Jejak Iko

Jejak Iko
13. kantin


__ADS_3

Ketika waktu istirahat tiba, Albi mengajak Iko pergi ke kantin untuk makan.


"ayo! gue udah laper nih."


Iko mengangguk lemas. sebenarnya ia malas pergi ke kantin. karna ia masih di bayangi dengan kejadian kemarin. Albi menarik tangan Iko secara paksa.


"lemes banget sih lo!"


selama berjalan, Albi terus menggandeng Iko. hal itu membuat banyak anak-anak yang lain melihat dengan tatapan heran.


"eh, itu kayanya si Ajib deh."


setelah sampai di kantin, Albi melihat Ajib sedang duduk memunggungi mereka. Albi membawa Iko ikut bergabung dengan Ajib.


"jib, lo tumben ud.."


belum sempat menyelesaikan kata-katanya, Albi terdiam. ternyata Ajib sedang tidur pulas. Albi tersenyum. ia memikirkan sesuatu agar bisa membangunkan Ajib.


"lari....kantin kebakaran....cepetan lari...kabur.."


Albi berteriak kencang di depan Ajib sambil memukul mejanya dengan keras. seketika ajib terbangun. ia segera berdiri dan siap lari.


"dimana? dimana?"


melihat tingkah Ajib, sepontan Albi, Iko dan murid lain yang melihat, tertawa puas. sedangkan Ajib masih terlihat panik.


"kalian ngerjain aku?"


setelah Ajib sadar sepenuhnya, ia membetulkan kaca matanya dan menatap marah pada Albi dan Iko.


"ets, bukan gue loh!"


Iko menahan amarah Ajib pada dirinya.

__ADS_1


"lagian kaya gak ada kerjaan lain aja selain tidur. lo kalau di rumah ngapain aja?"


Ajib kembali duduk. ia sudah tak ada selera untuk tidur lagi. ahirnya ia memutuskan untuk memesan makanan. Albi pun tak kalah saing. ia segera membeli baso favorit nya.


ketika sedang asyik makan, Albi melihat kara sedang berjalan mencari tempat duduk untuk makan.


"lihat, itukan cewek yang lagi ngetren!"


secara kompak Ajib dan Iko mengikuti tatapan Albi.


"ra, sini makan bareng."


ucap Ajib dengan enteng. serasa mereka sudah kenal dekat. Kara yang dipanggil, segera mendekat ke meja mereka.


"boleh gabung nih?"


Ajib menganggukkan kepalanya. sedangkan Albi melongo melototi Kara. ia mengakui bahwa Kara memang benar-benar cantik. lain halnya dengan Iko. ia menatap Kara dengan tatapan heran. ia tak henti-hentinya menggelengkan kepalanya untuk memastikan siapa dia.


Kara yang dari tadi diliatin merasa tak nyaman.


"Koeda?"


"hah?"


Kara tak mengerti dengan ucapan Iko. Albi dan Ajib pun ikut merasa heran.


"lo Koeda kan?"


Kara menggelengkan kepalanya.


"gue Kara."


Iko mengusap ke dua matanya. sekali lagi ia memastikan bahwa yang dilihatnya itu benar.

__ADS_1


"gak, gak mingkin. kok lo mirip banget sama cewek yang kemarin gue temui. tapi namanya Koeda."


Iko benar-benar merasa frustasi. mana mungkin cewek yang kemarin ia temui adalah kembaran Kara. ia merasa hidupnya mulai tak karuan. mungkin karna terlalu banyak fikiran.


"ah. kenapa gue jadi gini sih?"


Iko menggenggam rambutnya. ia terlihat sangat kelelahan.


"lo kenapa, ko? kalo lo punya masalah, cerita donk sama kita. jangan lo pendem sendiri."


"percuma, kalian gak balak percaya sama gue!"


Iko menundukkan kepalanya. air matanya hendak keluar. namun ia tahan. Iko sadar jika ia menangis, maka dirinya akan terlihat lemah.


"lo kan belum cerita."


Ajib ikut merasakan kesedihan Iko. Kara pun mengangguk setuju dengan ucapan Ajib.


"lo inget cerita yang kemarin. yang gue bilang kalo ada hal aneh di tempat sampah."


Albi dan Ajib mengangguk kompak.


"sejak itu gue mulai kaya gini."


"jadi yang lo ceritain kemaren itu beneran?"


Iko memalingkan wajahny Seolah-olah berkata 'lo fikir gue ini tukang boong hah?'


"sorry..."


Albi tersenyum. ia merasa bersalah karna tidak mempercayai ucapan temannya sendiri.


bersambung...

__ADS_1


__ADS_2