
🌷🌷♥️🌷🌷
.
"Nad,"
"Why?"
"Maaf maaf nih, ye. Bukan maksud apa-apa."
Aku mengangkat kepala. Menegakan posisi, dan bersiap mendengarkan.
"Ada apa, sih?" Jantungku deg-deg an menunggu Sari bercerita. Aku sampai menghentikan suapanku karena melihat raut serius di wajahnya. Apalagi dia mengajakku ke cafe ini secara tiba-tiba dan tanpa Rani.
"Sebelum gue sama Rani berangkat ke sini, gue mampir dulu ke rumah ortu lu. Nyokap lu bilang ke kita buat bujuk lu sama Om Gibran biar balik ke sana. Bu Dewi cerita sambil nangis-nangis."
Helaan nafas panjang terdengar dari Sari sebelum ia melanjutkan ceritanya. Sementara aku menggigit bibir bawah, berusaha menahan tangis.
"Terlepas dari masalah yang terjadi, gue sebagai sahabat lu hanya ingin mengingatkan, minta maaflah sebelum terlambat, Nad. Gue tau lu kecewa, tapi apa lu nggak mau denger dulu alasan kenapa semua itu dirahasiakan."
"Lu coba bicara sama mereka pelan-pelan." Sari menggenggam tanganku yang terkepal.
Bukan tidak ingin pulang, aku hanya belum siap dengan semuanya. Aku perlu waktu untuk memulihkan diri.
"Nyokap gue cerita semuanya ke lu?" tanyaku dengan suara bergetar.
Sari mengangguk sebagai jawaban.
Netraku sudah berembun sedari tadi. Lalu kualihkan pandangan ke luar jendela. Menatap bangunan yang menjulang tinggi di sana dimana pemiliknya adalah suamiku sendiri. Kantor Mas Gibran.
Aku jadi merasa bersalah pada kedua orang tuaku. Di sini semua kebutuhanku tercukupi. Aku pun bahagia dan dengan egoisnya tidak memikirkan bagaimana keadaan mereka di sana.
Benar yang diucapkan Sari. Harusnya aku mendegar penjelasan mereka pelan-pelan, dan dengan kepala dingin.
Sepulangnya dari kafe aku langsung menghubungi Mas Gibran. Tanpa peduli lelaki itu sedang sibuk atau tidak.
"Mas, aku pengen ke rumah ibu." ucapku to the point setelah panggilan terhubung.
"Sore saja. Pulang kerja langsung ke sana."
Tubuhku rasanya langsung lesu mendengar ia yang seprtinya sangat sibuk. Tapi apa boleh buat. Aku juga harus mengerti dengan pekerjaan Mas Gibran yang sangat banyak.
"Ya, sudah. Semangat kerjanya biar kamu cepet pulang."
"Gimana?" tanya Sari saat sambungan sudah terputus. Dia duduk sejajar dengan Rani di sofa seberang.
"Sore."
"Oke. Kita ikut nggak, nih?"
"Nggak usah, deh. Kan lu berdua harus cari kosan."
"Gimana kalo sekarang aja kita cari kosan-nya?" Rani memberi usul.
__ADS_1
"Bener, sih. Daripada nggak ngapa-ngapain di rumah."
"Jadi?"
"Gas!"
*****
"Kosan bagus tapi murah emang masih ada, yah?" tanya Sari seraya melihat-lihat pintu kosan yang kita lewati.
"Murah simpen belakangan, deh. Lu orang kaya, mending cari yang nyaman dulu."
"Tapi aku bukan orang kaya, gimana dong?" Rani tampak memelas.
"Uang kos lu biar Sari yang bayar."
"Heh! Gue gibeng juga lu!" Sari berpura-pura hendak melayangkan sandalnya ke arahku.
"Eh, tuh! Ada kosan kosong. Bawahnya juga ditulis khusus cewe." Tunjukku kala melihat pintu dengan kertas putih menggantung memberitahu bahwa kamar itu belum ada yang menempati.
"Coba kita ke sana."
Drrrttt.....
Suara ponsel berdering membuat kita betiga celingukan mencari sumber suara yang ternyata itu adalah milik Sari.
"Bentar. Bokap gue nelpon."
"Iya, Pah?"
"Belum, tapi ini lagi nyari."
"Masih numpang sama Nada, yah?"
"Iya."
"Jangan lama-lama, takut ngerepotin. Terus nanti cari kamarnya yang bagus. Papa sudah transfer ke rekening kamu buat bayar kosan selama enam bulan."
