
Aku menatap tak percaya pada lelaki tampan yang sedang menghajar lelaki ba-jingan yang hampir melecehkanku. Kenapa dia datang di waktu yang tepat. Jodoh kah? Aish! Pikiran, tolong jangan ngawur dulu. Ini suasana lagi menegangkan.
Bugh! Bugh! Bugh!
Berkali-kali Om Gibran mendaratkan bogem mentah di wajah lelaki bongsor tersebut. Tubuh tegapnya hampir saja terhuyung ke belakang saat lawan membalas dengan dorongan.
Beberapa menit kemudian lelaki bongsor itu terjatuh lemah karena tendangan maut dari Om Gibran yang tepat mengenai burungnya. Aku meringis ngilu melihat itu.
"Ikut saya!" Om Gibran menarik pergelangan tanganku untuk mengikutinya.
"Tunggu, Om!" Aku berhasil menghentikan langkahnya. Lalu melihat ke belakang tempat di mana Siti duduk. Kosong. Dia tidak ada. Ke mana perginya perempuan mabuk itu.
"Saya tidak punya banyak waktu." Om Gibran kembali menarik tanganku menuju keluar. Di seberang jalan kulihat mobil Om Gibran terparkir sendirian.
Kemudian Om Gibran membawaku ke sana. Menghampiri mobil mewah yang biasa dia gunakan untuk pergi kerja. Aku tahu karena aku selalu memperhatikan. Membuka pintu depan, Om Gibran memaksaku untuk segera masuk ke dalam mobil.
"Cepat masuk!" ucapnya lagi saat aku diam tak bereaksi. Lalu akhirnya aku menurut dan masuk ke dalam mobil mewah itu. Lelaki itu pun duduk di depan kemudi.
"Om, sebentar! Aku harus mencari temanku." Aku menahan tangan Om Gibran yang hendak memutar setir. Dia menoleh kemudian menatapku. Saat itu juga aku melihat ada yang berbeda dari wajahnya. Mata Om Gibran terlihat memerah dan rautnya menunjukan seperti sedang menahan sesuatu. Simpul di lehernya pun bergerak naik turun.
"K-kita ha-harus masuk lagi. Si-Siti masih di sa-na." Aku menarik tanganku yang memegangi lengannya. Mendadak nafasku terasa sesak. Kutegakkan posisi duduk, dan menatap lurus ke depan. Dari sudut mata, sepertinya tatapan Om Gibran masih tertuju ke arahku.
Aku menoleh.
"Om ba-baik ba-baik sa-ja, kan?"
"Saya sedang dalam pengaruh obat. Jika kamu tidak ingin jadi korban, duduk dan diamlah. Jangan banyak bertingkah!" Dia melonggarkan dasi yang melingkar di lehernya dan melepas bebarapa kancing teratas kemejanya.
Mendengar Om Gibran berkata demikian, jujur aku sungguh gelagapan. Bulu kudukku meremang. Ditambah kondisinya yang memang sedang tidak baik-baik saja. Tapi pikiran tentang Siti mabuk terus menari indah di benakku. Aku harus mencarinya. Aku takut dia kenapa-kenapa.
"Om, kita--"
"Baik. Kau yang menginginkannya." Dia membanting setir.
"Jangan salahkan saya jika terjadi sesuatu pada dirimu, Nada!" sambungnya.
__ADS_1
Lalu kedua tangan Om Gibran menangkup wajahku dan dengan cepat dia melahap habis bibirku. Aku berusaha berontak dengan memukul dada bidangnya.
"Hhmmppt ... Om, lepaskan!" teriakku saat bibirnya beralih pada leher. Kurasakan tangan kekarnya merobek paksa baju yang kukenakan. Menyisakan bra yang sedikit lagi ikut terlepas.
"Aw, sakit!" Dadaku terasa sangat ngilu karena re-ma-san tangan kekar Om Gibran.
"Om tolong, aku mohon jangan sakiti aku ..." lagi lagi aku merintih kesakitan saat kurasakan hisapan kuat di area dadaku. Aku seperti seorang Ibu yang sedang meng-asihi anaknya.
Om Gibran melepas hisapannya. Dia kembali pada posisi duduknya sembari melepas satu persatu kain yang masih melekat di tubuhnya. Kugunakan kesempatan itu untuk meminta tolong. Berteriak sekencang mungkin berharap ada manusia yang mau menolong.
Tidak bisa kubayangkan wajah kebencian kedua orang tuaku bila mereka mendapati putri semata wayangnya ternoda. Sungguh aku tidak mau hamil di luar nikah. Aku tidak mau dimusuhi orang tuaku. Aku benci keadaan ini.
