Jerat Cinta Bocah Tengil

Jerat Cinta Bocah Tengil
Jebakan


__ADS_3

[Datanglah ke hotel A. Suamimu menunggu di sana. Tepatnya di kamar no.242]


Sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal.


Aku mengetuk jari ke dagu. Seraya berpikir, siapa kiranya orang yang mengirim pesan itu. Kenapa juga dia bersama Mas Gibran.


Tak mau gegabah, aku mencoba menghubungi nomor Mas Gibran. Menanyakan apakah memang benar dia sedang berada di hotel A.


Namun beberapa kali aku menelpon Mas Gibran, tidak ada satu pun panggilan yang terjawab. Kukirim pesan watsap juga hanya ceklis satu. Mendadak perasaanku tidak enak.


Selang beberapa kemudian, pesan kembali masuk dari nomor tak dikenal tadi. Kali ini dia mengirim sebuah alamat di mana hotel A berada. Kubuka alamat tersebut. Jarak dari rumah menuju ke sana lumayan jauh, sekitar hampir satu jam.


Tidak ada cara lain selain harus mendatangi hotel A itu. Aku takut terjadi apa-apa sama Mas Gibran.


Aku bersiap mengganti baju kaos dilapisi hoodie kebesaran berwarna gelap dengan celana joger berwarna senada. Tak membawa tas atau pun apa. Aku hanya pergi dengan membawa ponsel.


"Non Nada? Mau ke mana malam-malam gini, Non?" tanya Bik Munah saat aku menuruni tangga.


"Mau ke tempat Mas Gibran, Bik."


"Lho, bukannya Tuan Gibran katanya lembur, Non?"


"Iya, aku mau nyusulin ke sana."


"Ke kantor?"


"Bukan. Tapi ke hotel."


"Hotel?!" tanya Bik Munah dengan kedua alis hampir bertautan


"Iya. Ada yang ngasih tau Nada, katanya Mas Gibran ada di sana."


Perempuan senja itu lalu melirik jam yang tergantung di dinding.


"Tapi ini sudah jam 12 malam, Non. Bik Mun takut Non Nada kenapa-kenapa." ucapnya khawatir.


"Tenang saja, Bik. Nada bakal minta Mang Haris buat anterin. Btw, Bibik kenapa belum tidur?"


"Bibik tadi habis beresin gudang."


Aku manggut-manggut.


"Ya, sudah, Bik. Nada pergi dulu, ya."


"Ayo Bibik anter ke depan. Si Haris juga kayaknya lagi molor."


Bik Mun lalu menuntunku sampai aku benar-benar pergi bersama Mang Haris.


Mang Haris adalah sopir yang ditugaskan oleh Mas Gibran untuk mengantarku ke mana pun aku ingin pergi. Dia juga kadang mengantar Bik Mun ke pasar setiap pagi untuk belanja bahan makanan.


****

__ADS_1


"Mang, masih jauh nggak, ya?" tanyaku pada lelaki berusia hampir kepala tiga yang sedang fokus menyetir.


"Lumayan, Non. Kalau Non Nada ngantuk tidur dulu saja. Nanti Mamang bangunin pas sudah sampai." ucapnya sembari melirikku dari spion.


Pengen sih tidur, tapi takut diperkaos. Walaupun Mang Haris orang yang sudah dipercaya Mas Gibran, tetap saja dia laki-laki yang punya hasrat tinggi. Jadi terpaksa aku harus menahan kantuk demi menjaga-jaga. Bukan mencegah lebih baik?


"Nggak, Mang Haris. Cuma nggak sabar aja pengen ketemu Mas Gibran, hehehe." sahutku diselingi canda.


"Non Nada ini selain cantik lucu juga, ya. Tuan Gibran bisa aja dapetnya."


"Sudah jodoh itu namanya, Mang. Aku dapet om om."


"Om om juga ganteng kan, Non? Tajir lagi." canda Mang Haris sambil terkekeh.


Aku tergelak.


"Mang Haris bisa saja."


Cukup lama basi-basi dengan Mang Haris, hingga akhirnya aku sampai juga di hotel yang dimaksud. Aku menyuruh Mang Haris langsung pulang dengan alasan aku akan ikut bersama Mas Gibran.


