Jejak Iko

Jejak Iko
35. sebuah senyuman


__ADS_3

  "dok, apa tidak ada yang bisa di lakukan lagi?"


 Intan merasa cemas dengan keadaan Iko. sedangkan dokter hanya menggelengkan kepalanya. dalam setengah bulan lebih ini, para dokter sudah berusaha keras agar Iko kembali sadar. tapi sayang, tak ada hasil!


"kita para dokter sudah berusaha dengan keras, bu. kita juga sudah berusaha mencari solusi terbaik. dan hanya ini yang bisa kita lakukan."


Intan terduduk. tubuhnya lemas karna sampai saat ini belum ada satu dokterpun yang bisa menyembuhkannya.


"baiklah, dok. trimakasih. saya permisi dulu."


dokter itu menganggukkan kepalanya. Intan segera keluar dari ruangan dokter dan kembali ke kamar tempat Iko di rawat.


"dek, mamah mohon bangunlah!"


Intan mengelurkan air matanya. setiap saat ia berdoa agar Iko kembali hidup bersamanya.


tok tok tok.....


"masuk!"


Intan mengusap air matanya dan menengok siapa yang datang.


"tante.."


"Albi, Ajib. sini masuk."


Albi dan Ajib tersenyum. mereka sebenarnya sangat sedih ketika melihat Iko yang masih berbaring lemas di atas ranjang rumah sakit.


"tante sudah makan?"


Intan menggeleng. ia tak memiliki selera untuk makan. fikirannya hanya fokus pada kesembuhan Iko. Ajib memberikan makanan kepada Intan. sedangkan Albi mengganti bunga yang sudah layu yang terletak di samping tempat tidur Iko.


"tante makan dulu yah!"


Intan menggelengkan kepalanya. walau Intan menolak, Ajib tak menyerah. ia tak tega melihat Intan yang begitu kurus dan sepertinya kurang tidur.

__ADS_1


"tante makan ya. Ajib mohon. ini demi kesehatan tante


agar nanti kalau Iko sadar, dia merasa senang melihat tante yang sehat."


Intan ahirnya menyerah. ia mau makan setelah di bujuk beberapa kali oleh Ajib. Albi dan Ajib selalu datang di hari minggu ketika mereka libur sekolah atau datang setelah pulang sekolah. bahkan kadang Kara ikut bersama mereka.


"ko, lo kapan sih sadarnya? lo gak capek apa tiduran terus. gue yang liatin lo aja capek!"


Albi menatap mata Iko yang masih tertutup. sebenarnya Albi ingin sekali menangis, tapi ia merasa malu untuk melakukannya.


"udah, Al. kalo mau nangis tinggal nangis aja!"


seseorang berjalan dari arah pintu.


"Kara, apaan sih lo!"


Kara tersenyum. ia mendengarkan ucapan Albi barusan.


"kalian lupa yah sama gue. kesini kok gak ajak- ajak!"


Ajib duduk di samping Intan. ia menemani Intan makan di sofa.


"tante.."


Kara mendekati Intan dan bersalim. setelah selesai makan, Intan kembali duduk di samping Iko.


"dek, kalu kamu bangun, mama janji apapun yang kamu inginkan pasti mama turuti. kamu gak mau mama panggil dedek? atau kamu gak mau buang sampah lagi? atau kamu gak mau di peluk mama lagi?"


Intan sudah tak sanggup membendung air matanya. Intan memeluk Iko dengan erat. Ajib, Albi dan Kara hanya diam tak tau harus bagaimana. perlahan ada sebuah tangan yang memegang halus rambut Intan. karna kaget, Intan segera melepas pelukannya. ia mencari sosok yang memegang kepalanya tadi.


"m..ma.."


Intan segera menatap Iko. ia tersenyum senang melihat Iko yang terbangun. Albi, Ajib dan Karapun tersenyum melihat Iko yang sudah sadar.


"benarkah apa yang di ucapkan mama barusan?"

__ADS_1


Iko tersenyum menatap Intan. ia bisa melihat wajah Intan yang terlihat sangat lelah.


"dek, kamu sudah bangun? ya tuhan... trimakasih karna engkau masih memberikanku kesempatan untuk tetap bersama anakku."


Intan kembali memeluk Iko. Albi, Aji. dan Kara juga bergantian berpelukan.


"trimakasih kalian udah mau nemenin mama gue."


"santai aja bro. kita inikan sahabat ya gak sih?"


Albi memberi isyarat pada Ajib. namun sayang, Ajib justru memalingkan wajahnya.


"eheh.. apaantuh. songong banget lo"


Iko tersenyum melihat teman- temannya yang masih memiliki sifat yang sama. sedangkan Kara hanya diam menatap Iko. karna merasa terus di pandangi, Iko membalas menatap Kara.


"koeda?"


"hah?"


Kara tak mengerti dengan ucapan Iko. ia mengernyitkan kedua alisnya.


"gue kira lo Koeda. maaf yah. lo benar- benar mirip dengannya. "


"tidak apa."


Kara hanya diam. ia merasa kalau Iko tak mengenalinya lagi.


"gue rindu sama lo, ra."


Kara melongo. ia segera memeluk Iko. melihat itu, Ajib dan Albi bersorak senang.


setelah kejadian itu, Iko menjalani kehidupannya Lagi seperti biasa. bahkan sekarang lebih baik dari kehidupannya yang dulu. ia juga sudah menceritakan pertemuannya dengan papa yang selama ini dirindukannya. Intan mempercayainya. dan sekarang Iko sedang dekat dengan cewek yang di cintainya dari pertemuan pertamanya di haruki. yaitu Kara.


...selesai...

__ADS_1


__ADS_2