Jejak Iko

Jejak Iko
18. sebuah ruangan


__ADS_3

Setelah berjalan begitu jauh, mereka ahirnya Tiba di suatu ruangan yang cukup luas. disana banyak sekali barang\-barang dan alat\-alat yang terbilang cukup canggih. mungkin itu milik Alex.


"apa ini ruang rahasia milik Alex?"


tanya Iko. ia celingak- celinguk memandangi semua barang yang tergeletak di sana. saat Iko merasa angin berhembus cukup dekat bahkan menyentuh tubuhnya, Iko mendongak. ia baru menyadari kalau atapnya tidak ada. hanya ada dedaunan yang lebat yang bergoyang karna tertiup angin.


"disini tidak ada atap?"


Koeda yang mendengar ucapan Iko, ikut mendongak. ia juga ikut merasa kaget. perlahan Koeda merenggangkan tangannya dan mulai terbang ke atas. memastikan letak ruangan tersebut berada di mana?


"hey, lo mau kemana?"


Iko menatap Koeda yang sedang terbang ke atas. 'pemandangannya cukup indah. seenggaknya gue harus menikmatinya.' batin Iko. ia merebahkan tubuhnya di atas lantai. dengan begitu Iko bisa memandang bebas langit yang cukup cerah serta dedaunan yang bergoyang ria. ia juga bisa menikmati udara yang begitu segar sambil melihat Koeda yang sedang terbang di udara.


"hah.(menghela nafas) pemandangan yang indah."


Iko tersenyum lebar. setelah selesai memeriksa dari atas, Koeda segera menghampiri Iko.


"ngapain kamu tiduran disitu?"


"sini deh. lo liat pemandangan di atas. indah banget."


Iko menepuk lantai di sebelahnya mengisyaratkan agar Koeda ikut berbaring di sebelahnya.


"kita gak boleh santai-santai."


"udah, sini dulu!"


karna Iko memaksa, ahirnya Koeda menurut. setelah merebahkan tubuhnya, ia juga merasakan apa yang sedang Iko rasakan.

__ADS_1


"wah, beneran indah."


Iko menganggukkan kepalanya.


"seenggaknya kita nikmati saja dulu sebentar."


mereka terdiam cukup lama hingga ahirnya Iko membuka pembicaraan di antara mereka.


"tadi apa yang lo liat?"


"aku cuma mastiin posisi ruangan ini. ternyata ruangan ini ada diujung pohon milik Alex."


Iko mengangguk faham. ia menarik nafas dalam.


"coba aja kalo temen gue ada di sini. dia juga pasti seneng."


"ternyata kamu punya teman juga?"


"dia satu-satunya temen yang selalu ada buat gue. tapi sayang, dia gak ada di sini."


"emang dia ada di mana?"


"di dunia gue yang sebenarnya."


Koeda mengerutkan kedua alisnya. ia semakin tak mengerti maksud dari ucapan Iko.


"maksudnya?"


"lo sadar gak sih kalau gue itu bukan asli orang sini. gue cuma pendatang."

__ADS_1


Koeda menganggukkan kepalanya.


"gue sebenernya gak ada niatan buat masuk ke dunia lo ini. entah kenapa setiap gue tidur, gue pasti dateng ke sini lagi. padahal gue udah berusaha tetap berada di dunia gue yang sebenarnya."


Koeda baru menyadari kalau Iko memang benar-benar bukan bagian dari mereka. Iko bahkan tidak bisa terbang.


"kadang, gue rindu sama rumah gue. pengen banget rasanya untuk pulang. tapi ini di luar kendali gue."


Koeda berfikir sejenak. ia seperti mengingat sesuatu tapi tak terasa jelas.


"oh...aku ngerti. mungkin kamu sama kaya Alex. dan mungkin kamu juga bisa menyalakan semua lilin-lilin itu lagi."


Iko merasa heran. ia tak mengerti arah pembicaraan Koeda.


"maksud lo?"


"Alex juga pendatang kaya kamu. dia juga gak bisa terbang. tapi dia juga bisa bahasa kami. sama seperti kamu."


Iko menggelengkan kepalanya. karna Iko merasa dirinya tak sepintar Alex yang bahkan bisa menciptakan jalan menuju seberang.


"gak mungkin lah!"


"mungkin saja. buktinya dari dulu aku mencari banyak petunjuk tapi tak bisa menemukannya. sedangkan kamu, baru pertama kali datang saja bisa menemukan ruangan rahasia ini."


Koeda terus meyakinkan Iko bahwa dirinya juga mampu seperti Alex.


"mungkin ini hanya kebetulan saja?"


Koeda menggelengkan kepalanya tak setuju.

__ADS_1


bersambung...


__ADS_2