"Tolong .....!!" Aku masih berusaha berteriak meski pada akhirnya percuma.
Sampai suara serak pun, aku tak juga mendapati tanda-tanda pertolongan itu akan datang. Kulihat Om Gibran akan kembali beraksi setelah semua pakaian dia tanggalkan.
"Aku mohon, jangan .." pintaku lirih pada lelaki berkabut gairah di hadapan.
Namun Om Gibran tak mengindahkan permintaanku. Dia malah menurunkan kursi yang kududuki. Membuatku menjadi berbaring lemah tak berdaya. Setelahnya, dia menaiki tubuhku dan melepas paksa semua kain yang melekat ditubuhku. Lalu ...
"Aaakkhh!"
***
Lelaki di sampingku terbangun karena suara jerit tangisku. Lalu kupukul dia terus menerus. Dia harus tanggung jawab atas perbuatannya.
"Nada! Tenanglah dulu. Dan pakai pakaianmu." Om Gibran menyugar rambutnya kasar. Dia meraih jas yang tergeletak lalu memakaikannya pada tubuh polosku.
Air mataku seolah tidak ada habisnya hingga membuat mataku menjadi bengkak. Aku tak bisa berhenti menangis. Menyesali semua kebodohanku. Harusnya aku nurut saja saat Om Gibran menyuruhku diam. Harusnya aku tak bersikeras ingin mencari Siti. Dan seharusnya aku tak memasuki rumah sEtan itu.
"Aaakkkhhh ...!" Meraung, menangis, bahkan menjerit sampai suara habis pun percuma. Semua itu tidak akan bisa mengembalikan 'mahkota suciku'. Aku telah kotor.
Om Gibran merengkuhku ke dalam pelukan.
"Saya minta maaf. Saya janji akan bertanggung jawab," ucapnya lirih.
__ADS_1
Aku tidak tahu apakah saat ini aku masih menyukai Om duda tampan tersebut atau mungkin saja rasa itu kini telah berganti jadi rasa benci yang teramat dalam.
***
"Pergi kamu dari sini. Pergi ...!" Ibu melempar semua baju-bajuku ke luar.
"Saya tidak sudi memiliki seorang anak murahan seperti kamu." Maki Ibu dengan jari telunjuk mengarah tepat wajahku.
"Pergi! Jangan pernah menginjakan kaki di rumah ini lagi."
"Pak, Bu, Nada mohon ... ampuni Nada." Aku bersimpuh di kaki kedua orang tuaku. Kupeluk erat kaki itu dengan tangis berderai. Jika saja aku bisa memutar waktu, aku tidak akan pergi ke bioskop malam itu.
Tubuhku terjengkang saat Bapak mengacungkan kakinya.
"Pak ..." kupejamkan mata saat tangan tua itu mulai terayun.
Plak!
Entah sejak kapan dia ada. Om Gibran menghalangiku dari amukan Bapak. Dilihat dari posisinya menoleh, pipi kanan lelaki itu menjadi sasaran tamparan Bapak yang seharusnya mendarat di pipiku.
"Bagus kamu datang. Bawa dia pergi dan jangan pernah muncul lagi di hadapan kami!"
"Saya akan bertanggung jawab penuh atas putri Bapak. Dan saya akan kembali ke sini saat semuanya kembali membaik."
Brak!
Pintu di banting keras oleh Bapak.
"Ayo pergi!" Om Gibran membantuku berdiri dan mengajakku pulang ke rumahnya. Aku tak bisa menolak, juga tidak bisa berontak. Karena yang kubutuhkan saat ini adalah ketenangan. Bukan tidak mungkin aku mendapat cibiran dari tetangga jika aku luntang-lantung sendirian.
Di rumah Om Gibran aku dibawa ke kamarnya. Lelaki itu mendudukanku di bibir ranjang.
"Ini baju gantimu. Kamar mandinya di sebelah sana," kata Om Gibran seraya memberikan sebuah paper bag dan menunjuk pintu coklat yang berada di pojok sana. Secara tidak langsung lelaki itu menyuruhku membersihkan diri. Aku baru sadar di rumah belum sempat mandi besar karena keburu diusir.
"Istirahatlah di sini. Saya harus segera ke kantor."
__ADS_1
Aku tak menjawab dan hanya menatap lelaki itu sekilas. Kenapa semuanya jadi serumit ini. Aku diusir dari rumah karena kesalahan yang kuperbuat sendiri. Sedangkan beberapa minggu lagi hari wisuda kelulusanku.
Bagaimana dengan seragamku, nilai-nilaiku. Bodohnya aku baru memikirkan itu di saat sudah sekacau ini.