Jejak Iko

Jejak Iko
28. sebuah kotak


__ADS_3

Sinar matahari bersinar masuk melewati lorong jendela. Iko mulai tersadar karna silau. ia mulai membuka matanya perlahan. walau hatiny berontak tak mau bangun karna takut kembali ke dunianya, namun ia mencoba memahami fakta apapun itu. Iko mengedarkan pandangannya. yes! Iko tersenyum senang karna ia masih berada di rumahnya Koeda.


"ini nyata? tapi kenapa gue masih disini. tuhan memang peduli sama gue."


Iko segera pergi ke kamar mandi dan bersiap- siap menemui Koeda.


"tumben kamu bangun pagi?"


Koeda melihat Iko datang dengan pakaian rapi. mungkin kali ini Iko benar- benar bersemangat.


"lo gak seneng kalau gue bangun pagi?"


"ya bukan begitu maksudnya. tumben aja gitu..."


Koeda membantu Hana menyiapkan sarapan pagi. sedangkan Hana sibuk memasak.


"pagi, tante."


"pagi.."


Iko segera duduk sambil memandang Koeda yang sedang menata makanan di atas meja. merasa di perhatikan, Koeda balas menatap.


"kamu kenapa memandangku seperti itu?"


Iko segera mengalihkan pandangannya saat tertangkap basah oleh Koeda.


"gue liatin makanan kok. geer banget sih lo!"

__ADS_1


Koeda hanya menggelengkan kepalanya. ia tak mau berdebat dengan Iko. setelah selesai menyiapkan makanan, mereka segera makan bersama.


"kita jadi pergi ke rumah Alex?"


Koeda menganggukkan kepalanya. setelah selesai makan, mereka segera pamit pergi ke rumah Alex.


"menurut kamu, rekaman itu ada gak?"


Iko mengangkat ke dua bahunya. ia juga tak bisa memastikan keberadaan rekaman itu.


"kita periksa aja dulu."


Koeda menganggukkan kepalanya. mereka kembali ke ruangan rahasia yang ada di rumah Alex. setelah masuk, mereka segera memeriksa ulang semua tempat.


"kamu menemukannya?"


Iko kembali menyalakan layar transfaran itu. ia memencet satu per satu tombol yang ada di sana. setelah hampir setengah hari mereka mencari, tetap saja tak ada hasil. rasa lelah kini menghampiri mereka.


"bagaimana kalau kita istirahat sebentar. gue udah gak kuat nih...lelah. sumpah!"


Iko merebahkan tubuhnya di lantai. Koeda pun duduk di sampingnya. mereka sudah benar- benar kelelahan.


"menurut lo, bener gak sih kalau tuh rekaman ada di sini. kok gue jadi gak yakin sih."


"sama. aku juga udah mau nyerah nih. apa kita berhenti sampai sini aja?"


Iko menggeleng keras.

__ADS_1


"gak. gue gak mau. alasan gue kesini itu untuk mengungkapkan kebenarannya. bukan malah berhenti di tengah jalan begini."


Koeda hanya diam. ia sebenarnya juga tak ingin kalau haruki terus- terusan seperti ini. Iko diam- diam menatap Koeda. ' lo juga jadi alasan kuat kenapa gue bertahan disini. entah kenapa rasanya jadi pengen terus tinggal disini. hanya berdua sama lo.' batin Iko.


" ko... Iko.."


Iko tersadar dari lamunannya. ternyata dari tadi ia hanya memandangi Koeda.


"kenapa sih kamu liatin aku terus. ada yang salahya sama aku?"


"enggak kok. gue cuma seneng aja liatin lo."


Iko tersenyum menggoda. Koeda segera berdiri karna salah tingkah.


"udahlah.. ayo lanjut cari rekaman itu."


Iko merasa lucu melihat tingkah Koeda yang sedikit kikuk. ia kembali bangun dan mencari rekaman itu. ketika sedang membuka laci, Iko melihat satu kotak yang mirip kotak cincin.


"menurut lo, apa ini isinya?"


mendengar suara Iko, Koeda segera menghampirinya.


"coba aja di buka. siapa tau penting."


Iko mengangguk. ia perlahan membuka kotak itu. bentuknya polos. tapi seperti terbuat dari besi. warnanya abu- abu. setelah terbuka lebar, tiba- tiba keluar cahaya dari dalam kotak itu. karna kaget, Iko segera melemparnya ke lantai.


bersambung...

__ADS_1


__ADS_2