Jejak Iko

Jejak Iko
15. sebelum libur tiba


__ADS_3

Hari yang biasa Iko tunggu\-tunggu, besok akan tiba. ia tak sabar menantikan hari esok.


"Ko, lo besok ada rencana apa?"


waktu belajar telah selesai. Iko dan Albi pulang bersama.


"tidur."


"hah? tidur lagi?"


Iko mengangguk pasti. ia sudah merasa lelah dengan hidupnya ini. ia selalu menantikan hari dimana dia bisa tenang tanpa di ganggu.


"lo kaya gak ada kerjaan lain aja. mending kita main aja. kemana kek gitu?"


Iko menggelengkan kepalanya.


"lo ajak Ajib aja. dia pasti mau."


Albi menggaruk kepalanya kesal. yang ingin ia ajak itu Iko bukannya Ajib.


"yaudalah. gue sendiri lagi aja."


"lo sebagai temen gue harus ngertiin keadaan temen lo ini."


"halah. keadaan apaan. keadaan pala lo peang!"


Iko tertawa melihat Albi yang sedang kesal. Iko kadang merasa heran. kenapa Albi hanya ingin main dengannya. padahal masih banyak temannya di sana.


"lo kan banyak temen. kenapa mesti gue?"


"gue kan cuma sayangnya sama lo!"


Iko hampir muntah mendengar jawaban itu. Iko tau kalo Albi hanya bercanda. Albi selalu bersikap seperti itu. mungkin itu adalah faktor dari jomblo nya dia selama ini.

__ADS_1


"udah lah. gue pulang dulu. bay!"


setelah sampai di depan rumahnya Albi, Iko pamit pulang ke rumahnya.


"mah, Iko pulang..."


tak ada jawaban dari Intan. Iko hanya mengangkat kedua bahunya dan bergegas ke kamarnya untuk mandi.


"saatnya siap-siap untuk menikmati hari yang menenangkan ini."


Iko tersenyum lebar. setelah selesai mandi, ia segera turun untuk mengambil cemilannya.


"mamah mana sih?"


Iko celingak -celinguk mencari Intan. dari tadi rumah terasa sepi. di dapur Iko mencari Intan bahkan ke halaman belakang. tapi tetap ia tak menemukannya.


"mah....mamah....."


"mamah nih mengulur waktu tidurku saja. kemana sih? mana gak bilang-bilang lagi."


Iko segera mengambil hp nya untuk menghubungi Intan. namun belum sempat di


angkat, Intan sudah pulang.


"mah, dari mana aja sih?"


Iko hendak marah-marah kepada Intan. Intan tiba-tiba menepuk jidatnya.


"oh iya. mama lupa bilang ke kamu, sayang. maafin mama yah..."


Iko berbalik dan pergi kedapur. ia merasa kalau sekarang Intan sudah tak menganggapnya lagi.


"sayang...mama beneran lupa soalnya mama buru-buru."

__ADS_1


Intan mengikuti Iko dari belakang.


"emang mamah dari mana?"


"mama abis ikut tetangga layat. sekalian jengukin kuburan papa kamu, sayang."


Iko berbalik menatap Intan.


"kenapa gak ajak Iko?"


Intan duduk di kursi yang ada di dekatnya. Intan merasa kelelahan karna sejak pagi ia ikut mengurus jenazah.


"kan mamah sudah bilang, mamah buru-buru. lagian kamu kan sekolah!"


Iko hanya diam. ia segera mengambil cemilannya dan hendak pergi ke kamarnya.


"kamu mau kemana?"


"biasa."


"kamu gak mau duduk dulu nemenin mamah?"


Iko tak menatap Intan sedikitpun.


"lain kali saja."


Iko segera pergi kekamarnya meninggalkan Intan sendirian. Iko merasa kesal karna sudah setahun terahir ini Intan tak pernah mengajaknya melihat makam papanya. Iko merasa kalau Intan berusaha membuat Iko lupa tentang papanya.


"kenapa sih mamah selalu saja begitu. tak perna mengerti apa yang sebenarnya di inginkan oleh anaknya ini."


Intan memang menyayangi Iko. segalanya ia berikan untuk Iko. namun karna terlalu semangat memberikan segalanya untuk Iko, Intan samapai lupa tentang apa yang sebenarnya Iko inginkan. Ikopun tak bisa mengutarakan keinginannya. karna ia merasa segalanya telah di atur oleh Intan. bahkan hidupnya sekalipun.


bersambung...

__ADS_1


__ADS_2