Jerat Cinta Bocah Tengil

Jerat Cinta Bocah Tengil
Pindah


__ADS_3

Tok! tok!


Suara ketukan pintu kamar mandi membuatku terpaksa membuka mata.


"Nada! Apa kau di dalam?"


Tok! Tok! Lagi, pintu di ketuk.


"Bicaralah!"


"Masuk saja. Pintunya tidak aku kunci." Aku masih berendam dalam buthub untuk merileks-kan tubuh dan pikiranku. Masa bodo jika dia melihatku begini. Toh dia sudah pernah merasakannya.


Jika dulu aku bersikeras mengejar cinta duda tampan itu, maka tidak mulai hari ini. Aku akan membuatnya begitu sangat membenciku. Kalau nggak berubah pikiran.


Ceklek.


Usai pintu terbuka, Om Gibran langsung memalingkan wajahnya setelah sesaat pandangan kami saling beradu.


"Sejak kapan kau berendam?" Dia bertanya dengan memunggungiku.


Aku menautkan alis sambil menebak-nebak. "Satu, atau dua jam yang lalu, maybe." Kumainkan busa-busa lembut yang kubuat dari sabun ke lenganku. Kadang aku meniupnya menjadi gelembung.


"Apa kamu ingin bu-nuh diri?"


"Anggap saja begitu."


Dia berdecak.


"Berhenti bersikap konyol! Kamu tidak akan langsung ma-ti hanya karena berendam terlalu lama." Dia membalikkan badannya menghadapku. Lalu kembali berpaling saat aku memutar keran untuk menyurutkan air dalam buthub. Aku tersenyum kecut melihat itu.


"Lalu kenapa Om menanyakan bu-nuh diri?" Lekas aku bangkit dari buthub tanpa berniat memakai handuk yang terlampir di gantungan. Menantang sekali ulahku ini. Bak wanita penghibur yang sedang mencoba membangkitkan gairah klien-nya. Sama sekali tidak peduli tentang harga diri!


"Aku tidak sebodoh itu!" tekanku seraya menabrakan bahu pada punggung tegap itu. Aw! Kok malah aku yang sakit, sih. Kudengar dia terkekeh. Ish, menyebalkan!


Aku membuka paper bag yang dia berikan waktu pagi. Mulai memakai pakaian yang size-nya terasa pas di badanku. Bahkan ukuran bra dan CD-nya pun tidak kekecilan juga tidak kebesaran. Oh, ya, aku lupa. Dia pasti sudah tahu karena pernah 'menja-mahnya'.


Lagi-lagi aku tersenyum kecut mengingat kejadian tragis itu. Kejadian yang sudah membawaku ke lembah hitam bernama 'kehancuran'.


"Kenapa makanannya masih utuh?" Om Gibran menunjuk dua nampan berisi sarapan dan makan siangku yang diantar oleh asisiten di rumah ini.


"Aku tidak selera makan," jawabku ketus.


"Apa perlu saya suapi?"


"Apaan, sih."


"Makan sekarang atau mengulang kejadian di mobil?"


Glek! Apa-apaan ini. Berani sekali dia mengancamku. Oke, kujabanin dia. Mari kita lihat siapa yang lebih lemah diantara kita.

__ADS_1


Kugerai rambut hitam yang masih basah ini. Berjalan lenggak-lenggok menuju Om Gibran yang sedang duduk santai di sofa dengan menaikan satu kakinya. Kuturunkan kaki yang naik itu. Lalu aku duduk di atas pahanya sembari melingkarkan tangan kiri ke lehernya.


"Om mau kita main berapa ronde?" ucapku menggoda seraya meraba wajah tegas yang dulu membuatku tergila-gila.


Baju yang kupakai belum semua kukancingi. Tiga teratas sengaja kubiarkan terbuka untuk menggoda laki-laki tampan yang dulu merajai hatiku. Biar kutekankan sekali lagi. Dulu! Tidak untuk sekarang.


"Katakan. Om mau aku bertahan berapa lama?" Aku kembali menggodanya dengan memberikan sentuhan-sentuhan nakal di dada bidangnya.


Namun dari semua gerak-gerik yang kulakukan, Om Gibran hanya menatapku datar tanpa ekspresi. Tangannya pun tak membalas pelukanku. Apa dia tidak terang-sang? Sudah kuduga dia pasti menahan hasratnya.


Tidak. Ternyata dugaanku salah. Aku memekik saat tiba-tiba saja Om Gibran membalikkan posisiku menjadi berada di bawahnya.


"24 jam. Apa kau sanggup, bocah tengil?" tanyanya dengan seringai licik di wajahnya.


Jemarinya menyelipkan anak rambut yang menghalangi wajahku, ke belakang telinga. Aku menelan salivan saat dia mendekatkan wajah.


"Saya tanya, apa kau sanggup?" bisiknya tepat di telinga. Bisa kurasakan hembusan nafas lelaki itu di leherku. Membuat diri ini bergidik ngeri dan membayangkan hal yang iya-iya.


