
Sudah beberapa hari Iko dan Albi bertengkar. mereka bahkan sudah jarang bertemu. hal itu justru membuat Ajib menjadi kesal. kadang ia merasa bingung harus bagaimana. ia merasa lelah karna harus mendengar keluhan mereka.
"jib, kasih tahu gue donk bagaimana caranya supaya gue bisa temenan lagi sama Albi."
Iko menyandarkan kepalanya pada tangan kirinya. mereka sedang berada di kantin. kali ini Iko tak nafsu makan. ia hanya duduk sambil menikmati suasana kantin yang ramai.
"gimana bisa temenan lagi. kamu aja ngomongin kejelekan dia terus."
"guekan cuma kesel."
Ajib menghembuskan nafas lelah. ia sebenarnya merasa muak melihat teman-temannya bertengkar seperti ini.
"lo ngomong donk ke dia kalau kita temenan lagi aja gitu. gue kan gak salah."
"tuh kan. kamu aja gak mau mengalah. coba kalau kamu mau minta maaf duluan."
Iko mengangkat kepalanya menatap Ajib serius. Iko merasa kalau selama ini ia tak bersalah pada Albi.
"tapi gue ini gak salah!"
"tuh kan, kamu selalu saja begitu. coba aja kamu dewasa sedikit."
Iko terdiam sejenak. ia mulai berfikir, kalau dia mengang selalu ngotot untuk dinyatakan tidak bersalah. tapi kesalah fahaman itu juga disebabkan olehnya.
"ok. gue akan minta maaf sama dia. tapi lo bujuk dia supaya mau ketemu sama gue."
"kamu serius?"
Ajib mendadak jadi semangat. ia merasa senang karna Iko ahirnya mau mengalah.
"seriuslah!"
__ADS_1
"ok! aku cari Albi sekarang."
Ajib langsung berdiri dan bergegas pergi. sedangkan Iko hanya melongo melihat Ajib yang begitu semangat.
Ajib mencari Albi ke beberapa tempat. namun ia masih tak menemukannya.
"Albi dimana sih?"
Ajib hampir frustasi mencari Albi. ia berniat duduk sebentar untuk menghilangkan rasa lelahnya karna dari tadi Ajib berlarian.
"gue sebenarnya suka sama lo dari pertama gue ketemu sama lo."
ketika sedang asik bersandar, Ajib mendengar suara Albi di belakangnya. ia segera menengok ke belakang mencari keberadaan Albi.
"gue minta maaf. gue gak bisa."
"ada orang lain?"
"lo ngerti kan maksud gue? tapi kita masih bisa temenan kok. lo masih mau kan jadi temen gue?"
Albi menganggukkan kepalanya. ia terlihat sedih karna cintanya tak di terima oleh Kara. tak beberapa lama, Kara pergi meninggalkan Albi. Ajib berfikir untuk mendekati Albi karna ia merasa kalau Albi sedang membutuhkannya.
"Al..."
Albi berbalik menatap Ajib yang sedang berjalan mendekatinya.
"jib. lo disini?"
"maaf. tadi aku sedikit mendengar pembicaraan kalian."
Albi menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"hmmm... aku bingung harus ngomong apa."
"santai aja kali, jib. gue gak papa kok!"
Ajib sedikit kebingungan karna takut kalau ia berbicara justru akan membuat Albi semakin sedih ataupun tersinggung.
"tadi kamu di tolak?"
Albi tersenyum dan mengangguk.
"tapi kamu gak papa kan?"
Albi kembali menganggukkan kepalanya. sekarang Albi merasa lebih baik karna sudah mengungkapkan perasaan yang selama ini ia pendam.
"gue justru seneng karna sekarang gue tau kalau Kara benar-benar gak suka sama gue. tadi Kara bilang sama gue, kalau cinta itu bukan hanya sekedar untuk menjadi pacar. dan cinta itu bukan untuk di paksa."
Albi terdiam sejenak. ia menatap lagit seperti sudah pasrah dengan keadaan.
"dia juga bilang. mencintai atau di cintai itu adalah sebuah anugrah yang indah. tapi bukan berarti kita harus memaksa orang yang kita cintai untuk mencintai juga. kita harus bisa menghargai keputusannya. itu adalah arti cinta yang sebenarnya."
Ajib hanya terdiam mendengar ucapan Albi. ia baru mengetahui kalau temannya itu pintar dalam menghargai perasaan orang lain.
"aku bangga padamu."
"hah?"
Albi menatap Ajib heran. ia tak mengerti maksud ucapannya.
"aku baru sadar kalau temanku ini pintar juga orangnya..."
bersambung...
__ADS_1