
Setelah amukan golongan Hee semakin membara, peperangan menjadi semakin dasyat. Iko menjadi hawatir karna semakin lama, banyak warga yang mulai tumbang. sudah di pastikan memang kekuatan mereka tak seimbang dengan golongan Hee. Iko memberi intruksi pada Koeda agar dia mengendalikan pasukannya. sedangkan Iko diam- diam pergi menemui Hana untuk memastikan perkembangan melati merah.
"gimana tante?"
Hana hanya menggelengkan kepalanya. Hana tak yakin kalau bunga itu akan mekar. sudah tak ada rasa bahagia lagi dalam diri warga. sekarang yang mereka rasakan hanyalah ketakutan dan kehawatiran.
"ini sangat sulit Iko. tante gak yakin soal ini."
Iko kembali berfikir keras.
"tapi bukankah dengan senyuman mereka tadi harusnya bisa membuat melati merah ini mekar?"
Iko mulai menyerah. ia sudah merasa gagal. bukannya membawa perdamaian tapi malah mengacaukan semuanya. 'tuhan, bisakah engkau mengabulkan keinginan kami semua. sudahkah engkau lihat penderitaan kami. ayolah... mekarlah.. kumohon' batin Iko. ia menatap segundukan tanah yang terisi biji melati merah. perlahan Iko menutup matanya dan pasrah.
"sudahlah, ko. kita sudahi saja."
Hana menepuk pundak Iko dan mengajaknya bergabung dengan yang lain. mereka berniat akan mengumumkan kemunduran mereka. namun, kali ini keajaiban berpihak pada mereka. sebelum Iko dan Hana benar -benar meninggalkan tempat itu, bunga melati merah mulai tumbuh. pertumbuhannya sangat cepat.
"tante, lihat!"
Hana tersenyum. ia merasa lega karna bunga yang di harapkan ahirnya tumbuh. peperangan terhenti karna tanah bergetar begitu hebat. semua orang menatap ke arah Iko dan Hana karna mereka berdiri tepat di hadapan pohon bunga melati merah itu. semua tumbuh dengan sempurna. batangnya berdiri dengan kokoh, rantingnya melekuk ke setiap penjuru, bunganya mulai bermekaran. warna merah menyala dan bau harum yang menyerbak membuat semua orang terpanah.
"wow. bunganya indah banget. baru kali ini gue liat bunga secantik itu."
belum selesai mereka menikmati pemandangan yang bagai di syurga itu, tiba- tiba cahaya keluar dari pohon itu dan bersinar begitu terang. semua orang menutup matanya karna tak tahan.
"apa ini. apa yang terjadi?"
"entahlah."
__ADS_1
Hana hanya menggelengkan kepalanya sambil menutupi wajahnya. setelah cahaya perlahan mulai memudar, semua orang kembali membuka mata mereka. Koeda melihat sekeliling. ia merasa heran karna tadi di sampingnya banyak sekali pasukan dari golongan Hee tapi mereka sudah tak ada.
"kemana mereka?"
pertanyaan Koeda membuat semua orang melirik padanya. dan mereka pun mulai menyadari kalau golongan Hee sudah tak ada.
"jangan- jangan mereka sudah musnah!"
ucap salah seorang prajurit. yang lain pun menanggapi demikian.
"berarti kita menang!"
Hana mengepalkan tangan kanannya dan mengangkatnya setinggi mungkin dan diikuti warga yang lain. mereka bersorak gembira dan merayakan kemenangan mereka. selain itu, jalan menuju daerah lain pun kembali terbuka lebar. saat menatap ke kanan, Hana melihat seseorang yang mungkin ia kenal. Hana memperhatikannya dengan saksama. benar! dia adalah Alex. seseorang yang selama ini di tahan oleh golongan Hee.
"Alex!"
Hana berjalan menghampirinya. ia merasa senang karna Alex masih hidup sampai sekarang.
Alex tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Iko, Koeda.. sini. ada Alex!"
Hana berteriak ke arah Koeda dan Iko. mereka segera menemui Hana setelah mendengar panggilannya.
setelah mendekat, Iko mengerutkan keningnya. ia tak percaya dengan apa yang ia lihat. ia merasa kaget dengan kehadiran seseorang yang kini ada di hadapannya.
"papa.."
Hana dan Koeda yang tak mengerti dengan ucapan Iko hnya diam menyimak.
__ADS_1
"Iko. kamu di sini? papa gak nyangka kalau kamu akan menyelamatkan papa dan yang lain. papa bangga sama kamu."
Alex teraenyum.
"tapi kenapa papa ada disini? jadi selama ini papa tak pernah mati?"
Alex menggelengkan kepalanya.
"papa terjebak disini dan gak bisa kembali."
"tapi papa bisa kembali."
"tidak nak. jasad papa sudah dikubur. sudah tak ada harapan papa untuk kembali bersama kalian. di sini kehidupan papa sekarang."
"jadi papa yang selama ini membangun jalur ke daerah lain? tapi kenapa papa menggunakan nama Alex?"
"papa mengganti nama disini. kamu pulanglah. semua orang pasti telah menunggumu."
"gak. Iko mau ikut papa!"
Alex menggeleng keras.
"mama pasti sangat merindukanmu. teman- temanmu juga. pulanglah!"
Iko menatap Koeda dan Hana. Iko masih tak ihlas jika harus berpisah dengan mereka. Koeda tersenyum dan mengangguk.
"sebaiknya kamu pulang. kita semua pasti akan selalu mengingatmu."
Iko mengangguk dan melambaikan tangannya.
__ADS_1
bersambung...