Jerat Cinta Bocah Tengil

Jerat Cinta Bocah Tengil
Dinner yang kacau


__ADS_3

"Etapi, nih, ye. Kalau gue liat-liat, lu kaya orang lagi ngidam tau, Nad."


"Bayangin, nih. Pas kita jalan-jalan ke taman selepas dari kafe, tiba-tiba lu bilang pengen banget makan berkuah yang pedes. Terus pas masih di kafe itu kamu baru nyium aroma kopi aja langsung muntah. Dan ini sekarang kamu sensitif banget. Gampang nangis."


"Nada yang gue kenal itu tangguh, nggak cengeng. Suka petakilan. Bukan malah mewek begini."


Dari tadi Sari nyerocos aja ngebahas aku yang kata dia sedang berbadan dua. Meski aku juga merasa ada yang aneh pada diriku, tapi sepertinya hamil bukan jawaban tepat untuk menjawab keanehan itu.


"Ri, lu bisa diem nggak, sih? Pala gue mumet ini dengernya." ucapku sambil memijat pelipis.


"Nggak bisa, Nad. Nggak bisa. Lu itu butuh nasehat. Dan gue harus beri itu."


Tring!


Pesan watsap masuk di ponselku. Dari Mas Gibran. Segera kubuka.


[Aku sudah di depan. Cepet ke sini]


Celingukan aku mencari keberadaannya. Berjalan ke luar pager, aku melihat mobil Mas Gibran sudah puter balik dan siap melaju kembali.


"Nad, sudah dijemput?" tanya Sari yang masih duduk di teras rumahku.


"Iya."


Sari berjalan menghampiri.


"Bilang dong!" ucapnya seraya menepuk bahuku.


Kulihat Mas Gibran keluar dari mobilnya. Dia melangkah ke arah aku dan Sari berdiri. Tepatnya di depan pager rumahku.


"Gila! Om Gibran makin cakep aja, ya!"


Aku tertawa kecil mendengarnya.


"Om," sapa Sari disertai senyuman.


"Saya Sari temennya Nada."


Terbengong aku melihat kelakuan Sari yang tidak seperti biasanya, cuek sama cowok. Kali ini dia mengeluarkan tingkah tengilnya.


"Sudah, sudah. Nggak usah genit." Kutampis tangan Sari yang terulur ke arah Mas Gibran.


"Kamu bawa mobil, kan?" Mas Gibran bertanya pada Sari.


"Iya, Om. Tapi kalau Om Gibran mau nganterin, bisa kok mobilnya dititipin."


Plak!


"Aw, Nad! Sakit, tau!"

__ADS_1


"Sorry. Tiba-tiba aja tangan gue gatel pen gampar orang." ketusku sambil bersedekap dada.


"Dahlah, gue mau pulang. Duluan ya, Om." pamit Sari sambil tersenyum sok manis pada suamiku. Berasa pen gue kuncir aja tuh bibir.


Aku dan Mas Gibran pun pulang, setelah Sari hilang dari pandangan.


*****


"Tumben nggak bareng Om Vino." Mas Gibran menoleh, kemudian kembali fokus ke jalan. Dia menyetir sambil sesekali melirikku dengan tatapan sulit diartikan.


"Dia lagi cuti."


"Kenapa?"


"Ibunya sedang dirawat."


"Oh."


"Tadi ngapain lagi ke rumah orang tua kamu?"


"Nggak ngapa-ngapain. Nanti malam kita makan malam di restoran, ya." pintaku pada Mas Gibran.


"Kamu lagi pengen makan sesuatu?"


"Nggak, kok. Pengen ke sana aja."


Sudah di apartemen, aku beres-beres. Mandi, ganti baju, salat, dan bersiap-siap hendak keluar karena akan dinner bersama Mas Gibran.


"Sudah, sudah cantik. Ngaca mulu dari tadi." seru Mas Gibran saat melihatku muter kanan muter kiri di depan cermin.


Kata Mas Gibran, hidup itu nggak perlu distresin. Jalani saja sebagaimana mestinya. Enjoy, dan tetap fokus perbaiki diri menjadi lebih baik. Jangan menyia-nyiakan waktumu saat ini hanya untuk menyesali masa lalu.


Karena itu, meski sekarang ini aku sedang bingung dan bermasalah, aku mencoba menyikapinya dengan tenang. Tapi kadang risau, sih. Hehe. Namun aku percaya setiap masalah pasti ada jalan keluranya.


"Sudah belum dandannya?"


"Sudah, ayo!"