Suasana hotel sudah lumayan sepi karena memang sudah jam tengah malam. Aku berjalan menyusuri sambil mencari nomor kamar dimana Mas Gibran berada.


Mataku berbinar kala melihat nomor 242 terpampang di depanku. Di depan pintu aku mematung, harus kah ketuk pintu dulu, atau aku langsung masuk saja.


Selang beberapa menit, aku menekan handle tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Aku masuk dengan langkah pelan nyaris tak menimbulkan suara.


Di sebuah bangku, seorang pria berjas hitam duduk membelakngi. Rambutnya terlihat nampak segar. Akan tetapi, pria itu seperti bukan Mas Gibran.


Deg!


Langkahku terhenti, aku yakin itu bukan suamiku. Ingin putar balik, namun mendadak kakiku terasa lemas, pun sulit untuk digerakan.


Pria itu bangkit dan memutar tubuhnya menghadapku. Lalu terlihat lah wajah itu.


"Lets play, Baby." ucap pria beralis coklat itu dengan seringai nakal di wajahnya.


Aku menggigit bibir bawah. Hal yang selalu kulakukan saat aku merasa ketakutan.


Kupaksa kaki ini bergerak hendak keluar. Namun sayang, seorang lelaki entah dari mana datangnya tiba-tiba saja menutup pintu kamar hotel ini dan menguncinya dari luar.


Brak! Brak! Brak!


"Tolong! Buka pintunya!" teriakku sembari terus menggebrak pintu dengan keras.


"Siapa pun di sana, tolong aku!"


Kudengar tawa menggelegar dari pria yang sekarang mungkin sedang berjalan ke arahku. Aku berbalik. Melihatnya sedeket ini membuatku refleks menyilangkan tangan di kedua bahu.


Pria itu mengunciku dengan kedua tangan yang terulur ke body pintu.


"Siapa kamu? Kenapa kamu menjebakku?"

__ADS_1


"Aku sahabat dekat suamimu. Ingin merasakan bagaimana permainan seorang gadis kecil di atas ranjang."


Seringai di wajahnya semakin membuatku takut dan bingung harus berbuat apa. Aku telah masuk ke perangkap buaya.


"Tolong jangan sakiti aku ...." pintaku lirih.


"Tidak. Aku tidak akan menyakitimu, Nona. Aku hanya memintamu untuk memuaskanku di atas ranjang. Hanya itu. Setelahnya kau boleh keluar dari kamar ini."


Mendengarnya berkata begitu, hatiku geram. Aku bukan perempuan ****** yang dengan mudah mereka tiduri.


Lalu dengan sejuta keberanian aku menendang aset berharganya.


Bugh!


"Akkhhh!" Dia meringis sembari memegangi selangk*ngan.


Melihatnya melemah, aku melirik kesana kemari mencari apa saja yang bisa kugunakan untuk memukul.


Di meja sana kulihat ada pas bunga lumayan besar. Segera kuambil, lalu...


"Aakkhhh ...!"


Pria itu lebih dulu menangkapku dan mengunci tanganku ke belakang punggung.


Brakk!


Pria itu membanting pas bunga dengan penuh emosi.


"Berani kau bertindak macam-macam, aku tidak akan segan membuatmu babak belur di ranjangku!" bisiknya penuh penekanan.


Bisa kurasan hembusan nafasnya yang memburu di leherku. Bisa kah aku selamat dari terkaman maut serigala buas ini?


"Apa yang harus kulakukan agar kau melepaskanku?"


"Pertanyaan bagus! Biar kutunjukan padamu."


Dengan tanpa perasaan, pria itu menghempaskanku di atas kasur. Dia melepas jas yang dikenakannya, lalu membuangnya secara asal.


"Tolong!"


"Diamlah! Atau kubungkam mulutmu dengan mulutku!"


Kemudian tangan besar itu melepas paksa hoodie yang kukenakan. Menyisakan kaos polos berwarna putih berlengan pendek. Aku memegang perutku saat pria itu menjatuhkan bobot di atas tubuhku.


Kenapa kehidupan para pria tak jauh dari selangkan9an?


"Aaa! Lepaskan aku!" Aku terus menghindar saat dia berusaha mencium bibirku.


"Mas Gibran, tolong aku!"


Tak berapa lama kemudian kudengar pintu terbuka seperti didobrak.

__ADS_1


__ADS_2