Jerat Cinta Bocah Tengil

Jerat Cinta Bocah Tengil
Ternyata


__ADS_3

Perlahan aku membuka mata. Samar-samar aku melihat ruangan bernuansa serba putih. Lalu mengerjap beberapa kali hingga semua terlihat jelas. Di samping, kurasakan ada yang menggenggam tanganku.


"Ibu?!" ucapku terkejut kala mendapati Ibu terisak sembari menggenggam erat tanganku. Di belakang Ibu duduk, ada Bapak berdiri dengan raut wajah nampak suram.


Ada apa sebenarnya? Apa yang terjadi denganku?


"Mas, aku kenapa?" tanyaku pada lelaki tampan yang berdiri gagah di samping kiriku dengan kedua tangan masuk ke dalam saku celana.


"Kamu baik-baik saja." sahutnya sembari mengelus kepalaku.


"Rani sama Sari mana?"


"Mereka sudah pulang."


Wajar saja dua temanku itu sudah pulang. Karena jam di dinding sudah menunjuk angka sepuluh malam. Ternyata aku pingsan lumayan lama.


Beralih pada Ibu, aku menatap lekat-lekat kedua wajah orang tua yang beberapa hari belakangan ini pergi tanpa kabar. Ada rasa kesal, namun rasa rindu lebih besar.


"Ibu sama Bapak kemana aja selama ini?" tanyaku lirih.


Tangis Ibu semakin pecah dan membuatku bingung akan kondisiku saat ini. Kulihat Bapak juga menitikan air mata.


"Nada ... maafin Ibu sama Bapak. Gara-gara kita, kamu--" Ibu tidak melanjutkan ucapannya. Perempuan paruh baya itu malah sesenggukan dan menangis semakin keras. Membuatku menduga bahwa hal buruk telah terjadi.


"Bu, jangan keras-keras nangisnya. Takut ganggu pasien lain." Bapak menenangkan dengan mengelus kedua pundak Ibu.


"Gimana perutnya? Masih sakit nggak?" Mas Gibran bertanya seraya membantuku duduk bersandar di dashboard brankar.


"Masih, tapi nggak separah tadi."


"Sekarang kamu makan dulu. Tadi aku baru beli roti bakar sama nasi hangat."


"Mau roti bakar aja."


"Hm. biar aku suapin." Mas Gibran mengarahkan potongan kecil roti berselai coklat ke mulutku, namun aku menolaknya.


"Nanti dulu, Mas. Ibu masih nangis. Bapak juga. Sebenarnya aku ini kenapa? Aku baik-baik saja kan, Mas?"


"Biarkan Ibumu yang menjelaskan." Mata elang Mas Gibran terlihat menajam ke arah dua orang yang sedang menangis.


"Bu, ayo ngomong." Aku memohon dengan kesal.


Ibu kembali meraih tanganku, lalu menggenggamnya.


"Lepasin tangan Nada kalau kalian nggak ada yang mau bicara." Aku mengalihkan pandangan dari kedua orang tuaku.


"Ibu akan jelasin, tapi kamu harus janji jangan benci kami."


Aku mengernyit. Segitu besarkah dosa yang mereka buat hingga takut aku akan membencinya.


"Tergantung." jawabku singkat.

__ADS_1


"Ibu sama Bapak pergi karena ajakan Nyonya Veronika, mertuamu. Dia mengiming-imingi rumah, mobil, serta jalan-jalan gratis pada kami dengan satu syarat. Kami harus pergi jauh dari kota ini dan membiarkanmu hidup sendiri karena dia tau bahwa kamu bukan anak kandung Ibu."


Deg!


Air mataku lolos begitu saja. Aku menelisik ke dalam iris mata Ibu.


"Katakan bahwa Ibu sedang berbohong."


"Tidak, Nak. Ibu bicara jujur. Ibu bilang pada dia bahwa anak Ibu tidak akan sendiri karena ada suami yang akan selalu bersamanya. Tapi Nyonya Veronika mengatakan bahwa secepat mungkin dia akan memisahkan kamu dengan suamimu."


Tak tahan, aku menepis kasar tangan Ibu.


"Apa Bapak juga bukan orang tua kandungku?" tanyaku seraya menatap lelaki paruh baya yang setia menunduk sambil sesekali mengusap sudut mata.


"Dia Bapak kandungmu. Bapak memilikimu saat masih bersama istri pertamanya.


"Jadi?"


"Ya, Ibu adalah istri kedua. Tapi bukan berarti Ibu wanita simpanan. Kita menikah tak lama setelah Ibumu meninggal saat melahirkanmu."


