Jerat Cinta Bocah Tengil

Jerat Cinta Bocah Tengil
Maaf


__ADS_3

.


.


🌹🌹🤍🌹🌹


Sorenya aku langsung berangkat ke kota Tangerang bersama Mas Gibran, Om Vino, juga dua curut Sari dengan Rani.


Tadinya Rani sama Sari tidak akan ikut. Namun karena kita juga berencana akan ke rumah Siti, jadi menurutku sekalian saja.


Di dalam mobil kita bertiga terbahak bercerita tentang ke asurd-an hubungan suami istri gara-gara kejadian siang tadi.


Sari sampai mengeluarkan air mata karena terlalu banyak tertawa. Bocah itu sudah bener-bener nggak bisa tertolong, alias kebelet kawin.


Saking berisiknya, Mas Gibran sampai memasang headset di telinganya. Sedangkan Om Vino, entah lah aku tidak tahu. Menurutku laki-laki itu mirip seperti Mas Gibran saat pertama kali aku mengenalnya. Dingin, dan penuh misteri. Aku jadi kepo sama masa lalunya. Kelam kayak Mas Gibran juga nggak, ya?


Setelah menempuh perjalanan yang lumayan melelahkan, kini kita telah tiba di rumah ibu.


Kali ini Om Vino parkir di halaman depan rumah ibu yang luas sebab pohon dan tanaman sudah tidak ada. Mungkin bapak sudah menebangnya.


"Maling! Maling!" teriakku tepat di telinga Sari yang sedang tertidur karena cape bercanda.


"Mana maling? Woy! Gue hajar lu, ya!"


Berhasil, Sari langsung membuka mata dan ikut berteriak sembari rusuh mencari seseorang yang disangka maling. Dia lalu menarik kasar jas Om Vino yang hendak turun dari mobil dan hampir saja melayangkan tinju ke wajah tampan itu kalau saja Sari tak segera sadar.


"Bhahahaha! Kamu malingnya, Ri. Maling hati Om Vino maksudnya!" ucapku seraya melirik Om Vino yang masih bertatapan dengan Sari.


"Hehe, maaf, Om." Sari membenarkan jas Om Vino yang sudah kusut karena ulahnya. "Nggak sengaja." Dia lalu menatap tajam ke arahku. Dan kubalas dengan mengedikan bahu.


"Kurang ajar! Lu, Nad."


"Lagian lu, dah sampe masih aja ngebo."


Sementara Mas Gibran dan Om Vino sudah keluar, kita bertiga masih berada di dalam mobil dan saling melempar candaan. Di dekat jendela Rani masih tertawa entah menertawakan apa.


"Napa lu masih ngakak?!" sentak Sari pada Rani.


"Itu, Om Vino. Mukanya lucu pas kamu tarik jas-nya."


Padahal tadi Om Vino diam saja dengan raut datar.


Mungkin sebenarnya Rani sedang mentertawakan Sari. Karena takut disentak lagi, jadi dia menggunakan nama Om Vino buat jadi alasan.


Saat masuk ke rumah, aku dikejutkan dengan keberadaan seseorang. Ada Mama Mas Gibran di sana. Beliau duduk di samping ibu yang matanya terlihat sembab. Eh tidak, bukan ibu saja. Mama juga sepertinya habis nangis.


Karena merasa tidak enak, Sari dan Rani memilih tidak masuk, dan jalan-jalan di kebun belakang rumah.


Aku duduk di tengah-tengah antara Om Vino dan Mas Gibran. Mas Gibran menyuruhku pindah, tapi aku tidak mau.

__ADS_1


"Nada ...." ibu berhambur memelukku sambil menangis sejadi-jadinya.


Om Vino dan Mas Gibran lantas menyingkir memberi ruang agar ibu ikut duduk di sebelahku.


Bukannya menggeser duduk, Om Vino malah keluar setelah tadi pamit pada Mas Gibran. Mungkin lelaki itu merasa berada di situasi yang tidak tepat.


Aku mengusap-usap punggung ibu yang mendekapku erat.


"Nada, maafin ibu."


"Nggak, Bu. Nada yang seharusnya minta maaf sama kalian."


Di sana Bapak duduk di bangku tunggal sembari mengusap mata. Lelaki yang biasa tegar itu kini menunjukan titik lemahnya.


"Maafin Bapak, Nak." Suaranya terdengar tercekat.


"Nada, Mama juga mau minta maaf sama kamu."


Mama ikut memelukku sambil terisak. Sudah insyaf kah, dia?