"Iya, Pah. Semoga hari ini langsung dapet kosan-nya. Makasih sudah kirim uangnya. Nanti Sari cek rekeningnya."
"Jangan lupa nanti kabarin kalau sudah dapet."
"Iya. Bye, Pah."
Tut! Sambungan terputus.
Pok! Pok! Pok!
Aku bertepuk tangan sambil geleng-geleng kepala. "Adem bener, ye, denger obrolan orang kaya. Sat set gitu soal uang. Kagak ada hambatan." candaku pada Sari.
"Jangan pura-pura sok menderita lu, Nad. Lu udah jauh di atas gue! Harta suami lu kagak bakal habis walau pun dipake buat beli apartement ples pemiliknye!"
"Halah! Lebay, lu!"
__ADS_1
"Kalian berdua sudah enak. Aku masih begini saja."
"Eh, Ran, kita nggak maksud. Lagian lu kaya sama siapa aja. Kalau butuh bantuan mah tinggal calling kita aja, kali. Siap membantu sesuai apa yang lu perlukan. Ya, nggak, Nad?"
"Yoi."
Lalu kita menghampiri kamar yang katanya masih kosong itu. Seorang perempuan paruh baya yang menghuni kamar sebelahnya, keluar. Dia membawa baju-baju yang sepertinya hendak dijemur.
"Mau ngekos di sini, Neng?" tanyanya seraya menaruh satu per satu baju dalam keranjang yang dibawa, ke atas pager.
"Belum tau, Bu. Ini baru mau lihat-lihat dulu. Tapi ibu kosnya mana, ya?" sahut Sari.
"Oh. Itu ada di kamar ujung, Neng. Yang warna pintunya beda sendiri. Ketuk saja pintunya. Namanya Bu Saidah."
Kepalaku refleks menoleh ke arah jari ibu itu menunjuk. Sebuah kamar menghadap ke sini dan terlihat berbeda dari kamar-kamar di sejajarannya.
"Makasih, Bu." ucapku sambil berlalu bersama Rani dan Sari untuk menghampiri kamar ibu kos.
Tok! Tok!
"Assalamu'alaikum,"
Suara ketukan pintu disertai ucapan salam membuat seseorang yang berada di dalam sana membuka pintunya.
Perempuan bertubuh gemuk dengan tampang khas ibu-ibu kos keluar dengan wajah kebingungan. Sepertinya dia baru saja bangun tidur. Terlihat dari daster acak-acakan yang dipakainya.
"Siapa, Bu?" Seorang laki-laki kurus dengan dada telanjang dan hanya mengenakan sarung yang melilit di pinggangnya membuat kita bertiga refleks membalik badan.
Astaga! Ternyata ibu itu bukan habis bangun tidur. Melainkan habis perang dengan suaminya. Perang memproduksi bayik.
"Sepertinya kita datang diwaktu yang salah." Aku merutuki diri sendiri.
"Padahal ini masih siang." Rani bergumam.
"Kira-kira permainannya nanggung nggak, ya, kita ganggu?"
Pertanyaan Sari bener-bener diluar nalar. Bisa-bisanya dia memikirkan itu. Eh, tapi ada benernya juga, sih. Kali aja pasutri itu marah karena belum sampe puncak malah kita ganggu.
"Tanya-tanyanya lain waktu saja kali, ya? usulku karena merasa tidak enak pada pemilik kos itu.
"Bener. Takutnya mereka mau melanjutkan." Sari menyetujui.
"Yok, balik." Rani pun langsung tancap gas.
"Ran, bentar dulu!" Aku menahan tangan Rani yang sudah siap melangkah.
"Ada apa ya, Neng?" Ibu kos itu bertanya, dan dengan ragu-ragu kita bertiga kembali membalik badan. Beruntung laki-laki tadi sudah tidak ada. Malu kali dia.
"Jadi gini, Buk. Tadinya kita mau tanya-tanya soal kamar kosong, tapi kayanya nanti saja. Besok atau lusa kita bakal ke sini lagi." jelas Sari.
"Oh gitu. Catet saja nomornya. Itu ada di kertas yang terpampang."
"Sip, Buk, makasih. Permisi."
__ADS_1
Bu Saidah kembali masuk dan langsung menutup pintunya. Tak lama setelahnya aku mendengar suara laknat yang seharusnya tidak aku dengar. Secepat itukah?
Aku, Rani, dan Sari saling pandang dengan tatapan melongo. Mereka berdua juga pasti mendengarnya. Kita satu frekuensi.