
"Hanya demam biasa. Istri Pak Gibran hanya perlu istirahat yang cukup." ucap dokter ber-name tag Ega Ramadhani setelah ia memeriksa keadaanku.
Dokter cantik berperawakan langsing itu segera pergi usai menyelesaikan tugasnya. Aku diberi beberapa obat supaya keadaanku cepat membaik.
Kualihkan pandangan pada dua kakak beradik yang sejak tadi berdiri berdampingan di depanku. Kedua wajah mereka terlihat sama-sama sendu.
"Mas,"
"It's okey. Kamu masih terlalu muda untuk punya anak."
Mendung di wajah Mas Gibran sudah cukup menjelaskan betapa sedihnya ia kala keinginan menjadi seorang ayah belum juga terwujud. Itu yang kubaca dari raut yang lelaki tampan itu tunjukkan.
"Iya, Kak Nada. Kalian harus lebih semangat lagi buat bikin dede bayinya. Tiap malem!"
Mataku terbelalak dengan mulut terbuka, diiringi rasa hangat yang menjalar di wajahku.
"Ra!" Mas Gibran menatap adik yang sudah bicara frontal itu dengan sorot mata tajam.
Hoaaam... Ra, kamu benar-benar pemecah suasana. Kenapa juga tuh mulut kagak ada saringannya. Lemes meluncur begitu saja tuh kata-kata. Aku yang denger kan jadi malu sendiri.
"Apa? Kenapa ekspresi Kak Gibran kayak marah gitu? Aku ada salah?" Seperti orang yang nggak punya dosa dia bertanya demikian.
Rara ngegemesin! Saking gemesnya aku jadi pengen nyentil otak dia biar kembali bener.
Helaan nafas panjang terdengar dari Mas Gibran.
Ya ampun, Rara. Kamu ini polos atau gimana sih. Perasaan pas pertama kali kita ketemu sikapmu nggak gitu amat dah. Kenapa sekarang jadi oneng gini. Kejedug kali dia, ya?
***
Karena Mas Gibran harus berangkat ke kantor, walhasil ia menyuruh Rara untuk menemaniku yang sedang tidak sehat ini untuk berdiam diri di rumah.
Lelaki itu juga berpesan pada adiknya, kalau sampai ada yang aku ingin atau butuhkan, Rara harus siap membantu. Padahal sudah kubilang aku bisa minta bantuan Bik Munah kalau butuh sesuatu. Tapi tetap saja. Rara disuruh stand by me oleh Kakaknya itu.
"Hm, Kak Nada, aku jadi pengen nikah deh. Seru kayaknya kalo ada yang jagain, kasih jajan, anter ke mana-mana. Ya kan, Kakak ipar?" kata Rara sambil membuka buku yang sejak tadi hanya di lihat-lihat cover-nya saja.
Gadis itu berbaring telungkup dengan satu tangan menopang dagu. Mulutnya terlihat manyun pertanda dia sedang suntuk.
"Kamu mau cari suami apa cari bodyguard, Ra?"
"Aku bilang, kan pengen nikah. Berarti pengen punya suami! Gimana sih Kak Nada ini."
__ADS_1
Aku menelan ludah mendengar kata telak dari Rara. Dibilang salah nggak. Bener pun juga tidak. Masalahnya di aku yang nggak bisa merangkai kata-kata secara tepat.
"Iya. Aku do'a-in semoga kamu cepet dapet jodoh ya, Ra," ucapku akhirnya. Pokoknya aku nggak mau pusing ngadepin nih bocah.
"Kak Nada,"
"Apaan, Ra?"
"Gimana rasanya menikah?"
Jujur, untuk pertanyaan itu aku juga tidak bisa menjawabnya. Karena sampai saat ini pun aku masih belum mengerti apa itu menikah. Aku memang menyukai Mas Gibran, akan tetapi rumah tangga yang kita bangun tetap bukan atas dasar suka sama suka.
Terlepas dari sebuah kecelakaan itu, aku tak berharap lebih pada pernikahan ini. Aku berpikir bahwa Mas Gibran hanya ingin bertanggungjawab atas apa yang telah dilakukannya padaku waktu itu.
Satu pertanyaan besar dalam diriku yang sampai detik ini pun belum aku mengerti ialah, kenapa aku tak bisa membenci orang yang jelas telah menodaiku? Apalagi kejadian itu sampai membuat kedua orang tuaku murka hingga berakhir dengan pengusiran.
Sebegitu besar kah rasa cintaku pada lelaki berdarah Amerika tersebut? Kenapa aku terlalu bodoh soal percintaan?