Kuselipkan tangan kiri ke lengan Mas Gibran. Lelaki itu memakai kemeja soft blue dipadu dengan celana bahan berwarna hitam. Selalu terlihat keren seperti biasa.


Sementara aku mengenakan dress selutut bermotif love kecil dengan warna senada seperti kemeja Mas Gibran.


Kita memilih dinner di SALE Italian Ristorante. Pas pertama masuk disambut dengan lagu romantis ala orang yang lagi kasmaran.


Netraku menyapu indah ruangan cantik ini. Suka banget sama pemandangannya. Design restonya juga authentic Italian vibe.


Mas Gibran memesan menu spaghetti ai funghai dengan minuman millano. Aku yang belum tau menu-menu di sini, mengikuti saja apa yang dipesan suamiku.


Makanan datang. Kelihatannya super duper lezat. Semoga saja cocok di lidah kampungku ini.

__ADS_1


Kita berdua mulai menyantap makanan dengan tenang. Hingga akhirnya sesuatu yang mengejutkan pun terjadi.


Seorang anak kecil sekitar usia empat tahun datang menghampiri dan memanggil Mas Gibran dengan sebutan Papa.


Aku menatap tajam ke arah Mas Gibran yang tetap terlihat tenang.


"Papa!" panggil anak kecil itu lagi.


"Mas, dia memanggilmu." Aku memberitahu. Karena sedari tadi Mas Gibran hanya diam saja, tak menyahuti.


"Papa," anak kecil berambut kepang dua itu menarik-narik ujung kemeja Mas Gibran.


"Sayang, kamu kenal sama Om ini?" tanyaku selembut mungkin. Aku berjongkok mensejajarkan posisi dengan gadis kecil yang entah dari mana datangnya.


"Dia Papaku, Kakak."


"Celia! Kenapa kamu lepas dari gandengan Mama?!"


Seorang wanita berkisar mungkin 25 tahun, menarik kasar anak kecil yang berdiri di depanku. Kemungkinan dia ibunya. Dan saat itu juga kulihat Mas Gibran menatap wanita berpakaian sexy itu.


"Mama, Celia mau sama Papa." Anak kecil yang diketahui bernama Celia itu bersikekeh meneyebut bahwa Mas Gibran adalah Papanya.


"Jangan, Nak. Nggak boleh! Biarkan Papa kamu bersenang-senang dengan istri barunya!" ucap wanita itu penuh penekanan.


"Cukup, Renata! Simpan semua kata-kata sampahmu itu!" Mas Gibran berdiri seraya membanting garpu hingga menimbulkan bunyi nyaring. Lelaki itu terlihat sangat emosi. Jujur, belum pernah aku melihat Mas Girban semarah ini.


Gertakan Mas Gibran barusan membuat wanita bernama Renita itu sedikit mundur. Aku memeluk Celia dan membawanya sedikit menyingkir dari dua orang yang sedang beradu konflik.


"Kamu mau mengelak apalagi? Jelas-jelas Celia itu anakmu, darah dagingmu!"


Sekilas aku melihat wanita itu melirik ke arahku saat mengatakan demikian.


"Sekarang juga kamu pergi dari sini dan jangan pernah muncul lagi di hadapanku. Katakan juga pada teman sandiwaramu, bahwa aku tidak akan tertipu oleh rencana busuk kalian."


Dari ekspresi yang terlihat, wanita itu seperti ketakutan mendengar Mas Gibran berkata begitu.


"Awas kamu, Gibran! Sampai kapan pun aku tidak akan menyerah merebut hatimu!"


Wanita bernama Renita itu mengepalkan kedua tangannya. Ada sorot kekesalan yang tergambar di wajah panjangnya.


"Celia, ayo kita pulang!" Dia lalu menarik paksa Celia dan membawanya pergi dengan tergesa. Celia meraung karena tidak mau ikut dengannya.


"Papa, tolongin Celia, Pa. Celia nggak mau sama Mama!" teriak anak kecil itu sembari terus menoleh ke belakang. Tepatnya pada lelaki yang dia panggil Papa.


Namun begitu, Mas Gibran tak bereaksi apapun. Dia malah menatapku yang memandangnya dengan sorot sendu. Mas Gibran benar-benar seorang yang penuh misteri. Baru beberapa bulan menjadi istrinya aku sudah dikejutkan dengan banyak kejadian tak terduga.


Aku melepas kasar bando yang bertahta di rambutku. Lalu berjalan keluar dengan mengentakan kaki.


Kacau sudah acara dinnerku malam ini.

__ADS_1


__ADS_2