Jejak Iko

Jejak Iko
32. rumah sakit


__ADS_3

 


Intan hanya duduk terdiam sambil memandangi wajah anak kesayangannya. sudah tiga hari sejak kedatangan Ajib dan Albi, Iko masih tak sadarkan diri. Intan mulai pasrah. apakah ini yang namanya takdir tuhan? dengan cara menyakiti hati seseorang? Intan selalu bertanya- tanya tentang apa kesalahannya. ia juga sempat bertanya pada seseorang yang ahli dalam menangani ilmu hitam. tapi tak ada masalah dengan Iko. bahkan Intan mendatangkan spesialis berbagai penyakit. namun tetap tak ada hasil. 'ya tuhan... apa ini kutukan?' batin Intan. ia selalu menangis tak henti.


 


"sore, tante.."


Ajib dan Albi kembali datang mengunjungi Iko. kali ini mereka datang bersama Kara. cewek yang mirip dengan Koeda.


"eh, kalian. sini masuk"


"sore, tante."


Kara tersenyum pada Intan.


"siapa ini. kok tante baru liat yah!"


"ini Kara, tante. dia juga deket kok sama Iko."


"iya, tante."


Intan menganggukkan kepalanya. sebenarnya ia sedikit kaget karna baru mengetahui kalau Iko memiliki teman cewek.


"gimana keadaannya, tante."

__ADS_1


"entahlah. sudah setengah bulan ini Iko masih tak mau bangun. tante sebenarnya takut kalau dokter akan mencabut alat bantu pernafasan itu. seperti ayahnya dulu."


Albi duduk di samping Intan dan berusaha menenangkannya.


"tante gak boleh nyerah. aku yakin kok, Iko bakalan sadar kembali. dia pasti ingat kalau tante di sini sangat menantikannya."


Intan menganggukkan kepalanya. Albi menatap Iko yang sedang berbaring di atas ranjang sambil menghela nafas sedih. ia tidak menyangka kalau Iko bisa mengalami hal seperti ini. selama ini juga Iko tak pernah cerita apapun soal kematian papanya.


"apa tante tau penyebabnya Iko jadi seperti ini?"


Kara mulai berbicara. ia juga ikut penasaran.


"tante juga gak tau. tapi sebelum Iko seperti ini, dia tidur pulas seperti biasanya. setiap minggu itu loh, Al!"


Albi ingat kalau setiap minggu pasti Iko selalu menolak ajakannya keluar.


"Iko seperti itu setelah ditinggal papanya. dia jadi hobi tidur."


Kara mengerutkan keningnya. ini bukanlah perubahan yang biasa. pasti ada sesuatu yang membuat Iko selalu tidur di hari minggu. aneh! semua yang ada di dalam ruangan itu berfikir. mereka memiliki bayangan masing- masing.


"Al, masa Iko nggak cerita apa- apa sih sama lo?"


Kara mulai menjadikan Albi sebagai sasaran.


"cerita apa? banyak sekali yang kita obrolkan sebelum dia seperti ini."

__ADS_1


Ajib yang dari tadi diam, kini angkat jari.


"kamu inget gak pas Iko cerita tentang tempat sampah itu loh!"


Ajib menatap Albi berharap akan ada jawaban darinya.


namun sepertinya Albi belum mengingatnga. ia tampak berfikir.


"itu loh.. waktu kita liat Kara. lalu kamu bilang dia cantik."


Ajib mencoba menjelaskan lebih ditail lagi. dan kali ini usahanya gak sia- sia. Albi mengingatnya.


"ooh iya. kenapa?"


"ceritanya kan aneh. masa dia liat sampah berterbangan. jangan- jangan memang benar dan ada hubungannya dengan dia yang sekarang."


mendengar cerita Ajib, Intan juga mengingat kalau Iko juga pernah menceritakan hal yang sama padanya.


"tunggu sebentar. Iko juga cerita itu loh sama tante!"


"tuh kan. berarti ada hubungannya."


Ajib semakin meyakinkan mereka. semuanya terdiam. tak ada yang berani menebak lebih jauh. kalau sihir, tidak mungkin! karna Intan sudah memanggil dukun. kalau penyakit, bukan! semua dokter tidak ada yang tau.


"permisi... selamat siang."

__ADS_1


bersambung...


__ADS_2