
Haruki, tempat yang baru pertama kali Iko kunjungi. tempat yang sangat sejuk, indah dan menakjubkan. walau sinar matahari tepat di depan mata, namun tidak terasa panas. tempat itu di kelilingi banyak bunga yang mekar dengan sempurna seperti di musim semi. disana juga ada beberapa pohon besar. tapi tak seperti pohon biasanya. pada batangnya terdapat beberapa jendela. banyak pula serangga yang berterbangan. ups! itu bukan serangga. kalau di lihat dari dekat, mereka sama dengan koeda dan mereka bisa terbang.
"waw, keren! gak pernah gue nemu pemandangan se indah ini. mana sejuk lagi udaranya."
Koeda tersenyum melihat Iko yang seperti anak satu tahun Yang baru melihat taman bermain.
"eh, ngomong-ngomong, kok mereka bisa terbang?"
Koeda merenggangkan kedua tangannya dan mengucapkan beberapa kata yang tak Iko mengerti. tiba-tiba, Koeda terbang secara perlahan.
"hah? lo juga bisa?"
koeda menganggukkan kepalanya dan kembali turun.
"kami semua emang bisa terbang. karna pekerjaan sehari-hari kami adalah menaburi serbuk untuk bunga-bunga."
"kruyuukk"
perut Iko berbunyi keras saat mereka sama-sama terdiam. mendengar suara itu, Koeda memahaminya. ia mengajak Iko pergi untuk makan sambil berkeliling.
"kamu lapar ya? kalau begitu, ayo kita makan."
Iko hanya tersenyum malu. sambil berjalan menuju tempat makan, Iko menatap takjub sekeliling. suasana disekitar sungguh tenang. bunga-bunga juga tertata dengan rapi. tak ada sampah berserakan. semua bersih. sesekali tercium aroma bunga yang wangi serta menenangkan. seketika Iko terfikir sesuatu.
__ADS_1
"oh iya, kalian semua tinggalnya di mana?"
"kami tinggal di pohon-pohon besar itu."
Koeda menunjuk pohon yang ber jendela. Iko mengangguk mengerti. walau tidak masuk akal, Iko berusaha mencernanya.
"ini dia tempat makan yang sering aku kunjungi."
Iko dan Koeda berhenti di satu pohon yang ukurannya cukup besar. ada sekitar lima jendela yang terbuka lebar. namun sebenarnya itu bukan lah jendela, melainkan pintu masuk kedalam pohon itu. di atas pohon itu tertulis jelas 'tempat makan' dalam bahasa mereka. Iko dan Koeda masuk kedalam. saat melihat kedalam, Iko kembali melongo. di dalam pohon itu ternyata sangat luas sekali. bahkan bisa di isi oleh puluhan orang sekaligus. tempatnya bahkan lebih indah dari restaurant termahal di indonesia. lampu besar menggantung di tengah langit-langit ruangan. aroma makananpun tercium jelas di hidung Iko. ditambah dengan semilir angin yang sangat sejuk.
"Iko ayo duduk sini!"
Iko kembali tersadar dan berjalan mendekati Koeda yang sudah duduk dari tadi. mereka berdua duduk di samping dinding yang tak lain adalah batang pohon itu.
mendengar panggilan Koeda, salah seorang pegawai datang memberikan daftar menu yang tersedia di sana.
"mau makan apa?"
tanya Koeda. karna tak mengerti dengan nama-nama yang tertulis di buku menu, Iko memilih makanan yang sama dengan Koeda.
"lo disini tinggal sama siapa?"
Iko membuka pembicaraan sambil menunggu pesanan mereka datang.
__ADS_1
"sama ibuku."
"bapak lo?"
"udah meninggal beberapa tahun lalu."
Iko terdiam. ia merasa bersalah karna telah bertanya demikian.
"sorry..."
Koeda tersenyum dan menganggukkan kepalanya. tak lama, pesanan mereka ahirnya tiba.
"selamat menikmati."
"trimakasih."
pelayan itu mengangguk sopan. Iko mengerutkan kedua alisnya menatap makanan itu. ia keheranan melihat satu mangkuk butiran-butiran yang mirip dengan gula pasir. namun warnanya coklat terang.
"ini makanan apa?"
"cobain dulu. nanti juga bakal ketagihan."
Iko menurut. ia menyiduk beberapa butir dan mencicipinya. kedua mata Iko terbelalak setelah menelannya.
__ADS_1
bersambung...