
"Nada!!"
Aku yang masih setengah mengantuk tetap bergeming di bawah selimut kala mendengar teriakan menggema dari Om Gibran.
Bagaimana tidak ngantuk. Usai belanja semalam aku baru bisa tidur dijam satu dini hari. Dan ini baru jam lima. Masih terlalu pagi untukku bangun. Hoaam.
"Nada!!"
Kembali suara itu terdangar. Aku masih enggan untuk beranjak. Segera kututupi telinga dengan bantal.
"Nada! Bangun kamu!"
Kudengar kini suaranya lebih dekat. Benar. Saat kuturunkan selimut dari wajah, Om Gibran sudah berdiri gagah di ambang pintu. Lelaki itu sudah siap dengan pakaian kerjanya. Apakah dia akan berangkat sepagi buta ini?
"Aku masih ngantuk, Om."
Melihat langkah lebar Om Gibran menuju ke arahku, lekas kututup kembali mata ini dan berbalik memunggunginya.
"Bangun, atau saya sered kamu." Kebiasaan, nih cogan bisanya ngancem-ngancem mulu. Kagak ada cara lain apa. Bangunin istri itu di gendong, atau nggak di elus-elus dulu biar semangat. Ini malah teriak-teriak. Kagak romantis amat sih jadi laki.
"Bangun!"
Om Gibran menyibak selimutku dan menarikku secara paksa turun ke bawah. Aku dibawa ke dapur dan disodorkan di depan belanjaan yang semalam aku beli. Busyet! Banyak juga, ya.
"Apa itu?" tanya Om Gibran dengan sorot mata tajam.
"Bahan makanan untuk satu bulan, Om." Melihat tampang garangnya, aku jadi tidak yakin jawabanku ini bakal aman.
"Saya tidak suka menimbun makanan. Jadi hari ini juga kamu masak semua itu, dan bagikan ke seluruh pekerja di rumah ini."
Nah, kan? Niat hati ingin bermalas-malasan pun terhalangi. Pagi-pagi teriak-teriak kirain ada apaan, tahunya cuma gara-gara belanjaan seabreg di meja dapur.
Ck! Semalam juga kenapa tuh si Rara nggak bilang kalau Kakaknya ini tidak suka stok menyetok. Mana tuh bocah belum bangun lagi.
Belanja cape cape dapet lelahnya doang. Boro-boro dihargain. Dipuji pun kagak. Laki ngelunjak!
"Iya. Nanti aku masak." sahutku ketus. Biarlah, yang penting dia nggak ngomel-ngomel. Masalah resep aku tinggal lihat sosmed, atau nggak minta bantuan Bik Munah. Yang penting masak aja dulu. Enak kagaknya belakangan.
"Jangan nanti. Tapi sekarang."
"Sekarang aku belum mandi."
"Habis masak baru mandi. Biar sekalian kotornya." ucap Om Gibran penuh penekanan.
__ADS_1
Dalam hati aku mengumpat.
"Jangan lupa salat dulu," imbuhnya pelan sambil berlalu. Meski begitu aku masih bisa mendengarnya dengan jelas.
Hah?! Apa ada yang punya cotton bud? Ini kupingku nggak salah denger kan? Demi apa lelaki dingin dan jutek itu ngingetin aku salat? Wah, agamis juga ternyata.
"Maaf, Non, Bik Mun kesiangan." Suara Bik Munah mengejutkan keterpukauanku.
Aku menoleh.
"Iya, Bik, nggak apa-apa."
"Tadi Tuan nyuruh apa?"
"Masak semua bahan-bahan ini," sahutku sembari menunjuk sayur dan teman-temannya yang masih tergeletak di atas meja.
"Kalo boleh Bibik tahu, ini siapa yang belanja, Non?" Perempuan dengan rambut yang sudah memutih itu tampak terheran-heran.
"Aku." Girang banget aku ngejawab. Kagak ada rasa bersalahnya. Karena memang aku nggak salah. Tuan rumahnya aja yang sensi. Padahal tinggal taro di kulkas aja kan beres.
"Oh. Non Nada pasti belum tahu, yah?" tanya Bik Mun dengan nada lembut seraya tersenyum. Jadi inget Ibu, deh.
"Tahu, kok, Bik. Om Gibran nggak suka nimbun makanan." Aku mengembungkan pipi, lalu menghempaskan pantat di kursi kayu tanpa sandaran.
