
Setelah sampai di sekolah, Iko segera masuk ke kelasnya. ia melihat Albi sudah ada di tempat duduknya. Iko berjalan menghampirinya.
"hey. tumben udah nyampe duluan?"
"gak papa."
jawab Albi datar. ia seperti tak ingin berbicara dengan Iko.
"lo kenapa sih? gitu amat mukanya."
Albi hanya diam. Iko jadi semakin penasaran.
"eh, lo kenapa? ada masalah? cerita dong!"
"lo yang cari masalah!"
Iko merasa heran kenapa Albi malah menuduhnya yang tak tahu apa-apa.
"lah, kok gue?"
"lo gak sadar apa? selama ini lo jadi ngejauh sama gue. bahkan sekarang lo ngedeketin Kara. lo kan tau kalau gue pernah bilang, gue suka sama dia. lo kejam, ko!"
Iko terdiam mendengar ucapan Albi. ia baru menyadari itu. memang benar, selama seminggu ini Iko sering bertemu dengan Kara. tapi itu hanya sekedar ngobrol tentang hal yang sama.
"lo juga waktu guru rapat malah berduaan kan sama Kara. lo gak ajak gue pula!"
Iko kembali mengingat ketika ia asyik ngobrol di atas gedung sekolah bersama Kara.
"tapi gue gak ada niatan begitu."
Iko berusaha menjelaskan agar tidak terjadi kesalah fahaman. tapi sayang, Albi tak mau menerima alasannya.
__ADS_1
"udahlah! lo emang munafik. gue kira lo bakalan ngerti dengan perasaan gue. tapi ternyata gue salah."
"Al, gue..."
belum sempat menjelaskan, guru datang untuk memulai pelajaran. terpaksa Iko duduk di bangkunya dan mengikuti pelajaran.
setelah istirahat tiba, Albi segera meninggalkan kelas. ia tak lagi mengajak Iko. Iko hanya terdiam sedih. ia tak tau harus bagaimana menghadapinya. Iko berjalan keluar. entah mau kemana. di jalan, ia bertemu dengan Ajib. hari ini wajahnya terlihat cerah. tak ada mata kantuk yang biasa di perlihatkannya.
"ko, mau kemana?"
Iko hanya menggelengkan kepalanya.
"kantin yuk!"
Iko hanya menganggukkan kepalanya. ia berfikir, dari pada tak ada tujuan mending ikut bersama Ajib. setelah di kantin, Ajib merasa heran melihat Iko yang tidak seperti biasanya.
"kamu kenapa sih, ko?"
Ajib membulatkan kedua matanya karna kaget.
"kenapa? nilai kamu nol?"
Iko menggeleng kesal.
"bukan."
"terus?"
Iko menarik nafas dalam-dalam sebelum ia menceritakannya pada Ajib.
"gue lagi di benci sama Albi. dia marah karena gue sekarang ini sering deket sama Kara. padahal gue sama Kara itu cuma ngobrol biasa. kaya gue sama lo. kebetulan aja obrolan kita nyambung. jadi kita sering bareng. eh, malah Albi salah faham."
__ADS_1
"emang Albi suka sama Kara?"
Iko menganggukkan kepalanya. ia juga baru menyadarinya sekarang.
"gue juga baru ngeh kalau Albi suka sama si Kara. jadi gue santai-santai aja."
Ajib mengangguk-anggukkan kepalanya tanda ia mengerti dengan kondisi Iko sekarang. Ajib sedang berfikir dan membuat kesimpulan tentang cerita Iko tadi.
"jadi masalahnya, Albi itu terlalu cinta sama Kara?"
Iko mengangkat kedua bahunya. ia tidak bisa membenarkan ucapan Ajib.
"mungkin saja."
"kamu udah jelasin kedia yang sebenarnya."
Iko menganggukkan kepalanya.
"tapi, dia gak mau dengerin penjelasan gue."
Iko dan Ajib sama-sama terdiam. memang kalau masalah cinta itu cukup sulit. ketika sedang berfikir, Ajib melihat Albi sedang berjalan tak jauh dari tempat duduk mereka. ia berniat mengajak Albi bergabung di sana.
"Albi, sini..."
Ajib mengangkat tangan kanannya agar Albi melihatnya. namun sayang, Albi hanya melirik sebentar dan pergi begitu saja.
"**** lo. lo kan tau sendiri gue sama dia lagi berantem. mana mau lah dia kesini."
Ajib tersenyum sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"aku lupa, sorry..."
__ADS_1
bersambung...