
Iko mengambil kertas yang di sodorkan Koeda kepadanya. ia membolak\-balikkan kertas tersebut. kosong! sama dengan layar tembus pandang yang ada di depan Iko.
"kok bisa sama ya?"
Iko mengangkat kertas itu dan di satukan dengan layar tipis itu. tiba-tiba beberapa tulisan mulai bermunculan. sebenarnya Iko hanya iseng mencobanya, tapi ternyata membuahkan hasil.
"wah, ada tulisannya. kamu pintar juga yah!"
Iko tersipu malu karna di puji oleh Koeda. Iko mengakui kalau Koeda memang cantik. bahkan kadang Iko merasa grogi di depan Koeda.
"kayaknya semua kertas yang di sana juga sama."
Koeda menunjukkan setumpuk kertas kosong yang tadi sudah di periksanya.
"ok. kita coba semua."
Koeda tak langsung merespon. ia mendongak menatap langit. di atas mulai gelap. Koeda berfikir bahwa sekarang saatnya untuk pulang.
"Ko, sepertinya kita terlalu lama di sini. bagaimana kalau kita lanjutkan besok?"
Iko ikut mendongak menatap langit.
"emangnya kenapa?"
"aku gak mau ibu hawatir. besok juga kan masih banyak waktu!"
__ADS_1
Iko mengangguk ragu. ia merasa tak yakin akan bisa datang besok. kadang Iko berfikir, bagaimana kalau setelah tertidur, ia tak bisa dang ke sini lagi? dan hanya akan berahir sampai disini? tapi kadang hatinya juga berkata lain. bahwa dunia ini bukan lah dunianya yang sebenarnya. tidak seharusnya ia ada di sini.
"ayo kita pulang. kita lanjutkan besok."
lagi-lagi Iko hanya mengangguk. mereka berdua kembali melewati lorong tadi dan menutup kembali tembok yang telah terbuka. mereka segera pulang setelah membereskan beberapa barang yang berserakan.
"bu, kita pulang.."
Hana segera menghampiri mereka.
"dari mana saja kalian ini? pulang sampai selarut ini?"
Koeda menundukkan kepalanya. ia merasa bersalah karna telah membuat ibunya hawatir.
Iko ikut menundukkan kepalanya. ia juga merasa tak enak karna ia juga tinggal di sana.
"ya sudah. kalian makan dulu. ibu sudah siapkan makanan di atas meja."
Koeda dan Iko mengangguk kompak. mereka segera ke ruang makan.
"apa lo selalu begitu?"
"hah?"
Koeda tak mengerti maksud dari ucapan Iko. sebelum kembali mengatakannya, Iko menatap sekeliling memastikan tak ada siapa-siapa.
__ADS_1
" kalo gue liat-liat, lo tuh kayaknya takut banget sama tante Hana. kok bisa sih?"
Koeda terdiam sejenak.
"aku cuma berusaha berbakti sama ibu. dari aku kecil, ibu yang selalu menjagaku, melindungiku. seenggaknya aku harus nurut lah sama perintahnya."
Iko menggeleng tak setuju. ia menatap serius Koeda.
"ya tapi gak segitunya juga kali. lo kan juga punya hak buat nentuin apa yang pengen lo lakuin."
"gak semudah itu."
"apanya yang gak mudah? tinggal lo bilang kalo lo gak suka di kekang."
Koeda mengalihkan pandangannya. ia tak mau berdebat dengan Iko.
"andai aku bisa berkata begitu. mungkin akan terasa lega. dulu waktu aku masih kecil. bapakku berpesan padaku sebelum dia pergi. katanya aku harus selalu menuruti apa pun yang di katakan ibu. karna itu pasti untuk kebaikanku. aku cuma gak mau mengingkari ucapan terahir bapak."
Iko hanya diam mendengar penjelasan dari Koeda. ia sedikit tersentuh dengan ucapan Koeda. sekarang ia bisa mengerti kenapa Intan selama ini selalu memberikan yang terbaik buat dia walaupun kadang tidak sesuai dengan apa yang Iko inginkan.
"aku yakin ibu pasti selalu memberikan yang terbaik untukku. aku gak mau menyesal nantinya."
Iko mengangguk mengerti. ia juga sekarang berfikir untuk tak membantah lagi dengan ucapan Intan. karna dari dulu Iko memang selalu marah-marah jika di nasehati oleh Intan.
bersambung...
__ADS_1