Ari mataku semakin deras. Baru saja satu masalah selesai, kini muncul lagi masalah yang lain. Sebuah fakta yang berhasil membuatku kehilangan semangat hidup dan nyaris bunuh diri.


Bibirku bergetar menahan isak tangis dan sesaknya dada saat mendengar semua penuturan Ibu. Kenapa baru sekarang dia mengatakan kebenaran itu?


"Dan tentang sakit di perutmu, itu karena kamu pendarahan."


Apa lagi ini?


"Iya. Kamu hamil, dan sudah memasuki bulan ke dua. Nyonya Veronika yang bilang."


"Jelaskan semuanya!"


"Baik. Nyonya Veronika bercerita, pada saat suamimu memanggil dokter keluarga untuk memeriksa keadaanmu, saat itu kamu positif hamil. Tapi dengan licik mertuamu meminta dokter wanita itu untuk tidak memberitahu hasil yang sebenarnya."


"Mas," panggilku dengan suara bergetar.


"Iya?"


"Apa sekarang bayi itu masih ada di dalam sini." Aku menunduk, mengelus perut sambil berurai air mata. Berharap mahluk kecil itu masih hidup dalam rahimku.


Lalu jawaban Mas Gibran membuat sudut bibirku melengkung. Lelaki itu tersenyum sembari mengangguk pasti.


"Dia masih bersamamu."


"Mas, tolong katakan pada mereka untuk keluar dari ruanganku." Mas Gibran yang mengerti ucapaanku, mengalihkan tatapannya pada dua orang yang kumaksud.


Kudengar tangis Ibu semakin kencang. Dia bahkan memintaku agar kembali ke rumahnya. Sayangnya, harapku yang ingin pulang ke rumah penuh kenangan itu telah pupus.


*****


Tiga hari berlalu, dan kini aku kembali ke Jakarta. Tidak ada Mama, juga tidak ada Rara.

__ADS_1


Rumah mewah ini nampak sepi dan hanya dihuni oleh para pelayan sebelum tuan rumah kembali.


Mas Gibran bilang, Ibu dan adiknya pergi ke luar negeri tepatnya di London. Mereka akan menetap di sana entah sampai kapan.


Jam menunjuk pukul tujuh malam saat aku baru selesai membersihkan diri. Aku menyender pada Mas Gibran yang sedang memangku laptop di atas kasur.


"Mas,"


Lelaki berkaos hitam polos itu menoleh.


"Hm. Kenapa?"


"Apa sebenernya kamu juga sudah tahu kalau aku sedang hamil?"


"Iya. Karena itu aku tidak pernah panik saat kamu terus-terusan merasa mual."


"Kenapa kamu nggak ngasih tau aku?"


"Harusnya kamu bisa merasakan perubahan fisik dan tamu bulananmu."


"Aku terlalu menikmati hidup. Jadi aku tidak merasa sedang hamil."


"Yang penting sekarang kamu sudah tau. Jaga dia, dan jangan sampai pendarahan lagi."


Mas Gibran merapihkah kerjaannya dan menaruh laptop di atas nakas begitu saja. Lalu merebahkan diri dan membawaku ke dalam pelukan.


"Pasti. Tapi sejak kapan kamu tau?" Aku melingkarkan tangan kiri ke pinggang Mas Gibran.


"Sejak orang tuamu menghilang tanpa kabar."


Dahiku mengernyit seraya menatap Mas Gibran penuh tanya.


"Waktu aku berangkat ke kantor saat awal menginap di apartemen, aku melihat Mama sedang bersama sepasang suami istri di sebuah kafe. Ternyata mereka itu orang tua kamu. Lalu aku meminta Vino agar menyelidiki semua itu."


"Tunggu, bukankah mereka belum saling kenal. Lalu bagaimana bisa bertemu?"


Satu sudut bibir Mas Gibran terangkat, membentuk senyuman miring.


"Kamu belum tau siapa Mama. Wanita itu bisa melakukan apa saja demi mencapai tujuannya."


"Tujuan memisahkan kita berdua?"


"Benar. Dia ingin aku menikah dengan anak dari temannya yang kaya raya."


Padahal Mas Gibran sudah sekaya ini. Tapi masih saja dituntut untuk mencari harta yang lebih. Aku juga baru tau bahwa ternyata Om Vino itu bawahan Mas Gibran. Persahabatan mereka terjalin sejak Om Vino bekerja di kantor Mas Gibran.


Aku sungguh tidak habis pikri sama Mama. Dia itu pikirannya di luar nurul. Tapi biarkan saja lah. Kudo'akan semoga harinya senin semua.



๐ŸŒน๐ŸŒนโ™ฅ๏ธ๐ŸŒน๐ŸŒน

__ADS_1


__ADS_2