"Eh, kok, Non Nada masih manggilnya Om. Kan Tuan Gibran sudah jadi suami?" Kerutan di dahi Bik Munah bertambah saat menanyakan itu.
"Belum terbiasa, Bik. Dan lagi aku nyamannya manggil itu. Ya udah yuk, Bik, kita masak." Aku membawa sayuran-sayuran itu ke wastafel untuk dicuci.
"Biar Bibik saja yang masak. Non Nada santai-santai saja."
"Ngga apa-apa, Bik. Tadi Om Gibran juga nyuruh aku yang masak." Lekas kuputar keran. Melihat air aku mengingat... astaga!
"Bik, aku tinggal dulu, yah. Nanti aku balik lagi. Nggak lama, kok."
Aku berlari secepat kilat menaiki tangga. Masuk kamar dan langsung menuju kamar mandi untuk mengambil wudhu. Lalu kulaksanakan dua rakaat yang hampir tertinggal.
Berdosa banget aku. Jarang salat, sekalinya salat di ujung waktu. Warning! Dilarang keras untuk ditiru. Aku nggak mau tambah dosa.
Usai salat dan berdo'a, aku kembali turun ke dapur untuk membantu Bik Munah memasak.
"Udah selesai, Non, salatnya?" Bik Munah bertanya sembari terus memotong sayur lonjong berwarna ungu.
"Kalo aku ada di sini, berarti udah dong, Bik." balasku diiringi canda. Aku membantu membalik ayam yang sedang digoreng. Letupan minyak panas membuatku refleks mengambil tutup panci untuk melindungi muka.
__ADS_1
"Non Nada lucu juga, yah orangnya."
"Gemesin juga nggak, Bik?"
"Gemesin banget. Kayak bayi meong."
"Lho ... kumisan dong," sahutku yang langsung mendapat respon kekehan dari Bik Munah. Candaan receh, namun tetap mengundang tawa bagi yang menghargai.
Berlanjut, aku memasukan sayur kangkung ke dalam wajan berisi air yang sudah di beri bumbu iris.
Hanya dimasak beberapa menit, sayur kangkung pun diangkat. Diganti dengan memasak lobster.
Sibuk memasak hingga tak terasa hari sudah mulai siang. Om Gibran pun tampaknya akan segera berangkat ke kantor.
"Non, samperin, gih!" Bik Munah menyenggol lenganku saat aku tengah fokus memperhatikan pria tampan berjas hitam yang sedang memasang jam di pergelangan tangan kanannya.
Pengen, sih, samperin. Tapi malu. Takut dicuekin, kan bete. Buru-buru kualihkan pandangan saat Om Gibran menoleh ke arah tempatku berdiri.
Berbalik badan, gegas aku mengambil spatula dan langsung pura-pura sibuk. Mengaduk-aduk lobster dalam teplon yang sudah hampir matang.
"Bisa, masaknya?"
Astaga! Hampir saja jantungku copot saat tiba-tiba Om Gibran sudah berada di belakangku. Lelaki itu melongok, lalu menyipit melihat masakan yang sedang aku oseng-oseng.
"Bisa, lah! Masak doang mah kecil." sahutku seraya menjentikkan jari telunjuk tangan kiri. Sementara tangan kanan masih sibuk mengaduk.
"Yakin sudah bener tuh cara masaknya?" tanyanya sembari tersenyum smirk menatapku.
"Yakin, dong."
Om Gibran manggut-manggut dengan bibir melengkung ke bawah. Meremehkan.
"Bik Mun, cara masak zaman sekarang sudah beda, yah. Nagaduk lobster saja pake saringan minyak!" ucap Om Gibran dengan nada sindiran.
Mataku langsung melebar.
Sontak kuangkat benda yang kukira spatula itu dari teplon. Lho? Ini kok kapan berubahnya?
Kedua alisku hampir bertautan melihat saringan minyak yang sudah kugunakan untuk mengoseng semur lobster.
Sementara di pojokan Bik Munah tertawa puas melihatku dibuat malu habis-habisan oleh Om Gibran. Bule nyebelin yang sialnya adalah suamiku.
"Bik Mun, hari ini kita musuhan!" Aku menaruh saringan minyak itu ke wastafel, lalu berjalan lesu naik ke kamar untuk mengurung diri.
__ADS_1
Kayaknya hari ini aku mau hibernasi saja.