
Akhirnya Sari men-traktir kita di penjualan baju obral harga tiga lima. Aku memilih kemeja biru muda dengan motif love kecil. Sedangkan Rani dan Siti memilih celana levis dengan warna yang berbeda.
"Tengkyu, yah. Semoga rezeki lu tambah lancar." ucapku seraya memperlihatkan kresek berisi kemeja yang kubeli.
"Makasih banget pokonya. Udah ditrakrir makan, baju juga dibayarin. Cepet dapet jodoh deh, lu." Siti menimpali.
"Makasih banyak, Sari. Aku do'a apa yah." Rani tampak berfikir. "Oh ini aja. Semoga Papamu nikah lagi." lanjutnya kemudian. Membuat Sari terkekeh geli.
Ibunya Sari emang sudah lama meninggal sejak dia berusia tujuh tahun.
"Iya, sama-sama. Do'a yang sama buat kalian," kata Sari. Lha, Rani? Punya dua Bapak lu nanti. Wk.
Sekarang waktunya pulang. Sari lebih dulu mengantarku pulang karena dirasa rumahku lah yang paling jauh.
"Stop! Sampai sini aja," seruku saat kita sudah sampai di pertigaan jalan rumahku.
"Lha, kok gitu?" Sari bertanya heran.
"Iya, nggak papa. Udah deket ini." Aku beranjak turun dari mobil sambil menenteng kresek hitam.
"Ya sudah. Salam buat Bu Dewi."
"Oke," sahutku seraya menautkan jari telunjuk dengan jempol.
"Gue juga. Salamin buat nyokap lu." Siti menimpali.
"Aku pun." Rani juga.
"Iya iya. Nanti gue salamin semuanya," balasku lalu melangkah pergi. Lupa mengucap terima kasih sudah diantar pulang. Ya udah, dalam hati aja lah yah. Sambil do'a juga. Semoga mereka selamat sampai tujuan.
"Dudurududud ...." aku berjalan sembari bernyanyi kecil. Kuayunkan langkah dengan manja.
Beberapa meter lagi aku akan sampai. Pagar rumahku sudah terlihat di depan sana.
Melewati rumah Om Gibran dan sampai, deh. Harusnya sih gitu. Tapi melihat Om tampan berada di teras, mendadak kakiku sulit digerakan. Seluruh tubuhku seolah membeku. Hanya mata yang berkedip. Alhasil aku berdiri seperti patung di depan rumahnya.
Aku menoleh ke kanan, melihat dia yang sedang sibuk dengan buku. Mungkin dia ngeh kalo lagi diperhatiin. Hingga menit berikutnya Om Gibran melihat ke arahku. Aku tersenyum. Namun tiba-tiba, dia menaruh buku itu di atas meja. Lalu beranjak masuk. Membuat senyum di wajahku surut seketika.
__ADS_1
Astaga! Dia kembali dingin setelah melihatku jalan-jalan.
Kutepuk dahi sebelum melanjutkan langkah.
Tersadar, bahwa aku telah melupakan sesuatu. Aku lupa pada niatku juga pesan Bapak untuk jangan lagi mendekati Om tampan tersebut.
Sampai di depan rumah, kubuka pagar besi yang tak terkunci. Sepertinya Bapak belum pulang. Ibu juga ke mana, yah. Rumah terlihat sepi seperti tak berpenghuni.
Aku mengucap salam sembari berjalan masuk ke dalam. Menjelajahi ruangan. Dari ruang tamu, ruang tv, dapur, kamar mandi hingga belakang rumah, tapi tak juga kutemukan Ibu.
Tiba-tiba telinga ini mendengar benda jatuh dari arah sana. Tepatnya kamarku. Nggak mungkin kucingku kan? Karena kulihat hewan peliharaanku itu sedang tertidur pulas di atas sofa.
Kutaruh kantong kresek bawaanku di atas meja. Lalu aku meraih sapu yang menggantung di dinding depan. Berjaga-jaga kalau saja ada penyusup di rumah ini.
Berjalan mengendap, pelan kutekan hendle pintu kamarku. Dorong perlahan, dan ... betapa terkejutnya aku melihat sosok penampakan putih berdiri di depanku dengan membelakangi.
Aku bergetar, tapi sejurus kemudian aku tak bisa menahan ketakutanku. Refleks, sapu terlepas begitu saja dari genggaman.
