Jejak Iko

Jejak Iko
27. petunjuk


__ADS_3

 


Setelah Iko dan Koeda sampai di rumah, mereka segera menceritakan semuanya pada Hana.


 


"bu, bagaimana menurut ibu?"


Hana kembali menerawang masalalunya. bagaimana Alex bisa menghidupkan seratus lilin itu.


"coba kamu lihat baik- baik. mungkin ada sesuatu yang bisa di pahami di sana."


Iko dan Koeda menurut. mereka kembali membaca kertas yang sudah mereka salin.


"disini berkaitan dengan kebaikan. katanya hanya dengan itu lilin bisa menyala."


"nah. mungkin itu!"


Hana mengangkat jari telunjuknya. sedangkan Koeda seperti masih berfikir keras.


"ini maksudnya apa?"


Koeda menunjukkan salah satu kertas pada Iko dan Hana. di sana tertulis dengan jelas 'rekaman 413+ yang mengaitkan semuanya.'


"tunggu sebentar. sepertinya ada yang terlewat."


Iko memutar otaknya dengan kuat. ia masih tak faham dengan tulisan itu.


"jangan- jangan ada yang terlewat. mungkin disana masih ada rekaman ini."


Koeda mengangguk mengerti. ia yang tak tahu apa- apa, hanya diam.

__ADS_1


"kamu tau tempatnya?"


Iko menggelengkan kepalanya. ketika ia memeriksa tadi, ia tak menemukan satu rekaman pun.


"kita kembali lagi besok!"


Koeda menganggukkan kepalanya. setelah selesai berunding, masing- masing mulai ber istirahat. Iko terdiam sejenak. ia sadar kalau dirinya tidur, malah akan membuatnya kembali ke dunia asalnya. Iko tak ingin pulang. ia memiliki tekad untuk terus membantu Koeda dan selalu di sisinya. apa lagi sekarang hatinya sudah di tempati oleh sosok Koeda.


"bagaimana ini? gue gak mau pulang. gue harus tetap di sini. tapi bagaimana caranya? kalau gue gak tidur justru akan semakin terasa lelah."


Iko menghembuskan nafas berat. sekarang ia hanya berdoa pada tuhan agar besok tetap ada di sana.


"tuhan...please..."


Iko sudah merasa lelah. dia ahirnya tertidur pulas. ia sudah tak peduli jika besok ia akan berada di mana.


####


"dasar! kebiasaan dia ini. kalau tidur kaya sapi ngamuk. muter- muter kemana- mana. udah kamarnya berantakan."


Intan melihat kondisi kamar Iko yang tak karuan. jajanan yang Iko bawa dari dapur, berserakan di mana- mana. selimutnya pun jatuh ke lantai. Intan menggeleng- gelengkan kepalanya. ia segera membereskan kembali kamar Iko dengan rapi.


"kamu selalu saja tidur nyenyak."


Intan menutupkan selimut pada tubuh Iko. tak ada gerakan. Iko benar-benar tidur pulas.


"selamat bobo, sayang."


Intan mencium pipi kanan Iko. setelah puas menatap wajahnya, Intan segera pergi dan menutup pintunya kembali.


triiing...tring...

__ADS_1


suara telfon di ruang tamu berbunyi. sebelum masuk kamar, Intan pergi mengangkat telfon.


"hallo..."


"tante, Iko ada?"


suara dari seberang terdengar jelas seperti tak asing bagi Intan.


"ada. ini siapa yah?"


"ini Albi tante."


Intan merasa lega setelah tau kalau Albi yang mencari anaknya.


"oh...nak Albi, ada apa? kok tumben nelfon pake telfon rumah?"


Albi tersenyum. ia sebenarnya sudah merasa yakin kalau Iko pasti tidur. tapi tetap hatinya menyuruhnya untuk tetap menelfon. karna itu Albi memakai telfon rumah.


"soalnya sekalian. aku lagi dirumah temen. oh, iya. Ikonya mana tante?"


"wah, Ikonya tidur tuh. seperti biasa."


terdengar hembusan nafas kecewa di balik telfon.


"maafin tante yah. soalnya tante gak bisa bangunin Iko. tante gak mau ganggu dia tidur."


"iya kok tante, gak papa. makasih, tante. "


"sama- sama."


Intan mengahiri panggilan. ia segera masuk kembali kekamarnya.

__ADS_1


bersambung...


__ADS_2