Setelah itu, kedua tangannya merayap di dada. Lalu kupejamkan mata dan...


"Hahaha!" Om Gibran terbahak. "Saya hanya ingin memberitahumu bagaimana cara berpakaian sopan sesuai umur. Otak ngeresmu ini perlu di sapu." Dia menyentil keningku kemudian berlalu pergi setelah berhasil membuatku panas dingin.


Ternyata dia hanya merapikan bajuku yang tadi kancingnya sengaja dibiarkan terbuka.


"Arrggh!" Harusnya aku tidak terlena oleh sentuhannya. Memalukan! Senjata makan tuan ini mah namanya.


***


"Kenapa kita harus meninggalkan rumah ini?"


"Karena rumah ini akan saya jual."


"Tapi--"


"Tenang saja. Kamu masih bisa bertemu orang tuamu."


Ish! Dia ini seperti dukun. Tau saja apa yang sedang kupikirkan.


Aku menatap rumah sejuk yang berada di samping kanan rumah Om Gibran. Ada sepasang mata yang mengintip dari balik tirai jendela. Aku tahu itu Ibu. Kenapa beliau tidak keluar saja. Aku merindukannya. Juga ingin memeluknya.


Semua ini gara-gara Om duda. Aku jadi tidak bisa bertemu Bapak dan Ibu setiap hari. Aku harus membuat hidupnya tersiksa karena menikahiku. Iya, Om Gibran bilang dia akan menghalalkanku esok pagi. Yang berarti aku akan resmi menjadi istrinya.


"Nona, ayo masuk." Seorang lelaki--yang kuperkirakan usianya lebih muda dari Om Gibran, membuyarkan lamunanku. Dia mempersilakanku masuk ke mobil Om Gibran. Sepertinya dia rekan kerja.


Aku menengok ke belakang di mana Om Gibran masih berada di dalam.


"Nanti Tuan akan segera menyusul," katanya lagi seolah mengerti keterpakuanku.


Dalam hati aku bertanya. Lelaki ini memanggilku dengan sebutan 'Nona' dan 'Tuan' pada Om Gibran. Tapi, ah sudahlah tidak penting.

__ADS_1


"Baik." Aku duduk tenang di samping kemudi.


Sepanjang perjalanan aku menyibukan diri dengan membaca novel di sebuah aplikasi gratisan. Membaca kisah fiksi yang mampu membuatku berhalu ria menjadi tokoh utamanya.


Namun tiba-tiba suara memalukan timbul memecah keheningan. Aku tersenyum kikuk pada Om... ah aku tidak tahu siapa namanya. Dia tertawa kecil mendengar bunyi perutku.


"Kita berhenti di depan. Di sana ada restoran yang menyajikan menu-menu terbaik," katanya masih diiringi tawa di wajahnya.


Aku mencebik kesal karena tidak suka ditertawakan.


"Tidak usah. Kita berhenti di sini saja."


"Di sini tidak ada makanan yang--"


"Om ini buta apa gimana? Lihat itu!" Jari telunjukku mengarah pada sederet pedagang kaki lima di pinggir jalan.


"Maksud saya---"


"Aku bilang berhenti!"


'Perkataanku mengudara begitu saja'


Lelaki itu berkata lirih, namun masih bisa kudengar. Kini berganti aku yang mentertawakan dia. Haha. Jangan macem-macem makanya.


"Baik, Nona." sahutnya terdengar pasrah.


"Tunggu! Siapa nama Om?"


"Panggil saja saya Vino."


"Oke, Om Vino."


Gegas aku turun untuk membeli martabak manis yang sepertinya sangat lezat bila dimakan selagi hangat.


Ternyata Om Vino ngikutin aku turun dong. Lelaki itu mengekor hingga aku selesai mendapat martabak manis yang kumau. Sebel banget aku diikutin Om-Om. Padahal belinya juga tidak jauh-jauh amat. Turun mobil, jalan beberapa langkah, sampe deh. Tapi kenapa pula harus dibuntuti. Kayak aku bakal kabur saja.


"Om Vino mau martabaknya?" Aku menawari seraya mengulurkan sepotong martabak toping kacang pada Om Vino.


"Tidak, Nona. Terima kasih."


"Kenapa tidak mau. Padahal tadi pas beli selalu ngikutin?"


"Itu karena--"


"Ah, sudahlah. Om Vino fokus saja menyetir."


Lelaki itu terlihat menghela nafasnya panjang. Muka-nya juga ditekuk. Kusut bet kayak baju belum di setrika. Padahal kan tadi sudah kutawari martabak. Aku juga tidak memaksa kalau emang dia tidak mau. Tapi kenapa tuh muka murung begitu.


'Apakah aku ada salah ngomong?' tanyaku pada diri sendiri.

__ADS_1


__ADS_2