"Aaakkkhhh!" teriakku begitu menggelegar.
Lalu aku membalikan badan seraya menutup wajah dengan kedua telapak tangan. Bisa kurasakan sosok itu menyentuh bahuku.
Plak!
"Ini Ibu, lah!"
Merasa tepukan itu nyata, segera kusingkirkan telapak tangan yang menutupi wajah. Dan ternyata benar. Yang berada di kamarku itu Ibu. Beliau mengenakan mukena putih yang kusangka itu adalah medi (hantu).
"Ibu ngagetin! Untung aja Nada nggak jantungan. Tumben juga Ibu salat di kamar Nada." Aku mengomel dengan nafas yang masih memburu.
"Iya, Ibu minta maaf sudah buat kamu kaget. Di kamar Ibu lagi berantakan. Mau dirapihin."
"Kalo gitu sekalian kamar Nada juga."
"Lha, ya, rapihin aja sendiri. Nak gadis kok males." Ibu meraih sajadah yang masih terhampar. Kemudian berlalu melewatiku.
"Hmm." Aku mencebik kesal. "Ya udah, kamar Ibu biarin aja. Biar nanti sekalian Nada yang rapihin," imbuhku membuat langkah Ibu terhenti dan membalik badan ke arahku.
__ADS_1
Ibu berlari, lalu menubrukku. Aku merasakan betapa hangat pelukan beliau.
"Ma Syaa Allah! Kalau kamu rajin gini kan Ibu seneng." Ibu menangkup wajahku penuh haru. Padahal menurutku ini hal yang sepele. Hanya saja aku jarang melakukannya. Sesedarhana itu kah kebahagiaan Ibu. Aku jadi ikut melow.
"Maafin Nada ya, Bu. Jarang bantuin Ibu ngerjain pekerjaan rumah." Kali ini gantian aku yang meluk Ibu.
"Iya. Ibu maafin. Udah gih kamu salat dulu. Setelah itu makan, terus minum obat. Baru deh beres-beres," kata Ibu sembari mengurai pelukan.
"Siap, Komandan!" Kurentetkan empat jari di pelipis.
***
Selesai membereskan dua kamar, aku menghempaskan diri di atas kasur empuk milikku. Kuregangkan otot-otot tangan sampai mengeluarkan bunyi.
Ternyata bebenah rumah lumayan melelahkan. Tak bisa dibayangkan betapa letih Ibu setiap hari melakukan pekerjaan rumah yang tidak ada habisnya. Hal ini membuatku berinisiatif ingin memiliki suami orang kaya. Agar kelak bisa sewa ART hingga aku tak perlu repot-repot melakukannya. Halu aja dulu, nikahnya nanti. Kalo Om Gibran sudah melamar. Eak!
Aish! Lagi-lagi pikiranku tertuju sama Om tampan itu. Ya, gimana, ya. Karena emang cuma dia sih yang memenuhi pikiran ini.
Wajahnya yang rupawan, alis tebal, senyum devil, badan atletis, tatapan elangnya, duh jadi nggak sabar, deh.
"Nada ..." Ibu memanggil dengan suara yang amat lemah lembut. Girang banget aku lihat beliau seneng. Katanya Ibu bahagia karena akhirnya anak semata wayangnya ini mau juga bersih-bersih rumah. Besok-besok harus lebih rajin lagi biar makin disayang sama Ibu. Kok jadinya kek caper, yak?
"Iya, Bu." Kuacungkan kedua tangan dan kakiku untuk merubah posisi menjadi duduk.
"Nggak langsung mandi?" Kepala Ibu menyembul dari balik pintu. Di tangan kirinya terdapat piring berisi buah potong. Sedang tangan kanan membawa segelas air putih. Sepertinya beliau mau nyemil di ruang tv.
"Nanti aja. Masih keringetan. Mau kipasan dulu." Gerah, aku melepas baju dan mengarahkan diri di kipas angin berdiri di pojokan.
"Kalo udah kipasan, nanti langsung mandi aja. Biar badannya nggak pada sakit. Baju kotornya bawa. Taruh ke dapur bareng cucian yang lain." Ibu mengingatkan.
Aku menoleh.
"Iya."
"Obatnya jangan lupa diminum."
"Iya, Bu."
__ADS_1
Ibu kemudian berlalu setelah menutup pintu kamarku.