." Iko langsung menyantap semua isi mangkuk itu sampai habis.
"santai aja kali makannya!"
Koeda yang sedang bersamanya merasa sedikit malu dengan sekitar. sebagian orang menatap heran kepada Iko karna dia makan seperti orang kelaparan.
"setelah ini kamu mau kemana?"
tanya Koeda. Iko menggelengkan kepalanya karna ia juga tak tau harus kemana.
"ya sudah. kamu ikut aku kerumah aja gimana?"
Iko mengangguk senang. sebenarnya dari tadi ia pusing memikirkan harus tidur dimana.
"gue boleh tidur di rumah lo?"
"tergantung."
Koeda mengangkat kedua bahunya. ia tak bisa memastikan kalau ibunya akan mengizinkan Iko bermalam di rumah mereka.
setelah selesai makan, Iko dan Koeda pergi kerumah Koeda sekaligus meminta izin untuk ikut bermalam.
"aku pulang..."
Koeda membuka pintu dan masuk bersama Iko. tak lama kemudian ibunya Koeda keluar dari ruangan lain. rumah Koeda juga tak kalah besar dari rumah makan tadi. disana ada beberapa pintu yang mungkin sekaligus jendela. temboknya berwarna hijau muda. perabotan yang terpasang di setiap ruangan semuanya menggunakan kayu.
__ADS_1
"sepertinya yang ada di tempat ini semuanya tak jauh dari bunga dan pohon."
Iko asal berkata sambil menatap satu persatu barang yang ada di rumah Koeda.
"dari mana saja kau?. eh ada tamu.. silahlan duduk."
setelah menyadari kedatangan Iko, ibunya Koeda yang bernama hana itu segera menyiapkan minuman.
"ibu lo baik juga ya. sampe repot-repot buatin minum segala."
Koeda hanya tersenyum menanggapi ucapan Iko.
"eh, setelah musim ini selesai, akan ada musim apa lagi? kapan akan berganti?"
Koeda menggelengkan kepalanya. seketika ekspresi wajahnya berubah sedih.
Iko panik karna takut ucapannya salah dan membuatnya sedih.
"kalau disini emang selalu seperti ini. sebenarnya ada suasana yang berbeda selain musim bunga ini. tapi bukan di sini. melainkan ada di seberang. sebenarnya di dunia ini ada empat tempat dan masing-masing beda keadaan. ada haruki, natsuki, aki dan yuki."
mendengar penjelasan Koeda, Iko manggut-manggut mengerti. ia memiliki gambaran sendiri di fikirannya. walaupun itu belum tentu sesuai fakta.
"berarti lo sering kesana dong. ajak gue juga sih."
Koeda mengalihkan pandangannya. tatapannya seperti kembali ke masalalu.
__ADS_1
"tapi sayangnya sekarang sudah tidak bisa kesana lagi."
Iko merasa bingung. banyak pertanyaan memenuhi otak Iko. tapi Iko kebingungan mengutarakannya. dari ruangan yang mungkin di sebut dengan dapur, hana keluar membawa minuman.
"dari beberapa tahun yang lalu semuanya memang sudah berubah. sekarang suasananya semakin sepi."
hana menatap keluar jendela yang masih terbuka lebar. sedari tadi ia mendengarkan percakapan Iko dan Koeda.
"semenjak kejadian lima ratus tahun yang lalu yang menyebabkan semua yang ada di sini porak poranda. kita semua menderita sampai sekarang."
Iko hanya terdiam mendengar cerita hana. untuk mengalihkan rasa sedihnya, hana mempersilahkan Iko meminum minuman yang telah ia siapkan.
"silahlan diminum."
Iko mengangguk mengiyakan.
"bapakku pun mati dalam perang lima ratus tahun silam itu. padahal baru beberapa kali saja aku akrab dengannya. rasa-rasanya dunia ini memang sungguh kejam."
Koeda meneteskan air matanya yang sedari tadi ia pendam. Koeda kembali mengingat masa-masa ia bersama dengan bapaknya. melihat kesedihan Koeda, reflek Iko merangkul pundaknya. Iko berusaha menenangkannya.
"lo tenang aja. masih ada gue kok. kita sama. sama-sama sudah kehilangan sosok ayah."
Koeda menghapus air matanya dan menatap Iko memastikan perkataannya.
"gue juga udah gak punya ayah kaya lo. jadi gue harap lo gak sedih lagi. lo gak sendiri kok. masih ada gue dan tante hana."
__ADS_1
Koeda tersenyum dan mengangguk.
bersambung...