
Kriiing....kriiing.....
suara alarm terdengar jelas di telinga Iko. ia segera membuka matanya. Iko menyadari kalau dirinya ada di kamarnya kembali. ia segera melirik ke arah jam.
"what? setengah delapan?"
Iko bergegas mandi setelah menyadari bahwa dirinya sudah terlambat berangkat ke sekolah. setelah selesai siap-siap, Iko segera turun dan pergi menemui Intan. ia melihat Intan sedang menyiapkan makanan di dapur.
"pagi, mah."
Iko bergegas salim dan berpamitan berangkat sekolah.
"Iko berangkat dulu, mah!"
"eh eh, berangkat kemana kamu ini?"
Intan memegang tangan Iko mencegahnya pergi.
"ke sekolah lah!"
"inikan masih jam setengah tuju. kamu ini buru-buru amat sih!"
Iko melongo. ia tak yakin dengan ucapan Intan. karna tadi ia melihat kalau jam di kamarnya menunjukan pukul setengah delapan. Iko menatap jam dinding yang ada di ruang tamu. benar! jam di sana masih menunjukan pukul setengah tujuh.
"kok bisa di kamar Iko jam delapan?"
Intan tersenyum. melihat itu, Iko merasa curiga kepadanya.
__ADS_1
"wah, mamah nih yang udah ngerjain Iko. yakan?"
"abis kamu molor terus. mamah takut kamu bakalan telat sekolahnya, jadi tadi malam mamah cepetin jam di kamar kamu."
Iko terduduk lemas. nafasnya sudah tak karuan karna berlari turun dari tangga.
"ok. mamah minta maaf."
"mau bagaimana lagi."
Iko menghela nafas berat. ia teringat dengan ucapan Koeda tadi malam. sekarang Iko sudah mulai terbiasa dengan kehidupannya yang sekarang. walau terasa rumit, Iko tetap menjalaninya. sekarang ia juga memutuskan untuk tidak menceritakan kejadian ini krpada siapapun termasuk Intan. kecuali kalau mrmang ada orang yang benar-benar mempercayainya.
"mah..."
"ya?"
"maaf ya. selama ini Iko gak nurut sama mamah."
Intan tersenyum. ia menganggukkan kepalanya.
"mamah selalu maaf kan kamu kok, sayang. mamah juga minta maaf deh kalau selama ini mamah gak pernah memikirkan apa keinginan kamu yang sebenarnya. mamah hanya memberikan apa yang menurut mamah baik buat kamu. padahal kamu gak suka."
Iko tersenyum dan mengangguk. ia mulai menyantap sarapan paginya.
"kamu inget gak pas kamu marah gara-gara mamah beliin kamu robot. padahal kamu pengennya mobil remot kontrol."
Iko menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"mamah kan tau. waktu itu, yang lagi tren bukan robot. ya Iko marah lah mah."
Intan tertawa. ia juga menyadari kesalahannya itu.
"mamah fikir kalau robot itu lebih baik dari pada apa tuh tadi?"
"mobil remot control."
"nah iya itu. sebenernya itu gara-gara papa kamu."
Iko memasang muka heran andalannya.
"lah, kok jadi bawa-bawa papah si?"
"haha..gak tau lah."
mereka tertawa bersama. Iko baru mengerti bahwa mungkin kalau ia terus komunikasi dengan Intan, akan membuat mereka semakin dekat.
"kapan kamu berangkat sekolah? udah jam tujuh tuh!"
Iko mengangguk dan segera pamit. walau sarapannya belum habis tak seperti biasanya. kali ini mereka lebih banyak bercerita dan tertawa bersama.
"kalau gitu, Iko pamit."
"hati-hati di jalan yah!"
Iko mengangguk. hari ini adalah hari yang bahagia buat Iko. lembaran baru mulai tersusun kembali. Iko berjalan sambil mengayunkan tangannya dan tersenyum ceria. 'mungkin dengan datangnya gue ke dunia aneh itu, gue bisa menjadi orang yang lebih baik lagi. tuhan....terimakasih buat segalanya.' batin Iko.
__ADS_1
bersambung...