
Setelah bel pulang berbunyi, Iko, Ajib dan Albi pulang bersama. hari ini mereka bertiga kembali merasakan kehangatan persahabatan mereka.
"eh, Ko. kamu kalau kemarin liat adegan Albi nembak Kara, kamu pasti ikut nangis. aku jamin!"
Iko melotot kaget. ia tak tau kalau ternyata Albi sudah menyatakan perasaannya pada Kara.
"hah? apa lo bilang? serius?"
Ajib mengangguk pasti. sedangkan Albi merasa kesal sekaligus malu.
"udah deh. gak usah bahas itu lagi!"
"wah, nyesel gue gak hadir pada moment penting itu.."
Iko semakin memanasi Albi. sedangkan Ajib hanya tersenyum.
"percuma. gue di tolak."
"apa? lo di tolak? siapa yang berani nolak lo hah?"
Iko seperti hendak menghabisi orang yang telah melukai temannya. ia mengepalkan tangannya dan berlagak hendak melawan.
"alah...lo apa-apaan sih? aneh tau gak."
Iko terdiam sejenak dan tersenyum manis kepada Albi.
"lo tenang aja kok. masih ada gue di sini. gue juga sayang sama lo."
Iko mulai mengeluarkan kata-kata andalannya. mendengar itu, Ajib dan Albi langsung merasa jijik.
"idih. gila lo!"
"sadar, ko."
Ajib merinding mendengar ucapan Iko tadi. ia terus menggeleng-gelengkan kepalanya.
__ADS_1
"lama- lama aku setres gara- gara temenan sama kamu!"
"siapa juga yang mau temenan sama lo."
Iko menjulurkan lidahnya. ia hendak berlari meninggalkan mereka. namun, belum sempat melangkah, Kara datang mendekati mereka.
"hai..."
Iko dan Ajib tersenyum melihat kedatangan Kara. sedangkan Albi hanya diam. mungkin ia merasa canggung karna ungkapan cintanya kemarin.
"hai juga, ra."
"tumben lo mampir ke kita?"
Kara merasa sedikit kikuk karena belum terbiasa gabung dengan mereka.
"kalian mau pulang kan?"
Iko dan Ajib mengangguk kompak.
Iko merasa gembira sekali karna Kara mau pulang bareng. ia langsung menyetujui keinginan Kara. mereka berjalan bersama. namun, selama di jalan Albi hanya diam tak bersuara.
"kamu kenapa sih, bi?"
Ajib bertanya karna ia merasa tak enak dengan Albi.
"gue? gue gak papa kok!"
Iko menganggukkan kepala tanda ia mengerti. ia segera merapat dengan Kara.
"eh, ra. lo ajak ngobrol Albi dong! masa dari tadi kalian diem-diem aja sih!"
Kara menengok ke arah Albi sebentar. ia merasa bingung karna setelah kejadian kemarin mereka sudah tak saling sapa seperti biasanya.
"gue bingung harus ngomong apa..."
__ADS_1
"coba aja dulu. ngomong apa kek. ya nggak, Jib?"
Ajib hanya mengangguk mengiyakan. setelah menarik nafas kuat, Kara ahirnya memberanikan diri berjalan di samping Albi.
"lo masih marah sama gue?"
Kara mulai berbicara dengan Albi. sedangkan Iko dan Ajib menyimak dari belakang.
"gak kok."
"simpel amat sih. yang agak panjangan dikit dong jawabannya."
Iko menyela obrolan mereka. diam. tak ada obrolan lain setelah itu. Iko menjadi semakin kesal karna suasana begitu mencekam.
"ayolah... kalias semua ini kenapa? bisu?"
Iko mulai ngamuk karna ia sudah merasa bosan.
"ya lagian gue bingung mau ngomong apa."
"gue ngantuk."
sela Ajib tiba- tiba. ucapannya berhasil membuat Albi, Iko dan Kara kompak menatapnya.
"kalia kenapa sih?"
Ajib merasa heran dengan tingkah ke tiga temannya itu.
"lo bisa- bisanya yah, segitu lagi jalan kaki lo masih sempet ngantuk?"
Albi berdecak kagum. ia baru menyadari kalau ia memiliki teman yang sangat langka. bahkan aneh.
"hebat lo, jib."
Kara mengacungkan jempolnya di depan wajah Ajib dan tersenyum bangga.
__ADS_1
bersambung...