Meski Ibu sama Bapak sudah menerima, rasa bersalah itu masih tetap ada di hati ini, dan terus menggerogoti entah sampai kapan. Aku hanya berusaha menyembunyikan semuanya dan ingin selalu terlihat baik-baik saja dengan selalu memasang wajah ceria. Walau pada kenyataannya semua itu sangat menyiksa.
"Kak Nada! Kenapa malah diam?"
"Aku bosan kalau seharian cuma di rumah, dan nggak ngelakuin apa-apa." Sengaja aku mengalihkan pembicaraan demi menghindari tanya lain yang terlontar dari mulut Rara.
"Gimana kalau kita jalan-jalan?" usulku kemudian.
Rara bangkit dan langsung melototiku.
"Nggak bisa! Aku nggak mau kena semprot Kak Gibran." Dia melipat kedua tangan di dada dengan wajah cemberut yang digeleng-gelengkan.
"Yah ... Ra. Deket sini sini aja." Tak mau kalah, aku mengeluarkan jurus andalanku. Berpura-pura sedih dengan tatapan puppy eyes.
Dia menghela nafas pasrah.
"Janji nggak jauh-jauh, dan jangan lama-lama!" Dia mengacungkan jari kelingking yang langsung kubalas dengan menautkan jari kelingking juga.
"Janji."
"Aku tunggu di bawah."
Setelah Rara keluar, aku mengambil cardigan rajut berwarna coksu untuk membalut t-shirt lengan pendek yang kupakai. Sedangkan bawahan, aku memilih celana legging warna hitam berbahan rayon yang tidak terlalu ketat. Rambut kubiarkan terurai usai sedikit disisir untuk merapihkan.
__ADS_1
Kemudian, aku keluar menghampiri Rara yang sudah menunggu di sofa tamu. Dia segera bangkit kala melihatku menuruni tangga.
Ting! Nong!
Aku dan Rara saling pandang mendengar bel rumah berbunyi.
"Siapa, Ra?"
"Nggak tahu, kan belum dilihat."
Dari arah dapur, terlihat Bik Mun berjalan dengan sedikit berlari menuju pintu depan.
"Biar Bik Mun yang buka, Non," kata Bik Mun, sebelum akhirnya membuka pintu berwarna putih itu.
Seorang wanita paruh baya berjalan masuk--bagaikan model yang sedang fashion show, dengan menenteng tas kecil warna hitam berlogo cha*el.
Dilihat dari penampilan dan gayanya, membuktikan bahwa betapa modis wanita paruh baya tersebut.
Sebagai pemilik kulit sensitif yang rentan akan jerawat, aku jadi merasa iri saat melihat wajah wanita paruh baya yang terlihat bersih tanpa parut, kerutan atau pun jerawat. Padahal mungkin usianya sudah memasuki kepala lima.
"Mam ...!" Rara berteriak, lalu berhampur memeluk wanita paruh baya yang kemungkinan besar adalah mertuaku.
Adegan cipika cipiki mereka lakukan. Lalu wanita paruh baya itu berjalan ke arahku, dan berhenti tepat di hadapanku.
"Apakah ini menantu baruku?" tanyanya seraya menurunkan kacamata hitam yang bertengger di hidung bangirnya.
Dari jarak dekat aku bisa melihat sorot tajam itu. Sorot mata yang sama persis dengan yang dimiliki Mas Gibran.
"Yes, Mam. Cantik, kan?"
Dia mencebik seperti tidak suka, lalu melenggang pergi dan menghempaskan diri di atas sofa. Mungkinkah dia tidak menerimaku? Harus bagaimana aku menyikapinya?
"Kak Nada, jadi tidak pergi jalan-jalannya?"
"Tidak usah, Ra. Kita di rumah saja. Lagian kan ada Mama Mas Gibran datang. Nggak sopan kalau kita tinggal pergi."
"Oke."
Kemudian Rara menuntunku duduk di sofa bersebelahan dengan wanita paruh baya itu.
"Kita ngobrol-ngobrol. Mama asyik kok orangnya." bisiknya, lalu ia berpindah duduk di samping kiri wanita yang Bik Mun sebut dengan Nyonya Veronika.
__ADS_1
Dari cerita yang kudengar, Nyonya Veronika ini sangat tidak menyukai sesuatu yang beraroma busuk, seperti bau keringat. Aku yang jarang memakai deodorant harus lebih berhati-hati saat berdekatan dengannya, meski menurutku aku tidak mudah berkeringat dan bukan termasuk golongan orang yang bau badan.
Mulai saat ini aku memutuskan akan menyetok segudang minyak wangi agar selalu berbau harum setiap dan sepanjang hari.