
Iko menyipitkan matanya sambil menatap heran. tiba -tiba keluar cahaya yang sangat terang dan muncul satu bunga yang mekar dengan indah. bukan! jelas itu bukan bunga sungguhan. itu hanya sebuah gambar yang terbentuk dari cahaya tadi.
"melati merah.."
Koeda menatap fokus pada gambar yang di perlihatkan cahaya itu. sedangkan Iko hanya mengernyitkan keningnya tak mengerti.
"lo tau tentang bunga itu?"
Koeda menganggukkan kepalanya. ia sangat yakin kalau itu adalah bunga melati merah yang pernah ia lihat.
"bunga ini dulu sering mekar di sini. tapi sekarang sudah tidak bisa mekar lagi. makannya sekarang udah gak ada. katanya sih bunga ini adalah bunga kebahagiaan."
Iko hanya diam. seperti ada sesuatu yang sedang terlintas di fikirannya.
"lo bilang ini bunga kebahagiaan?"
Koeda sekali lagi mengangguk.
"apa jangan- jangan bunga ini yang bisa menyalakan kembali lilin- lilin itu."
"tapi susah kalau kita tanam bunga ini di sini."
"kenapa?"
Iko menatap serius Koeda. membuatnya jadi sedikit salah tingkah. Koeda hanya menggelengkan kepalanya. Iko kembali memutar otaknya. begitu banyak teka teki yang harus ia pecahkan agar bisa kembali menyalakan lilin -lilin itu dan mengembalikan segalanya ke semula. tak lama kemudian, Iko tiba -tiba mengangkat telunjuknya membuat Koeda sepontan menoleh.
"gue ngerti. kayaknya bunga melati merah itu hanya mekar kalau semua orang bahagia deh. buktinya, sekarang semua orang kan sedang tidak bahagia. makannya bunga itu gak mekar."
__ADS_1
Koeda mengangguk menyetujui.
"bisa jadi tuh!"
"tinggal gimana caranya kita buat mereka bahagia lagi."
Iko dan Koeda kembali terdiam. mereka sibuk dengan fikiran masing- masing.
"bagaimana kalau kita rundingkan lagi dengan ibu. siapa tau ibu bisa bantu."
Iko mengangguk setuju. lagian sekarang Iko sudah merasa lelah karena otaknya sudah di putar keras.
"kita pulang sekarang."
ketika hendak pergi, Iko menghentikan langkahnya.
"tunggu! bagaimana dengan kotak itu. gue gak mau kalau kotak itu di ambil orang lain."
Iko berjalan pelan ke arah kotak itu. ia mengulurkan tangannya perlahan untuk memungut kotak itu. Iko masih merasa takut. ia hawatir kalau tiba- tiba kotaknya berubah atau bahkan menyakitinya. setelah membereskan kembali ruangan itu, mereka segera kembali ke rumah.
sesampainya di rumah, Koeda segera menemui Hana yang sedang memasak makan malam.
"bu, aku pulang..."
Hana menengok sebentar dan kembali fokus pada masakannya.
"kamu udah pulang.?"
__ADS_1
"ada sesuatu yang mau kita obrolin sama ibu."
Hana mengangguk. ia segera menyelesaikan pekerjaannya dan duduk bersama Iko dan Koeda di meja makan.
"ada apa? kalian menemukan sesuatu?"
Koeda mengangguk mengiyakan. Iko segera mengeluarkan kotak yang ia bawa tadi dan menyalakannya.
"bunga melati merah?"
"ibu ingat?"
Hana mengangguk pasti. ia menatap rindu bunga yang selama ini sudah tak muncul lagi.
"tante. katanya bunga ini adalah bunga kebahagiaan. dan menurut aku karna semua orang disini tidak bahagia lagi, bunga ini jadi tidak tumbuh."
Hana diam sebentar berusaha menebak arah pembicaraan Iko.
"jadi menurut kamu dengan mekarnya bunga ini bisa menyalakan lilin dan kembali membuka jalannya?"
Iko mengangguk sambil tersenyum. ia merasa lega karena Hana langsung mengerti dengan maksud ucapannya.
"tapi, bu. kita harus bagaimana supaya bisa membuat orang- orang bahagia lagi?"
Hana menganggukkan kepalanya. sekarang ia mengerti apa permasalahan Iko dan Koeda.
"ibu ada cara. kamu suka sama anak-anak kan?"
__ADS_1
Koeda menganggukkan kepalanya.
bersambung...