Aku menatap sekeliling dengan perasaan haru. Hendak menangis, tapi tertahan karena melihat mata Mama yang menghitam karena maskaranya luntur. Matanya dilingkari warna hitam persis seperti hantu.


Aku tahu ini tidak tepat, tapi sungguh aku tak bisa menahan tawaku melihat Mama yang seperti hantu itu. Alhasil aku menangis dengan selingan tawa di bibir.


Tanganku melebar, membalas pelukan dua wanita paruh baya ini dengan berbagai macam perasaan.


Tak tahan dengan situasi ini, aku mengurai pelukan keduanya.


Ibu tersenyum, lalu mengusap sisa air mata di pipiku.


"Apa Mama juga dimaafin?"


Lihat Mama perasaanku jadi ambyar lagi. Bingung mau ngakak apa sedih. Kenapa pula make up beliau makin acak-acakan gitu. Bedak longsor ke mana-mana, ditambah lipstik yang hilang separo.


Dengan sedikit kekehan aku mengangguk, dan membalasnya dengan pertanyaan juga. "Apa Mama juga sudah menerimaku sebagai istri Mas Gibran?" tanyaku berusaha menahan tawa karena melihat wajahnya.


Mama mengangguk dan kembali memelukku.


Selesai dengan dua ibu-ibu ini, aku beranjak ke arah Bapak. Lalu memeluk lelaki itu dengan perasaan bersalah.


"Sudah, sudah. Jangan pada sedih lagi." Bapak menepuk-nepuk punggungku dengan halus. "Gimana kalau sekarang kita makan-makan?" usulnya kemudian.


Semua setuju, aku pun begitu. Lalu aku melangkah keluar hendak memanggil Om Vino, Rani, dan Sari untuk makan bersama. Kita akan makan besar untuk merayakan semua ini.


Di samping pohon tomat langkahku terhenti sembari membekap mulut yang melebar melihat adegan di depan mata.


Tangan Om Vino melingkar di pinggang Sari dengan tatapan saling mengunci. Sari sepertinya mau jatuh, hingga Om Vino menahan pinggangnya.


Di sebelahnya, Rani berdiri tegak seperti patung hidup melihat kemesraan itu.

__ADS_1


Om Vino yang menyadari kehadiranku langsung melepas tanganya dan membuat Sari terpekik karena terjatuh.


"Ganggu, ya?"


"Apaan sih lu, Nad?!"


Aku hanya cengengesan. "Disuruh masuk semua. Mau makan-makan katanya."


*****


"Gila! Apa kabar, lu? Sombong banget!" Aku meninju pelan lengan Siti saat pintu baru saja terbuka.


Siti tertawa dan menyambut kita bertiga dengan tak kalah antusias.


"Mana nyokap, lu?" tanya Sari seraya duduk di bangku tamu. Diikuti aku dan Rani di belakang.


"Biasa. Lagi anter kue. Tadinya mau gue yang anterin, tapi beliau nolak karena tau gue lagi sering muntah-muntah belakangan ini."


"Sudah berapa bulan?"


"Jalan enam. Eh, bentar! Gue ambilin minuman dulu. Masa ada tamu istinewa nggak disuguhin apa-apa?" candanya sambil melangkah ke dapur.


"Ah lebay, lu!"


"Btw, Rani kok diam aja, ya, kenapa?" kata Siti sembari menaruh nampan berisi empat minuman kaleng ke atas meja.


Lalu aku dan Sari menyemburkan tawa mengingat makan besar tadi.


"Ini gara-gara Mama mertuanya Nada." sahutnya cemberut. Rani masih mengusap perutnya yang membuncit karena kebanyakan makan.


Gimana tidak buncit, Mama dengan sigap menambahkan nasi ke piring Rani setiap melihat nasi di piring dia tersisa sedikit.


"Mertua lu ada di sini juga?"


"Iya. Dia lagi silaturahmi sama besan."


"Iya, iya yang sekarang ngobrolnya mertua-mertuaan." Sari mencibir.


"Sabar, Ri. Bentar lagi juga kamu bakalan nyusul. Sama Om Vino." Rani dengan sarkasnya menyindir Sari.


"Om Vino siapa?"


"Ngobrolnya lanjut nanti aja. Sekarang kita cheers!" Aku mengambil satu botol kaleng itu lalu mengangkatnya tinggi-tinggi.


Kita berempat bersulang menikmati kebersamaan yang sempat tertunda.


.


.

__ADS_1


Happy reading🦚


__ADS_2