
Beberapa hari setelah bertemu dengan Kara, Iko semakin dekat dengannya. mereka sering saling sapa. hari ini setelah istirahat, karna guru ada rapat, siswa di bebaskan sampai jam istirahat selesai. karna merasa bosan, Iko naik ke atas gedung sekolah. dari sana pemandangan terlihat lebih indah. anginpun bersemilir sejuk. suasana menjadi sangat tenang tanpa suara ribut anak\-anak lain.
"hah. segarnya..."
Iko menarik nafas dalam. ia bisa merasakan nikmatnya menghirup udara kebebasan. Iko merebahkan tubuhnya menatap langit. hari ini cuaca tak terlalu panas.
"andaikan dunia setenang ini."
Iko mengganjal kepalanya dengan kedua tangnnya. matanya perlahan mulai tertutup.
"Iko?"
mendengar namanya di panggil, Iko segera membuka matanya kembali. ia bangun memastikan siapa yang memanggilnya tadi.
"lo ngapain disini?"
Kara berjalan menghampiri Iko. ia duduk di samping Iko.
"lo sendiri ngapain kesini?"
"yaelah. di tanya malah balik nanya."
Iko tersenyum. ia kembali merebahkan tubuhnya.
"gue lagi menikmati kebebasan. rasanya disini lebih nyaman dari pada di kelas."
Kara ikut membaringkan tubuhnya. ia melihat awan yang bergerak dengan indah.
"tujuan kita sama."
__ADS_1
"maksudnya?"
Iko memposisikan tubuhnya menatap Kara.
"gue juga merasa muak dengan hidup ini. gue selalu saja jadi bahan pembicaraan orang. yah bilang cantik lah, pinter lah, sexi lah..."
Iko menatap heran. kebanyakan orang justru merasa senang ketika dipuji orang lain. namun, Kara berbeda. ia justru benci dengan semua itu.
"bukannya lo seneng?"
"menurut gue itu justru jadi beban. seakan-akan orang-orang itu menuntut gue untuk terus jadi yang terbaik. lo bayangin aja. sekali gue punya kejelekan pasti mereka akan tambah heboh."
"contohnya?"
Kara bangun dan duduk sambil menatap pemandangan yang ada di depannya.
Iko tesenyum. ia mengerti dengan apa yang Kara hawatirkan. semua orang sebenarnya punya kehawatiran tersendiri. seperti takut di buli atau takut tak ada yang akan percaya padanya. hal itu memang wajar.
"gue juga pernah berfikir begitu. tapi gue anggap angin lalu saja lah. biar apa kata orang lain gue gak peduli. yang penting gue ngejalanin hidup gue sesuai dengan apa yang gue tuju."
Kara terdiam mendengar ucapan Iko. ia merasa salut dengan Iko karna Iko tak pernah menyerah ataupun malu.
"emang lo pernah berada di posisi yang sama kaya gue?"
Iko mengangguk.
"waktu gue cerita ke Albi dan Ajib tentang apa yang gue alamin. mereka gak ada yang percaya dengan cerita gue. yah, gue juga sedikit ragu sih. tapi itu nyata. mereka hanya mengejek menganggap bahwa gue sedang bikin lelucon yang emang gak lucu."
"bagaimana perasaan lo?"
__ADS_1
lagi-lagi Iko tersenyum.
"sedikit sakit sih. tapi tak apa. mamah gue aja gak percaya. apa lagi mereka."
Kara merasa sedih melihat Iko. ia baru sadar kalau penderitaannya tak lebih buruk dari pada Iko.
"lo pernah nangis?"
Iko mengangkat satu alisnya mendengar ucapan Kara.
"pertanyaan macam apa itu?"
Kara sedikit tertawa. entah kenapa ia ingin sekali menanyakan hal itu.
"tinggal jawab aja kok, susah amat sih."
"pernah."
"hah?"
Kara merasa kaget. Iko yang terlihat tegar ternyata pernah menangis.
"pas waktu papa gue meninggal."
"papa lo udah meninggal?"
Iko menganggukkan kepalanya. tak ada obrolan lagi. mereka diam dan terhanyut dalam fikiran masing-masing.
bersambung...
__ADS_1